Putra Naga

Putra Naga
Bab 13 Pemuda Yang Menarik


__ADS_3

"Guru, dia adalah murid lembah teratai hitam juga, aku tadi siang bertemu dengannya saat mencari Oyen!"


Pria tua itu mengelus dagunya dan menatap Jingsy dari atas sampai bawah, kemudian bertanya. "Ternyata kamu murid lembah juga, lalu siapa yang menjadi gurumu? Atau kau belum memiliki seorang guru, tapi tidak mungkin bisa masuk ke dalam lembah jika tidak memiliki seorang gru."


"Maaf senior, guruku adalah tetua Ma!" Jawab Jingsy. Pria tua itu menaikan sedikit alisnya, "Tetua Ma kau bilang? Tidak mungkin orang itu membawa seorang murid di bawahnya, apa kau mau membohongi ku?!" Tatapan tajam dikeluarkan oleh pria itu dan langsung ditunjukkan ke Jingsy.


Jingsy merasakan tubuhnya seperti membeku di hadapan tatapan tajam pria tua di depannya. "Guru, apa yang ia katakan memang benar, aku tadi siang melihatnya di depan rumah tetua Ma.


Juga saat aku ke aula aku mendengar kalau tetua Ma menerima seorang murid di bawahnya!" Pria tua yang duduk di dekat api unggun itu menurunkan tatapannya. Jingsy merasakan tubuhnya kembali normal setelah pria tua itu menurunkan tatapannya.


Pria tua itu mengangkat tangannya dan memberi isyarat untuk Jingsy datang mendekatinya, segera Jingsy berjalan mendekati pria tua itu, namun


Jingsy tidak berani untuk menatap matanya dan terus menundukkan kepala.


Saat sudah dekat, pria tua itu meminta Jingsy untuk duduk dan menanyakan pada Jingsy bagaimana dirinya bisa datang ke tempat ini. Jingsy menjawab semuanya dengan jujur, tapi Jingsy tidak mengatakan tentang danau yang ia temui sebelumnya.


Jingsy merasa ada yang aneh dengan danau itu karna memancarkan aroma yang sangat familiar untuk hidungnya, tapi Jingsy tidak mengetahui aroma itu berasal dari apa.


"Hmm, jadi kau bisa sampai ke sini murni karna tersesat dan kamu tidak mengetahui jalan kembali ke tempat tinggalmu." Pria tua itu mengelus dagunya. "Guru, apa kau tidak menyuruhnya untuk tidur di sini bersama dengan kita? Setelah besok pagi aku akan membawanya kembali ke rumah tetua Ma."


"Hmm, baiklah, aku tidak keberatan, hanya saja kau perlu menanyakan itu ke orangnya langsung!" Pria tua itu menoleh ke arah Jingsy. "Yaah, tidak masalah bagiku untuk tinggal selama satu malam, asal bisa kembali ke rumah guru!"


"Karna kau sudah setuju, kau bisa memilih tempat sesukamu untuk tidur, aku akan tetap terjaga untuk menjaga kalian berdua tidur dengan nyenyak!"


Jingsy menganggukkan kepalanya lalu berbalik dan duduk cukup jauh dari api unggun. Setelah duduk, Jingsy langsung melakukan latihan meditasi untuk memperbesar jalur meridian di dadanya.

__ADS_1


Wanita dan pria tua itu memperhatikan apa yang dilakukan oleh Jingsyi, pria tua itu menganggukan saat melihat Jingsy melakukan meditasi. "Sialan si tua itu, ternyata dia mendapatkan seorang murid yang terampil!" Gumamnya dengan kesal.


"Apa ada sesuatu guru? Tidak biasanya kamu terlihat seperti ini?" Tanya wanita di dekatnya. "Tidak ada! Apa kamu bisa melakukan meditasi sepertinya, mungkin kamu bisa menjadi lebih kuat dengan caranya!"


"Tentu guru, aku juga akan melakukannya!"


Wanita cantik itu menghembus nafas panjang, lalu mulai melakukan latihan meditasi seperti


yang dilakukan oleh Jingsy, namun meditasi yang digunakan oleh wanita cantik itu berbeda dengan cara meditasi yang digunakan oleh Jingsy.


Panji menggunakan latihan meditasinya dengan cara tetua Ma yang kasar dan dipenuhi dengan kekuatan, sedangkan wanita cantik itu tenang dan lembut.


Pria yang menjadi guru wanita itu melihat Jingsy dan muridnya yang sedang melakukan meditasi, sedikit senyuman terlihat di wajahnya. "Tetua Ma, murid yang kamu miliki sedikit unik!" Gumam pria tua itu.


Jingsy dan wanita cantik melakukan meditasi sampai melupakan sekitar mereka, karna tingkat konsentrasi mereka yang tinggi terhadap meditasi. Mereka melakukan meditasi sampai berjam jam bahkan sampai matahari terbit.


Panji membuka matanya perlahan dan menghembuskan nafas panjang. Jingsy melihat ke sampingnya dan melihat wanita cantik itu masih


melakukan meditasi. "Apa dia tidak lelah melakukan meditasi sepanjang malam?" Gumam Jingsy. "Tenang saja, dia tidak akan kelelahan hanya karna meditasi satu malam."


Jingsy melihat ke sumber suara di


belakangnya dan melihat pria tua yang tadi malam. "Senior!" "Pantas saja tetua Ma menjadikan mu sebagai muridnya, kamu memiliki sesuatu yang unik di dalam dirimu!" "Terima kasih senior atas pujiannya!"


"Kau mau kembali ke tempat tinggalmu kan? Aku akan mengantarmu, muridku sepertinya masih berada ditengah meditasinya!" "Maaf sudah merepotkan anda senior!" jawab

__ADS_1


Jingsy seraya menganggukan kepalanya.


"Hahaha, tidak apa apa. Kebetulan aku juga ada beberapa urusan dengan gurumu.


Jingsy pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati pria tua itu, lalu saat Jingsy dan pria tua itu akan pergi dari tempat itu,


terdengar suara teriakan dari belakang mereka berdua. "Tunggu!" Jingsy dan pria tua itu berbalik dan melihat wanita cantik itu sudah mengakhiri meditasinya.


"Guru, aku juga mau ikut! Aku sudah mengatakan akan mengantarnya ke tempat ke tetua Ma kembali!" "Baiklah, kau boleh ikut!" Wanita itu berdiri dan dari atas pohon seekor kucing oranye turun dan berjalan bersama dengan wanita itu. "Kita akan berangkat sekarang, ayok!" ucap pria tua itu.


Jingsy dan si wanita dengan kucingnya pun berjalan kembali masuk ke dalam hutan. Saat sedang berjalan, wanita cantik itu terus menatap


Jingsy di setiap gerakannya, merasakan ada tatapan yang mengarah pada dirinya, membuat Jingsy merasa tidak nyaman. "Maaf, kenapa kamu terus menatapku seperti itu? apa ada sesuatu yang salah padaku?" tanya Jingsy. "Hanabi!" "Huh?" balas Jingsy kebingungan.


"Namaku Hanabi, kamu bisa memanggilku dengan itu." "Ah, namaku Jingsy, salam kenal!" Hanabi tersenyum dan menganggukan kepalanya, kemudian kembali berkata, "Guruku juga seorang tetua di lembah, murid lain biasa menyebutnya dengan tetua Han. "Jingsy, pedang yang kamu gunakan sangat usang,


kenapa kamu tidak gunakan pedang yang lain saja?" Jingsy menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, "Tidak, pedang ini sudah sangat berjasa dalam hidupku,


sudah beberapa kali pedang ini menyelamatkan nyawaku. Juga pedang ini tidak lemah seperti kelihatannya, ketajaman pedang ini sangat luar biasa!" Jingsy melihat ke arah salah satu batang pohon, lalu Jingsy mengeluarkan pedang miliknya dan menebas pohon itu dengan menggunakan setengah kekuatan miliknya.


Ayunan pedang Jingsy melewati pohon dan meninggalkan bekas tebasan yang sangat dalam. Hanabi dan tetua Han langsung terkejut dengan kekuatan tebasan pedang Jingsy yang hampir memoton setengah dari


batang pohon. "Anak ini kira kira masih berada di pendekar tubuh lapisan kedua, tapi kekuatan ayunan pedangnya hampir menyamai pendekar tubuh lapisan keenam. Menarik, seperti yang diduga dari murid tetua Ma!" tetua Han bergumam


seraya mengelus dagunya. "Jingsy, kekuatan ayunan pedangmu sangat kuat, sampai bisa membuat pohon itu hampir terpotong setengah. Apa kau sudah berada di ranah pendekar tubuh lapisan kelima?"

__ADS_1


......Bersambung.....


__ADS_2