
Tina segera dilarikan ke rumah sakit terdekat setelah Gunawan tiba di rumah. Sepanjang jalan, Alana menangis sambil memeluk Tina karena ia takut terjadi apa-apa pada kakaknya. "Ayah, Tina kenapa?" tanya Tiwi yang baru datang dengan tergopoh-gopoh. "Dari mana saja kamu??? Sampai anak sendiri sakit tidak tahu!!!" hardik Gunawan yang merasa jengkel dengan Tiwi. "Tadi bunda habis arisan ya?" ujar Tiwi pelan. "Gak bisa ya sehari gak kluyuran???" umpat Gunawan kesal. Tiwi tak menjawab ucapan suaminya, ia hanya diam dan sempat melirik sebentar ke Alana dengan pandangan sinis. Dalam hatinya, ia merasa tidak senang karena Gunawan memakinya di depan Alana.
Setelah ditangani oleh dokter, kondisi Tina lumayan membaik, tetapi ia tetap harus diharuskan menginap untuk menyembuhkan sakitnya. Gana baru datang dengan perasaan yang cemas setelah dikabari Alana bahwa Tina sakit dan dibawa ke rumah sakit. "Alana, gimana kondisi Tina?" tanya Gana. "Alhamdulillah, Kak Tina sudah baikan, kak. Ayah dan Bunda sedang melihat kakak," ucap Alana. "Harus gantian ya yang masuk ruangan?" tanya Gana. "Iya, kak, nanti kalau Ayah dan Bunda sudah keluar, gantian kita yang masuk ya, kak?" ujar Alana. Iya, kasihan Tina pasti dia sangat tertekan dengan omongan Bunda kemarin malam," kata Gana sambil menerawang mengingat kejadian kemarin.
"Klakk," pintu dibuka, Tiwi dan Gunawan keluar dari ruangan itu; terlihat wajah Gunawan yang terlihat lebih baik daripada tadi ketika baru datang ke sini. "Ayo, kak," ajak Alana, yang langsung berdiri karena ia sudah tidak sabar untuk menemui Tina. Alana dan Gana masuk melihat mereka Tina langsung menangis, Gana langsung memeluknya dan menenangkannya. "Kak Tina cepat sembuh yaa? Jangan begini, Alana sedih," ucap Alana pelan. Tina hanya mengangguk dan memegang tangan Alana.
__ADS_1
Tak lama kemudian, perawat datang untuk mengurus Tina yang akan dipindahkan ke ruangan karena posisi saat ini masih ada di ruang IGD. "Ayah siapa yang akan menjaga Tina di sini?" gumam Tina pelan. "Tina mau dengan siapa?" jawab Gunawan sambil mengelus rambut anaknya. "Mau dengan Alana dan kak Gana saja, Ayah, pinta Tina, ia masih merasa malas dengan Tiwi, apalagi justru Alana yang lebih memperhatikan ia." "Tina, biar Bunda saja yang jaga kamu, kakak Khan kuliah, dan dia juga sekolah," ujar Tiwi, melirik sadis Alana. "Gak papa Bun, biar kita saja. Nanti Gana bisa ambil kuliah sore, jadi pas Alana masih sekolah, Gana yang jaga Tina. Nanti sepulang sekolah, Alana langsung kemari. Saat ini, yang penting Tina sehat dulu, jadi lebih baik apa mau Tina kita turuti dulu," ucap Gana. "Yaa, sudah kalau begitu, apa mau Tina saja yang penting kamu cepat sehat ya nak," sahut Tiwi tersenyum kecut. "Alana, gak papa kalau harus menunggu kak Tina di rumah sakit?" tanya Gunawan. "Gak papa, Ayah. Justru Alana senang, ya," jawab Alana. "Yaa, sudah kita pulang dulu yuk, nak. Kita ambil barang-barang yang kamu butuhkan di sini. Gana sama Bunda jaga Tina dulu ya di sini," ucap Gunawan.
Sudah tiga hari Tina dirawat di sini. Dokter bilang kemungkinan besok ia sudah bisa pulang. Alana begitu telaten mengurus Tina. "Kak, ayok sehat biar cepat pulang," ucap Alana sambil memijit kaki Tina. "Kakak udah sehat kok. Alana kira-kira Aldo marah gak ya sama kakak? Jangan-jangan dia udah gak mau berteman sama Kaka," ucap Tina sedih. "Kak Tina gak usah khawatir. Kemarin Alana sempat cerita ke kak Adrian, lalu kak Adrian ngomong ke kak Aldo. Katanya, kak Aldo biasa aja, kak. Dia bisa memahami Bunda dan gak marah sama sekali ke kak Tina," ucap Alana menerangkan.
"Benerkah, Alana?" ujar Tina bahagia. "Iya, ini Kak Adrian lagi kesini mau jenguk kakak. Nanti Kakak bisa tanya sendiri. Tapi kakak makan dulu ya? Bujuk Alana.
__ADS_1
Klakkk, terdengar suara pintu dibuka. Seraut wajah tampan menyembul; ternyata Adrian yang datang. "Hallo, Tina? Gimana keadaan kamu?" sapa Adrian. "Hallo, Adrian. Ini juga udah mau sembuh," ucap Tina. "Ada yang mau ketemu sama kamu, Tina? Pasti kamu suka," ujar Adrian. "Siapa?" tanya Tina bingung.
Alana dan Adrian tersenyum-senyum menggoda Tina yang kebingungan. "Hai, Tina?" sapa Aldo dengan senyum manisnya. "Aldoo!!!" mata Tina membulat melihat kedatangan seseorang yang sangat diharapkannya. Aldo mendekati Tina dan memberikan boneka panda yang sedang memegang bunga, berwarna pink. "Cepat sembuh ya, biar kita bisa belajar bareng lagi," ucap Aldo lembut. "Aldo, maafkan aku... aku..." "Sudah, Tina. Gak usah dibahas masalah itu ya? Aku gak papa kok. Aku juga gak marah," ujar Aldo, memotong perkataan Tina.
Kedatangan Aldo membuat Tina sangat bahagia dan bersemangat kembali. Senyum dan binar mata bahagianya kembali lagi. Mereka berempat sedang bersenda gurau ketika ada yang datang. "Adrian? Kamu juga tengok Tina ya?" kata Catarina tiba-tiba. Dia masuk bersama Tiwi dan teman sosialita lainnya. "Iya, Mami. Mami ngapain disini?" sahut Adrian yang malas melihat kedatangan Maminya. "Mau nengok Tina lah!!! Pertanyaan aneh," ujar Catarina. "Wah, wah. Jeng Catarina sama Jeng Tiwi mau besanan yaaa? Kok anak-anaknya udah di sini?" celetuk salah satu ibu sosialita lainnya. "Doain aja, Jeng," ujar Tiwi tersipu malu. Dia sengaja berkata seperti itu sambil melirik Aldo sinis. "Iya, Tante. Karena saya pacarnya Alana, jadi otomatis nanti nya Mami saya akan besanan sama Tante Tiwi," ucap Adrian tegas, yang membuat semua orang menatapnya.
__ADS_1
"Dankalau pacar saya ini," sahut Tina menambahi sambil menunjuk Aldo. Hening menyelimuti ruangan itu. Wajah Tiwi merah padam mendengar perkataan Tina anaknya. Benar-benar anak ini harus dikasih pelajaran!!! Umpat Tiwi dalam hati. Jantung Alana berdetak kencang. Saat ini dia betul-betul panik karena dia tau pasti nanti dirinya akan menjadi sasaran kemarahan Tiwi. Adrian menggenggam tangan Alana mencoba menenangkan nya karena dia tahu betul apa yang ada dipikiran kekasihnya.