
Sejak suaminya memergoki dirinya di rumah sakit sedang berurusan dengan dokter Audrey, kini Elma lebih hati-hati untuk mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Berbeda dengan Darren yang lebih banyak memikirkan cara membahagiakan istrinya dengan mengajak Elma ke tempat-tempat yang menyenangkan saat usia kehamilannya memasuki tujuh bulan.
Darren meminta Kia untuk mengembalikan lagi perusahaan milik mendiang ayahnya Elma mengingat perusahaan itu hasil konspirasi relasi ayahnya yang ingin menjatuhkan reputasi tuan Wisnu Abdillah.
Perusahaan itu masih di bawah manajemen perusahaan Darren untuk dikelola sebaik mungkin sampai perusahaan itu di kembalikan kepada Elma.
Sementara rumah besar Elma yang di Bandung di renovasi sebagus mungkin dengan menambahkan beberapa furniture sesuai konsep dari bangunan itu sendiri dan mengikuti gaya modern.
Kia juga bertugas mencari pelayan dan juga penjaga rumah itu untuk tetap terjaga dari kebersihannya agar Elma pulang ke Bandung ada rumahnya yang sudah di renovasi.
Sementara ibu tirinya Elma yaitu nyonya Eva mengalami gangguan kejiwaan dan KIA sudah membawanya ke rumah sakit jiwa.
"Sayang!" Panggil Darren saat keduanya beristirahat cukup usai bercinta.
"Ada apa Darren..?"
"Apakah kamu tidak ingin melanjutkan lagi kuliahmu untuk meraih gelar sarjana?"
"Aku hanya perlu mengikuti sidang skripsi saja." Sahut Elma.
"Kalau begitu persiapkan dirimu karena aku sudah membayar uang sidang mu dan juga sekaligus wisudanya."
"Tapi aku harus print semua skripsinya."
"Biarkan asisten KIA yang melakukannya, kamu butuh persiapan mental saja."
"Itu berarti kita harus kembali ke Bandung?"
"Tentu saja!"
"Baiklah. Mumpung aku belum melahirkan bayiku. Lagi pula kalau kelamaan menyelesaikan kuliahku, aku bisa di DO oleh kampus. Terimakasih Darren untuk semua yang kamu lakukan padaku."
"Aku ingin kamu mendapatkan lagi mimpimu yang pernah hilang. Dengan begitu aku bisa merasa tenang sudah mewujudkan semua mimpimu."
Ucap Darren lalu menarik selimut tebal itu menutupi tubuh mereka dan berangkat tidur.
Minggu berikutnya Elma sudah berada di kampusnya bersama mahasiswa lainnya yang merupakan adik tingkatnya. Walaupun terlihat senior sendiri, skripsi Elma di akui oleh mereka merupakan hasil penelitian terbaiknya.
Elma mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dosen pengujinya dengan baik. Elma membawa hasil nilai
skripsinya sebagai hadiah untuk suami dan putranya.
Suaminya yang menemani putra mereka bermain di taman kampus. Elma mendekati keduanya dengan wajah berseri.
"Sayang..! Sapa Elma memberikan senyum terbaiknya.
"Mami..!" Baby Darren berlari menyambut ibunya.
__ADS_1
"Apakah hasilnya bagus sayang?" Tanya Darren mendekati istrinya yang tersipu sendiri.
"Lihatlah! Ini hadiah untukmu!"
Elma menyerahkan amplop yang berisi hasil nilai skripsinya kepada suaminya.
"Wah hebat dapat nilai A+ . Ini adalah hadiah yang paling berharga untuk kami bertiga. Selamat sayang atas keberhasilan mu. Sekarang ayo kita rayakan kebersamaanmu.
Tapi sebelumnya itu, aku ingin kita ke suatu tempat karena aku ingin memberikan kejutan untukmu sayang. Tapi sebelumnya aku harus menutup matamu dengan sapu tangan ini, supaya kejutannya sempurna."
Ucap Darren meminta persetujuan istrinya untuk ditutup matanya.
"Tidak ..! Jangan menutup mataku dengan mengikat menggunakan saputangan itu..!"
Pekik Elma membuat putranya terkejut.
"Elma! Ada apa denganmu...? Lihatlah, putra kita sampai kaget."
"Sapu tangan itu mengingatkan aku pada bajingan itu. Jangan menutup mataku dengan mengikatnya. Bawa saja Aku ke tempat yang ingin kamu berikan kejutan!" Ucap Elma buru-buru.
"Baiklah. Maafkan aku sayang! Tapi kamu harus menutup matamu saat aku memintanya, apakah kamu mau?"
"Hmm!"
Baja merah sedan itu mulai bergerak menuju perusahaan mendiang ayahnya Elma.
"Tutup matamu sayang!"
Mobil berhenti di depan perusahaan itu dan Darren membuka pintu mobil untuk Elma sambil menggendong putranya.
"Bukalah matamu Elma...!"
Elma membuka matanya secara perlahan lalu melihat kejutan apa yang diberikan suaminya untuknya.
"Darren! Bukankah ini adalah perusahaan ayahku?"
tanya Elma kala melihat nama perusahaan itu tertera di atas gedung megah itu
"Hmm!"
"Tapi, ini bukan milik kami lagi." Ucap Elma sendu.
"Aku telah merebut kembali perusahaan ayahmu dari tangan para relasinya ayah, yang mencoba menjatuhkan ayahmu. Aku sudah mendaftarkan perusahaan ini atas namamu."
"Ini seperti mimpi bagiku DARREN. Aku bahkan tidak punya ambisi untuk mendapatkan kembali perusahaan ayah. Aku hanya berpikir untuk bekerja keras menghidupi diriku sendiri sampai aku punya keluarga kecil."
"Ayo sayang! Apakah kamu tidak ingin melihat lagi ruang kerja ayahmu? Maaf kalau banyak banget yang direnovasi mengikuti gaya bangunan modern baik eksterior maupun interiornya.
Ini semua disesuaikan dengan kebutuhan kinerja karyawan." Ucap Darren sambil menggandeng tangannya Elma.
__ADS_1
Ibu mil ini melangkah pelan dengan perut besarnya menuju lift. Para staf baru, yang belum begitu mengenal pemilik baru perusahaan ini tapi mereka sudah mengenal Tuan Darren.
"Apakah wanita itu adalah pemilik perusahaan ini?"
"Tapi, dia adalah istrinya Tuan Darren. Sementara nama pemilik ini adalah Elma Pradita."
"Kita lihat saja nanti. Apakah itu bos kita."
"Sepertinya orangnya baik."
Darren membuka pintu ruang kerja mertuanya. Elma masuk dengan perasaan haru.
"Ayah...! Aku sudah berada di sini dengan menantu dan cucumu. Andai saja ayah bisa melihat kami, ayah pasti bahagia karena perusahaan yang ayah bangun dengan penuh kerja keras dan air mata, kini sudah diambil alih oleh suaminya Elma."
Ucap Elma menatap foto ayahnya yang tergantung di dinding.
Elma melihat namanya terukir di papan nama meja kantor yang ada di atas meja kerjanya.
"Bagaimana aku bisa bekerja di sini sayang, sementara kita tinggal di Jakarta."
"Bukankah sekarang sudah bisa kerja secara virtual tidak perlu berada di kantor. Ini hanya simbolik sayang. KIA yang akan berada di sini. Aku ingin kamu yang memilih sendiri asisten kepercayaan mu sesuai selera mu."
Ucap Darren lalu meminta istrinya untuk duduk di kursi kebesarannya.
"Aku ingin perusahaan ini menjadi milik baby DARREN."
Ucap Elma yang memikirkan putranya suatu saat nanti tidak akan mendapatkan warisan dari suaminya karena Baby DARREN lahir di luar nikah.
"Terserah padamu sayang!"
Elma duduk di kursi kebesarannya dan Darren memotret Elma yang terlihat sangat cantik dan elegan.
"Kamu pantas mendapatkan kembali hakmu sayang. Aku percaya bahwa berlian yang di buang di dalam lumpur masih terlihat bersinar.
Aku ingin mengembalikan berlian itu pada tempat semestinya. Aku ingin kamu selalu bersinar untukku dan untuk orang-orang yang mulai sekarang tergantung pada perusahaan ini demi kelangsungan hidup mereka." Ucap Darren.
"Aku sudah merasakan getirnya hidup. Mencari nafkah tanpa kenal lelah. Mengandalkan anggota tubuhku untuk mengais rezeki.
Mengandalkan hati dan pikiranku untuk terus bermunajat kepada Allah agar aku diberikan rejeki yang halal tanpa menjual diriku walaupun aku harus menahan lapar jika uang gaji ku tidak cukup untuk satu bulan.
Aku harus bisa mengapresiasikan para karyawan rendahan seperti OB yang selalu dianggap remeh oleh para staff yang lebih tinggi jabatannya. Rupanya aku baru mendapatkan hikmah dari Allah.
Bahwa setiap ujian yang diberikan kepada hambaNya yang terpilih terutama diriku yang sudah diperkenalkan kemiskinan untuk memahami kehidupan kaum papah." Ucap Elma penuh filsafat.
"Sekarang, kita menginap di rumah kamu malam ini sebelum kembali ke Jakarta."
"Rumah...?" Elma lagi-lagi mendapatkan surprise dari suaminya.
"Iya sayang. Aku sudah merenovasi rumahmu dan aku ingin kita menginap di rumah....!"
__ADS_1
Tiba-tiba Darren jatuh terjerembab di lantai lalu mengalami kejang-kejang membuat Elma sangat syok..
"Darren ... Darren...! Tolonggggg!"