
Jingsy
Salah satu penjaga berlari keluar dari halaman itu untuk mengambil batu darah.
Wuling mnenjadi semakin cemas, karna dia mengetahui kalau pemuda yang berada di depannya itu memanglah kakaknya dan pasti kakaknya mengetabhui kalau dirinya yang sudah mencoba untuk membunuhnya.
"Sial, jika seperti ini maka ayah pasti akan mengetahui kalau dia sebenarnya memang kakak!" gumam Wuling dengan panik.
Tidak lamakemudian penjaga yang bergi sebelumnya kembali dengan membawa sebuah batu merah berbentuk bulat dan menyerahkannya kepada pria berpakaian hijau.
"Baiklah, batu darah sudah ada, silahkan teteskan darahmu di atas batu ini!" ucap pria berpakaian hijau.
Jingsy berjalan mendekati pria berpakaian hijau itu
dan berhenti tepat di hadapannya. Pria berpakaian hijau itu memberikan sebuah pisau kecil dari balik pakaian miliknya dan memberikannya kepada Jingsy.
Jingsy mengambil pisau itu dan menyayat sedikit ujung jarinya, lalu sayatan itu mengeluarkan darah dan segera Jingsy meneteskannya ke batu darah di tangan pria berpakaian hijau.
Saat darah itu menyentuh batu, tidak ada reaksi sama sekali pada batu darah itu. "Tidak ada reaksi!" ucap pria berpakaian hijau.
Jingsy mengerutkan dahinya, dirinya masih ingat kalau pada saat dia masih kecil dan meneteskan darah di batu itu dan batu itu bersinar. Namun kali ini batu itu tidak bersinar. "Hahaha, dasar penipu, semua kebohonganmu sudah terungkap. Penjaga, cepat tangkap orang itu!" Wuling tertawa dengan lantang.
Para penjaga keluarga Zang langsung bergerak mematuhi perintah Wuling dan mengepung
Jingsy. Kepala keluarga Zang hanya bisa melihat semua itu tanpa bisa ikut campur lagi, dirinya
berharap pemuda di depannya itu adalah anaknya, namun pemuda itu tidak bisa menyalakan batu darah yang menjadi pengenal dasar anggota keluarga Zang.
Tidak hanya semua orang, Jingsy sendiri juga sangat terkejut karna tidak bisa menyalakan batu itu dengan darah miliknya. "Kenapa batu itu tidak bisa menyala? apa darah dalam tubuhku sudah berubah?" Jingsy menjadi sedikit panik.
Para penjaga keluarga Zang sudah mengelilinginya dan menodongkan senjata mereka ke arah Jingsy. "Hahaha, penjaga cepat tangkap si penipu itu!"
Tunggu!" teriak Jingsy.
"Ayah, apa kamu benar benar tidak mengenaliku?
Aku ini adalah anakmu, bagaimana bisa kamu tidak mengenaliku?"
Kepala keluarga Zang juga merasa pemuda di depannya itu adalah anaknya, namun sem ua bukti yang diunjukkan tidak menunjukan kalau
dia adalah anaknya.
"Jika kamu adalah anakku, kenapa kamu tidak bisa menyalakan batu ini? Bahkan yang bukan keluarga inti dari keluarga Zang saja bisa menyalakannya, apa kamu bisa menjelaskan itu?"
__ADS_1
"Itu pasti karna batu itu sudah rusak, kita coba dengan menggunakan batu yang lain!" ucap Jingsy.
Kepala keluarga Zang menggelengkan sedikit kepalanya, lalu melukai ujung jarinya hingga mengeluarkan sedikit darah dan meneteskan darah itu ke atas batu darah.
Setelah batu darabh mendapat tetesan darah milik kepala keluarga Zang, batu itu menyala dan memancarkan warna merah darah yang cukup terang.
"Kamu sudah melihatnya, kan? Batu ini tidak rusak sama sekali! Apa kau masih memiliki alasan lain?" tanya kepala keluarga Zang.
Jingsy mengepalkan tangannya dengan erat, dirinya tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilotarkan oleh ayahnya, Jingsy rencananya ingin
membuktikan dirinya dengan menggunakan batu darah, namun sekarang rencana itu gagal dan sekarang dirinya tidak memiliki rencana cadangan lain.
Di saat Jingsy sudah putus asa untuk membuktikan dirinya, sebuah teriakan datang dari arah pintu masuk halaman.
"Apa yang kalian lakukan pada Jingsy?!"
Alis Jingsy mengkerut saat mendengar suara teriakan itu, karna dirinya sangat mengenal suara itu.
"Mei mei!" Ucap Jingsy.
Dari arah pintu masuk halaman, seorang wanita berpakaian merah berjalan masuk ke dalam halaman dan melewati semua orang hingga berhenti di depan Jingsy. Wanita itu menatap
Jingsy dari atas sampai bawah.
"Penipu?"
Mei Mei berbalik menghadap Wuling dan nenunjuk ke arah wajahnya, "Ke mana matamu, studah jelas jelas orang ini adalah kakak Jingsy dan kau mengatakan kalau dirinya adalah seorang penipu?"
"Mei Mei, kau tidak tahu apa yang telah terjadi, yang jelas orang itu adalah seorang penipu! Jika dia memang kakak Panji, maka coba nyalakan batu darah!" Bantah Wuling.
Mei Mei berbalik menghadap Jingsy, "Kakak, segera nyalakan batu itu dan bungkam mulut mereka semua!"
Mendengar perkataan Mei Mei membuat Jingsy menundukkan kepala dan diam, karna dirinya tahu akan percuma saja melakukan itu karna hasilnya akan tetap sama saja seperti sebelumnya.
"Maaf Mei Mei, aku tidak bisa melakukannya!" Ucap Jingsy. "Apa?"
"Hahah, percuma saja kau membujuknya karna dirinya sudah mencoba melakukannya dan tidak
berhasil menyalakan batu ini!" Wuling tertawa dengan lantang.
Mei Mei melihat wajah Jingsy yang suram. Mei Mei
mengepalkan tangannya dengan erat dan berbalik melindungi Jingsy. "Jangan sentuh dia! Kalian semua tidak boleh mendekatinya!" "Mei Mei!" Ucap Jingsy terkejut. "Mei Mei, cepat menyingkir dari sana sekarang juga atau kau akan terluka!" Teriak Wuling.
__ADS_1
"Mei Mei ini adalah urusan keluarga ku, kau tidak boleh ikut campur dalam hal ini. Cepat menjauh dari sana!" Perintah kepala keluarga Zang. "Tidak! Kak Jingsy adalah tunangan ku, jadi masalahnya adalah masalahku juga.
Jika kalian ingin menangkapnya, langkahi aku dulu!"
Wajah Wuling langsung menekuk mendengar perkataan yang diucapkan oleh Mei Mei. "Baiklah kalau begitu, maka. Jangan salahkan aku jika bertindak dengan kasar!"
Wuling mempergunakan gerakan seni bela diinya dan langsung mendekati Mei Mei.
Tidak hanya diam, Mei Mei juga mengeluarkan seni bela dirinya dan melompat ke depan untuk bertarung dengan Wuling,
Wuling mengeluarkan seni bela diri tangan kosongnya begitu juga dengan Mei Mei. "Tapak batu gunung!"
Wuling menggunakan serangan telapak tangan miliknya ke arah perut Mei Mei dan membuat perempuan itu mundur beberapa meter ke belakang. "Mei Mei!" Teriak Jingsy.
Jingsy mencoba melangkahkan kakinya untuk mendekat dan membantu Mei Mei
, namun belum sempat ia melangkah, para penjaga keluarga Zang langsung menodongnya dengan senjata mereka. "Jangan menghalangiku!" Ucap Jingsy.
Perkataan Jingsy tidak didengarkan oleh para
penjaga yang menodongkan senjata.
Sial, kalian masih saja tidak mendengarkan perkataanku!"
Asap hitam keluar dari dalam tubuhnya dan langsung mengenai senjata para penjaga keluarga Zang
hanya dalam waktu singkat semua senjata penjaga berubah menjadi debu dan menghilang ditiup angin.
Melihat para penjaga yang teralihkan, Jingsy langsung berlari dari kepungan mereka, lalu menuju ke arah Mei Mei dan Wuling yang sedang bertarung.
Wuling yang sedang bertarung dengan Mei Mei terus menerus menyerangnya hingga membuat
Mei Mei tersudut, saat Wuling akan memberikan serangan terkuat miliknya pada Mei Mei, Jingsy datang dan menahannya
dengan hanya menggunakan satu tangan. "Apa? Kau bisa menahan serangan ku?!" Wuling terkejut melihat Panji bisa menahan serangan terkuat miliknya hanya dengan satu tangan. "Dulu aku sangat iri padamu yang bisa menjadi
seorang pendekar, tapi setelah merasakan kekuatan mu, aku merasa sangat bodoh untuk iri padamu!"
Jingsy mencengkram dengan erat tangan Wuling lalu memberikan sebuah pukulan ke perutnya. "Ohok....
Wuling terpental mundur hingga terguling di atas tanah.
Jingsy melirik ayahnya namun ayahnya hanya melihat dan tidak mengatakan apapun atau bergerak menyerangnya. Melihat itu, Jingsy merasa aneh namun dirinya lebih memilih untuk mendekati Mei Mei lebih dulu.
__ADS_1
.......Bersambung.....