
Bosan aku tinggal di Istana, ya begini-begini saja. Tak ada hiburan. Pokoknya aku harus keluar dari Istana apapun itu, apa nanti malam saja aku menyelinap keluar Istana. Atau aku menyamar menjadi pelayan agar aku bisa keluar Istana kata hatinya Putri Via.
Tetapi aku kasihan dengan Ibu Ratu, entar khawatir kalau aku tidak ada di Istana. Ibu Ratu tahu kalau aku bersikeras mau keluar Istana. Kalau Raja dengan selir-selirnya.
Tengah malam sekitar jam 00.00 Putri Via menyelinap ke tempat laundry pakaian untuk meminjam pakaian pelayan yang tidak terpakai. Lalu Putri Via memakai pakaian pelayan dengan memakai topi agar tidak diketahui para prajurit yang menjaga pintu pagar.
Penyamaran Putri Via sebagai pelayan berhasil, lalu Putri Via berjalan dari lorong ke lorong menuju pintu pagar Istana.
Sampailah di pintu pagar Istana.
Prajurit menghampiri pelayan itu.
"prajurit, tolong aku mau pulang karena anakku sedang sakit keras" Kata pelayan itu.
"Iya, hati-hati. Besok kalau anaknya sembuh harus kembali ya" Jawab prajurit.
"Iya" Kata pelayan itu.
Prajuritnya tidak tahu kalau pelayan itu adalah Putri Raja. Putri Via bergegas keluar Istana. Padahal hari sudah malam sekali. Lalu berjalan melewati rumah penduduk. Lalu beristirahat di pos dekat sekitar Istana. Besoknya jam 06.00 pagi Putri Via melanjutkan perjalanannya.
Dengan asyik melihat-melihat pasar, permukiman penduduk lalu melewati hutan.
Hutan yang luas, banyak pepohonan, rumput liar, udara sejuk sekali di pagi hari, burung-burung beterbangan berkicau. Putri Via berlari-lari kecil.
Tiba-tiba dari kejauhan tampak pria berkuda.
" Hey awas... Minggir.. Minggir...
" Kamu tertabrak kudaku. Ini kudaku lagi marah"Teriak Anton.
Brak... Brak.... Brak... Mereka tabrakan, hingga Putri Via jatuh tepat pada badannya Anton. Anton memandang wajah Putri Via.
Cantik sekali gadis ini kata hatinya Anton.
"Eh, lepasin tanganmu" Kata Putri Via.
Lalu mereka beranjak berdiri.
"Hey, aku kan tadi berteriak, apa kamu tidak mendengarkan" Tanya Anton.
"Tidak, aku hanya mendengar burung-burung berkicau" Jawab Putri Via
"Waduh kepalaku sakit nih" Kata Putri Via.
"Rumah kamu dimana, akan ku antar pulang" Kata Anton.
"Aku tidak punya rumah, aku sang penggembara dari desa ke desa lalu dari kota ke kota" Jawab Putri Via.
Lalu Anton mengajak Putri Via ke rumahnya.
Sampailah di rumahnya Anton yang sederhana. Rumah yang beratapkan kayu, lantai hanya tanah.
"Ibu" Panggil Anton
"Ini ada tamu jauh" Kata Anton.
__ADS_1
Ibunya Anton menghampiri mereka berdua
Lalu Putri Via berjabatan tangan dengan Ibunya Anton.
"Cantik sekali kamu, apakah kamu pacarnya Anton" Tanya Ibunya Anton.
"Iya Ibu" Jawab Putri Via.
Anton hanya melongo mau membantah apa yang diomongin Putri Via.
"Namamu siapa sayang" Tanya Ibunya Anton.
"Aku Via" Jawab Putri Via.
Ibunya Anton menyiapkan minuman dan kue.
"Hey, kenapa kamu bilang kalau kita pacaran"? Kita tidak pacaran, kita baru kenal tadi"Tanya Anton.
"Diamlah agar aku bisa tinggal di rumahmu" Kata Putri Via.
"Oh jadi kamu mau numpang hidup denganku ya" Tidak ada kamar untukmu" Kata Anton.
"Aku tinggal di kamarmu" Jawab Putri Via.
Malam harinya....
Putri Via langsung menuju ke kamarnya Antony.
"Hey, aku sedang berpakaian nih" Kata Anton.
Putri Via lalu keluar dari kamar tersebut.
Dasar gadis, tidak tahu ada orang di kamar nyelonong masuk saja kata hatinya Anton.
Putri Via pun ke kamar lagi.
"Oh kamu lagi, kamarmu bukan disini, kamarmu tidur saja di ruang tamu" Kata Anton.
"Tidak mau, kamu sajalah yang tidur di ruang tamu, lalu Putri Via duduk di tempat tidur dan menggeletakkan badannya di tempat tidur.
" Aku capek mau tidur" Kata Putri Via.
Terasa Putri Via tertidur pulas.
Anton hanya melihat Putri Via, Anton mendekati wajah Putri Via.
Cantik sekali kamu, andai kamu pacarku yang sesungguhnya kata hatinya Anton.
Anton yang penasaran mendekati wajah Putri Via dan mengecup kening Via.
Lalu Anton keluar dari kamar tersebut. Istirahat di ruang tamu.
Besoknya Putri Via bangun pagi sekali. Lalu melihat ke dapur. Dapurnya sederhana ada kayu bakar untuk memasak. Putri Via melihat-lihat.
Putri Via pergi ke pasar dengan menutup sebagian wajahnya agar tidak ketahuan kalau dia adalah Putri Raja.
__ADS_1
Putri Via berbelanja banyak untuk Ibunya Anton. Sampailah di rumah Anton.
"Via, banyak sekali apa yang kamu bawa" Tanya Ibunya Anton.
"Ini masak sajalah Ibu" Kata Putri Via.
"Hey, jangan menyuruh Ibu, kamu bantu masak juga" Kata Putri Via.
Ibunya Anton dan Putri Via memasak di dapur. Banyak sekali yang mereka masak.
Selesai sudah memasak. Mereka bertiga pun makan.
Ibu, ini enak banget ya masakan Ibu"Tanya Anton.
"Lho itu yang masak Via" Jawab Ibunya Anton.
Anton melirik Via.
"Ehm mana mungkin dia yang masak, mana mungkin seenak ini" Kata Anton.
"Ini seperti masakan orang Istana, karena dulu aku pernah dipanggil Raja" Kata Anton.
"Kamu mungkin pernah tinggal di Istana, atau makanya kamu cantik sekali jangan-jangan kamu Putri Raja yang kabur dari Istana" Tanya Anton.
Putri Via, kenapa Anton bisa nebak padahal hanya nebak masakan sampai terhubung dengan kecantikanku.
"Iya sepertinya kamu bukan sang penggembara" Kata Ibunya Anton.
"Karena aku lihat kamu sopan dan santun cara berjalanmu, cara berpakaian meskipun sederhana pakaianmu, cara makan, kalau kamu pelayan di Istana tidak mungkin secantik ini" Kata Anton.
Dan Ibu menemukan ini di kamar mandi, ini logo Istana bernama Putri Via
Ibu menyodorkan logo yang bertulis Putri Via.
Putri Via hanya terdiam, lalu menghela nafas sejenak.
"Maaf Ibu, aku memang Putri Via dari Istana, aku hanya ingin keluar Istana untuk melihat-lihat kegiatan rakyat-rakyat apa saja dan Pemandangan di luar Istana" Kata Putri Via.
Anton melihat Putri Via dengan tatapan yang tajam. Makanya kamu cantik sekali. Kata hatinya Anton.
Anton yang heran dan berhalusinasi seorang Putri Via tidur di kamarku, andai kamu menjadi belahan jiwaku. Kata hatinya Anton.
Masa aku jatuh hati dengan seseorang Putri Raja. Kita derajatnya berbeda. Apakah kamu mempunyai perasaan yang sama denganku. Andai kamu bukan Putri. Aku mau menikah dengan kamu. Kata hatinya Anton.
"Anton... Anton... " Panggil Ibunya.
"Iya, Ibu" Jawab Anton.
"Ajaklah Putri Via jalan-jalan" Kata Ibunya.
Lalu Anton mengajak Putri Via jalan-jalan. Berjalan melewati taman desa, kebun, pasar, hutan.
Wajah Putri Via tersenyum puas. Melihat semuanya, menghirup udara segar, menikmati keindahan alam.
Anton menatap sang Putri.
__ADS_1