Putra Naga

Putra Naga
Bab 7 Tidak diakui


__ADS_3

oleh keluarga sendiri "T- Tuan muda Jingsy!" ucap kedua penjaga tidak percaya.


Jingsy menghiraukan kedua penjaga itu dan tetap berjalan masuk ke dalam kediaman keluarga. "Tunggu! Anda tidak boleh masuk ke dalam!" teriak si penjaga.


Jingsy berhenti dan berbalik menghadap ke arah kedua penjaga itu. "Aku adalah tuan muda di kediaman ini, dan kalian yang hanya seorang penjaga menyuruhku untuk berhenti? apa maksudnya itu?"


Keuda penjaga itu langsung terduduk di tanah karna tekanan yang dikeluarkan oleh Jingsy,


segera berbalik dan kembali berjalan masuk menuju ke dalam kediaman keluarganya. "Apa dia benar tuan muda kedua? dia menjadi


sangat berbeda dari yang dulu!


Bukankah dia itu orang yang cacat? bagaimana bisa dia memiliki tekanan yang kuat seperti itu?" ucap penjaga satunya.


Di saat kedua penjaga itu saling berbicara, sekelebat bayangan hitam lewat begitu saja di atas kepala mereka tanpa mereka ketahui.


Kota Bawang putih merupakan sebuah kota yang berada di wilayah kerajaan Hu. Di dalam kota


Bawang putih sendiri, terdapat 4 keluarga yang memiliki kekuatan besar yang mengatur kota agar bisa berjalan dengan baik. 4 Keluarga itu adalah, keluarga Zang, Keluarga Ming, Keluarga Chen, dan keluarga Mei.


Ke empat keluarga itu memiliki wilayah kekuasaan masing masing di dalam kota Bawang putih, akan tetapi dari keempat keluarga itu, keluarga Zang lah yang memiliki kekuatan terbesar dan secara tak tertulis menjadi pemimpin di kota Bawang putih.


Kediaman keluarga Zang yang memiliki penjagaan yang kuat dengan setiap sudut kediaman memiliki penjga. Namun Jingsy


berjalan dengan santai masuk ke dalam kediaman keluarga Zang, semua penjaga yang melihat itinya langsung jatuh ke atas tanah dengan wajah terkejut.


Jingsy terus berjalan ke dalam kediaman menuju kamar miliknya. Jingsy berhenti di depan halaman miliknya, terlihat tempat itu masih bersih dan terawat walau dirinya sudah menghilang selama berminggu minggu.

__ADS_1


Jingsy berjalan masuk ke halamannya dan berhenti tepat di depan bangunan miliknya. "Aku merasa seperti sudah sangat lama tidak melihat bangunan ini!"


Jingsy masuk ke dalam bangunan itu dan melihat semua peralatan di dalamnya tersusun dengan rapih, bahkan tidak memiliki debu sedikitpun. "Siapa yang merawat dan membersihakn tempat ini saat aku tidak ada? Para pelayanku tidak mungkin melakukannya!"


Saat Jingsy sedang melihat semua peralatan miliknya, terdengar suara keributan di luar dan suara seseorang yang meneriaki namanya dengan


keras. "Siapa yang meneriaki namaku itu?"


Jingsy meletakan peralatan miliknya dan berjalan keluar untuk melihat orang yang meneriaki namanya. Saat keluar, Jingsy melihat belasan penjaga dan dua orang pelayan yang sangat ia kenali, karna dua pelayan itu adalah bawahan adiknya yang membuangnya ke dalam jurang sebelumnya. "Apa yang kalian semua lakukan di halamanku ini?" tanya Jingsy. "Halamanmu? ternyata penipu ini masih bisa bersikap sombong tuan muda Jingsy sudah lama mati dan kamu ingin mengambil keuntungan dari itu!" teriak salah satu pelayan.


Jingsy melirik pelayan yang berbicara itu dan masih ingat kalau suara orang itu sama persis dengan orang yang melemparnya ke jurang.


Jingsy tersenyum kecil, "Sudah mati? Lalu apa buktinya? apa kamu bisa memberikannya?" "T- Tentu saja ada! Tuan muda Wuling sudah


menemukan tubuh tuan muda Jingsy yang hancur karna diserang oleh monster hutan!" teriak pelayan itu dengan sedikit mengeluarkan keringat. "Apa kau yakin itu tubuh tuan muda yang kau katakan? bagaimana mungkin kalian mengatakan kalau itu adalah tuan muda di saat kalian sendiri tidak mengenalinya, bisa saja itu tubuh orang lain!"


Para penjaga yang mendengar itu menganggukkan kepala mereka dan merasa aneh dengan apa yang terjadi, ditambah dengan perkataan Jingsy bisa menjadi kebenaran. Dua pelayan itu mulai panik karna tanggapan dari Jingsy yang tidak bisa mereka patahkan. "Aku sendiri yang menemukan mayat itu, tidak mungkin aku bisa salah melakukannya! Kakakku memang sudah mati!" Dari belakang kerumunan para penjaga seseorang datang.


"Siapa kau? Kakakku sudah lama mati dan tidak mungkin dia bangkit lagi dalam kuburnya!" teriak pemuda itu.


Jingsy menatap pemuda berpakaian kuning itu lalu tertawa. Pemuda berpakaian kuning dan dua pelayan itu mengerutkan dahi mereka. "Apa yang kau tertawakan?" ucap pemuda berpakaian kuning. "Sedikit lucu melihat wajahmu ketika serius, aku masih ingat ketika kau berlari sambil memanggil namaku. Namun sepertinya kau sudah tumbuh dewasa dengan cepat!"


Pemuda berpakaian kuning itu mengepalkan tangannya dengan erat dan menatap Jingsy dengan dingin. "Wuling, sebagai adikku yang tinggal bersamaku selama belasan tahun, kamu masih tidak bisa mengenaliku? terlebih dua pelayanmu itu." "Kau!"


Wuling langsung melompat untuk menyerang


Jingsy agar dirinya tidak berbicara lebih banyak

__ADS_1


lagi dan membongkar rencana. "BERHENTI!"


Suara teriakan yang penuh dengan energi itu membuat telinga semua orang kesakitan. Wuling yang mencoba untuk menyerang Jingsy langsung berhenti dan menutup kedua telinganya dengan tangan.


Setelah suara itu menghilang, seorang pria berkaian hijau berjalan masuk ke dalam halaman


Jingsy. Pria itu memiliki tubuh tegap dan wajah yang berwibawa. Semua penjaga langsung berlutut setelah melihat pria itu. "Hormat kepada kepala keluarga!"


Wuling berbalik dan melihat ayahnya berjalan mendekatinya. "Ayah!" ucap Wuling terlihat cemas.


Pria berpakaian hijau itu berhenti dan menatap


Jingsy. "Mayat waktu itu memanglah anakku, aku sudah memeriksanya dan memang benar itu adalah


anakku!"


Jingsy langsung terkejut mendengar perkataan ayahnya. "Tapi, kau memiliki bentuk tubuh dan wajah dari anakku, namun aura milikmu tidaklah sama seperti milik anakku!"


Memang benar apa yang dikatakan oleh pria berpakaian hijau itu. Aura milik Jingsy sudah tidak sama lagi setelah mendapatkan asap hitam dan itu mengubah keseluruhan aura miliknya menjadi lebih gelap dari dirinya yang dulu. "Ternyata kau ini benar seorang penipu! Penjaga, cepat tangkap orang itu!" teriak Wuling


Pria berpakaian hijau mengangkat sebelah tangannya untuk membuat para penjaga tidak bergerak. "Sebelum aku menangkapmu, apa ada yang ingin kau katakan?" "Ayah! Apa yang kamu lakukan? sudah jelas dia ini seorang penipu, kenapa harus bertanya pendapatnya lagi?" Wuling menjadi panik


Pria berpakian hijau itu mengabaikan Wuling dan hanya menatap Jingsy yang berada di depannya.


Wuling yang diabaikan menjadi marah dan menatap Jingsy dengan dingin.


Melihat semua tatapan tertuju padanya, Jingsy hanya tersenyum kecil. Dirinya tidak pernah menyangka kalau keluarganya sendiri tidak ada yang mengenalinya bahkan ayahnya sendiri! "Aku tidak ingin mengatakan apapun, aku tanya bisa membuktikan perkataanku dengan darah di dalam tubuh ini!"

__ADS_1


Pria berpaikan hijau itu mengerutkan dahinya, "Kau benar, dengan menggunakan batu darah bisa membuktikan apakah perkataanmu itu benar atau tidak. Penjaga, cepat ambillkan batu darah!" perintah pria berpakaian hijau


.....Bersambung......


__ADS_2