Rahasia Gadis Bermasker

Rahasia Gadis Bermasker
30. Yang Sebenarnya


__ADS_3

Bunyi perut Darren terdengar jelas oleh Elma yang masih berada dalam dekapan suaminya.


Darren terlalu berani bercinta dengan perut kosong belum makan apapun kecuali dua gigitan roti yang mengganjal perutnya yang perih.


"Kamu lapar honey?" Tanya Elma sambil mengusap susunan roti sobek itu.


"Dari Jakarta aku belum memakan apapun karena ingin bertemu denganmu." Ucap Darren membuat Elma panik.


Ia segera beringsut dari pelukan suaminya dan mengambil piyama tidurnya sambil memakai dengan berjalan keluar.


Elma memasak mie instan rebus dengan telur setengah matang di tambah irisan cabe dan sayuran. Ia juga menyiapkan sepiring nasi dan meletakkannya di atas baki.


Hanya ini saja yang bisa ia lakukan untuk suaminya karena makanan yang lain sudah dingin dan Darren tidak menyukai makanan dingin.


Darren tersenyum lebar melihat kepanikan istrinya begitu mengetahui dia lapar.


"Aku hanya lapar kamu sudah sepanik itu bagaimana kalau aku kecelakaan? Mungkin kamu bisa mati bersamaku.


Sekarang aku tahu kamu sangat mencintaiku. Kau tidak akan sanggup berpisah dariku baby, apa lagi untuk cerai, itu sangat menakutkan." Batin Darren.


Pintu kamar itu di buka, Elma membawa baki itu membuat Darren spontan mengambil dari tangan istrinya.


"Sayang! Mengapa kamu tidak memanggil aku saja untuk membawanya?"


Darren merasa tak enak hati melihat Elma berusaha menyenangkan hatinya.


Keduanya menikmati makan malam mereka dengan mie instan. Keduanya tidak sadar kalau saat ini sudah hampir jam tiga pagi.


Elma yang merasa sudah tidur sebelum Darren datang merasa segar saja apa lagi ditambah nutrisi hati dari sang suami membuatnya makin energik.


Usai menikmati makan malam mereka dengan mie instan itu, keduanya kembali ketempat tidur mereka.


Darren menghabiskan kopi buatan istrinya yang sudah hangat padahal tadi sangat panas karena dingin udara malam tanpa AC. Memang di rumah Elma tidak ada AC karena dinginnya kota Bandung melebihi dinginnya AC.


Elma memeriksa kedua babynya sebelum menemani suaminya.


Darren membuka lagi piyama tidur Elma karena dia lebih senang istrinya tidak mengenakan baju tidur kalau ia menginginkan istrinya.


"Sayang!"

__ADS_1


"Hmm!"


"Apakah kamu masih ingin tahu bagaimana aku sampai memperkosamu?"


"Hmm!"


"Malam itu aku dan teman-teman sesama pengusaha sedang merayakan keberhasilan kami yang memenangkan tender di sebuah klub.


Diantara mereka duduk dengan wanita-wanita mereka sementara aku tidak mau ditemani wanita walaupun hidupku dikelilingi banyak wanita.


Mereka merasa aku sangat jaim dan ingin menjebakku karena selama ini aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun.


Itu karena sangat takut wanita-wanita itu akan menjebakku dengan kehamilan mereka dan aku tidak mau menikahi wanita karena bayi yang di kandungnya tapi aku ingin membangun rumah tangga dengan wanita yang aku cintai."


"Lalu bagaimana denganku, aku telah hamil anakmu? Apakah kamu merasa dijebak?"


"Sayang! Ijinkan aku menyelesaikan ceritanya." Pinta Darren.


"Silahkan!"


"Aku malam itu lengah. Aku akhirnya meminum wiski milikku yang sudah di campur dengan obat perangsang.


Karena bawa mobil sendiri, pandanganku mulai kabur karena malam itu hujan sangat deras. Aku menghentikan kendaraan ku tepat didepan ruko yang tak terpakai.


Dalam sekejap tubuhku memiliki reaksi lain. Aku gelisah karena gairah dalam tubuhku ingin berhubungan intim dengan wanita begitu kuat, hingga aku melihatmu berlalu di depan mobilku.


Aku melihat gesture tubuhmu adalah wanita dan aku langsung turun dan menyergap mu. Karena sudah kerasukan setan, aku membawamu ke hotel ku.


Aku membopong tubuhmu dan membawamu ke lift. Karena lantai kamarku terlalu lama di jangkau aku memilih untuk berhenti di lantai 17.


Aku melihat kamu masih pingsan dengan cepat aku mengikat matamu agar kamu tidak mudah mengenaliku jika suatu saat nanti kita bertemu.


Setelah melakukan hal keji itu, otakku kembali waras saat aku melihat kamu masih suci.


Aku hanya bisa memberikan black card milikku agar aku bisa mengetahui keberadaanmu suatu saat nanti." Ucap Darren dengan wajah sendu.


"Sejak saat itu aku meninggal kota Bandung untuk bisa melupakan kejadian itu.


Aku pikir aku bisa mulai hidup baru di Jakarta dengan bekerja apa saja asalkan halal. Justru aku akhirnya hamil dan itu sangat membuat aku panik.

__ADS_1


Aku justru menemukan black card milikmu tanpa sengaja saat aku melemparkan dompetku.


Saat itu aku benar-benar cemas dengan putra pertama kita. ku butuh uang yang banyak untuk berobat. Karena Gibran sudah kritis, akhirnya aku nekat memakai black card milikmu.


Aku juga ingin bertemu dengan pria pemerkosa itu jika dia tahu black card miliknya digunakan olehku tapi malah kamu yang datang. Dan parahnya aku sedikitpun tidak curiga kepadamu." Ucap Elma.


"Sejak saat itu, aku terus mengingat wajahmu, walaupun aku tidak melihat matamu. Aku ingat dengan ucapanmu yang sangat menusuk hatiku.


Tidak ada yang tersisa di dirimu kecuali kesucianmu. Kalimat puitis yang membuat aku sering terbangun di tengah malam.


Dan yang membuat aku tidak berhenti memikirkannya saat aku diserang kehamilan simpatik, aku benar-benar merasa tersiksa sendiri bukan karena ngidamnya tapi aku tidak tahu cara menemukan gadis itu yang tidak lain adalah kamu sendiri. Ironis bukan?"


Darren tersenyum sendiri menyadari kekonyolan mereka yang dipermainkan oleh takdir.


"Kita berdua memang konyol. Aku ketakutan akan bertemu lagi dengan pria yang telah memperkosaku dengan melindungi wajahku dengan masker, tapi justru aku mendatangi sendiri dirimu, bukankah itu hal yang konyol."


"Tapi kalau dipikir-pikir, justru takdir yang telah mempertemukan kita. Dengan cara apapun kamu berusaha menjauhiku, justru putraku dibuat sakit dan akhirnya kita bisa bertemu, unik bukan? Mau aku perkosa lagi sayang?" Goda Darren membuat Elma menatap tajam wajahnya.


Walaupun saat ini hatinya mulai terhibur karena pada akhirnya dia sudah jatuh cinta pada pria yang memperkosanya.


"Aku sangat mencintaimu Darren!"


Elma memeluk dan mencium tubuh dada bidang suaminya.


"Semuanya berawal dari kesalahan, tapi aku ingin menebus semua kesalahan itu dengan cinta dan kasih sayang yang aku punya untuk kalian.


Aku rela mati demi kalian terutama demi dirimu Elma." Ucap Daren sambil mengusap bokong istrinya yang sangat padat.


"Tolong jangan berkata hal yang menyakitkan hatiku Darren. Aku sudah kehilangan banyak dalam hidupku, apakah kamu tega meninggalkan aku lagi?" Ucap Elma.


Elma merasa tubuhnya sudah mulai tidak enak, Elma memijit pelipisnya membuat Darren menatapnya heran.


"Apakah kamu baik-baik saja baby?"


"Sepertinya aku masuk angin Darren."


"Ok, aku ambil switer ya dan kamu harus minum obat." Titah Darren .


Elma meminta Darren mengambil obat tolak angin di tasnya. Darren mengambilnya dengan mengambil air hangat di dispenser di kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2