
Usia Baby Dafya memasuki enam bulan. Elma mengajak suaminya berkunjung ke tempat tinggal nyonya Weni. Entah mengapa ia sangat merindukan ibu angkatnya itu.
Darren yang memang belum pernah bertemu dengan ibu angkat istrinya itu, ingin menemani istrinya untuk kembali ke kampung tempat Elma melahirkan bayi pertama mereka.
"Darren..! Tahukah kamu kalau ibu Weni itu adalah mantan kekasih ayahku saat keduanya duduk di bangku kuliah."
Ucap Elma mengisahkan cinta dokter Weni dengan ayahnya.
"Oh ya! Lantas mereka tidak bisa bersatu?" Tanya Darren serius.
"Jika mereka bersatu, maka aku tidak bisa bertemu denganmu."
Canda Elma membuat Darren gemas memencet hidung mancung Elma.
"Kau ini...! Saat aku serius kamu malah becanda."
"Lagian kepo banget dengan kisah cinta orang lain. Lagian seorang anak tidak akan terima cinta pertama ayahnya dengan wanita lain.
Karena hati ibunya sudah menyatu dengan putrinya jadinya sedikit cemburu sih dan juga nggak suka dengan cinta itu.
Walaupun begitu, itulah awal perjalanan cinta seseorang yang tidak bisa aku hakimi mereka atas nama cinta ibuku."
Ucap Elma lalu masuk ke dalam dekapan suaminya.
"Apakah kamu sangat pencemburu sayang?" Ledek Darren mengeratkan pelukannya pada sang istri.
"Aku akan membunuhmu kalau kamu berani mengkhianati ku!"
Ancam Elma menggigit dada suaminya gemas.
Darren mengangkat dagu istrinya. Menatap mata indah itu lebih dalam." Tidak ada wanita lain yang selama ini membuat hatiku bergetar. Kau telah memenangkan hatiku dari sekian banyak wanita yang pernah singgah dalam hidupku."
Ucap Darren membuat Elma merasa bingung.
"Bagaimana kamu bisa tahu masalalu mu sementara saat ini ingatan kamu masih belum pulih."
Duaaarrr...
Wajah Darren terlihat gelagapan dan memikirkan alasan yang tepat untuk bisa menjawab kecurigaan istrinya.
"Kadang aku selalu mengingat setiap penggalan kisah yang tak utuh dalam benakku. Dan aku rasa itu cukup membantu."
Ucap Darren dengan susah payah mengendalikan kegugupannya.
"Benarkah seperti itu sayang?" Tanya Elma dan Darren mengangguk dengan cepat.
"Apakah kamu kira aku berbohong?"
__ADS_1
"Tidak...! Hanya saja kalau kamu mengingat semuanya ada yang ingin aku bahas secara serius denganmu?" Ujar Elma kemudian.
"Apakah itu sangat serius?"
"Ada kesalahan fatal yang pernah kamu lakukan kepadaku dan aku ingin menuntut penjelasan padamu agar hatiku tidak terlalu sakit menerima bagian itu menjadi sisi lain dari dirimu yang membuat aku sangat membencimu."
Deggggg...
"Tidak apa kalau kamu ingin mengatakan keburukan apa yang pernah aku perbuat padamu. Aku tidak keberatan sayang.
Aku baik-baik saja. Setidaknya itu akan membantu aku untuk mengingat semuanya dengan kamu mengatakannya lebih awal."
Desak Darren pura-pura tidak tahu.
"Kau yakin ingin mendengarnya sayang?" Balas Elma sedikit sinis.
"Kalau itu bisa memperbaiki hubungan kita dan membuat hatimu lega dan aku akan meminta maaf padamu dengan penuh ketulusan."
Elma terlihat diam. Hatinya tidak bisa memilih mana yang terbaik untuk melupakan apa yang pernah terjadi dalam hidupnya dengan pria pemerkosa yang sekarang ini sudah menjadi suaminya dan ayah dari kedua anaknya.
Jika tidak menyelesaikannya, hatinya masih saja merasakan sakit setiap kali mengingat itu.
"Aku tahu Darren, apa yang telah kamu lakukan untukku demi menebus kesalahanmu, tapi aku aku tidak bisa melupakan malam naas itu.
Aku ingin berdamai dengan diriku walaupun aku sudah membujuknya untuk memaafkan kamu. Apa yang harus aku lakukan jika kamu mengingat semuanya. Apakah kita harus berpisah sayang?" Elma terlihat diam dengan pikiran yang menerawang jauh.
Elma tersenyum samar. Ia juga tidak ingin membuat Darren berpikir keras dengan menyebutkan kesalahan Darren akan membuat kepala suaminya sakit."
"Tidak apa sayang. Lupakan saja! Aku rasa melupakan lebih baik dengan begitu hubungan kita tidak begitu rumit." Lanjut Elma.
"Jika aku mengingat semuanya, entah itu perlakuan buruk aku padamu, apakah kamu akan pergi dariku, Elma?" Pancing Darren penasaran.
"Aku tidak tahu masa depan kita seperti apa nantinya jika itu terjadi. Tapi Aku hanya ingin tahu alasanmu melakukan keburukan itu kepadaku saja. Hanya itu."
"Kamu yakin hanya itu? Dan tidak akan pergi dari hidupku?"
"Entahlah Darren! Jangan terlalu mendesak ku! Ingat sayang, aku tidak ingin kamu sakit. Aku ingin kamu sehat. Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya!"
Ucap Elma memenangkan Darren.
"Terimakasih sayang! Untuk pengertiannya."
Daren mengecup bibir istrinya dan mengulumnya sebentar.
"Elma! Bagaimana aku mau jujur padamu kalau saat ini aku sudah mengingat semuanya, jika pada akhirnya kau akan mengakhiri hubungan kita. Dan aku tidak mau anak-anak yang akan menjadi korban dari perbuatanku."
Batin Darren terasa berat untuk mengambil keputusan berkata jujur pada istrinya.
__ADS_1
Tanpa terasa pesawat mereka sudah tiba di tempat tujuan. Elma yang belum memberitahukan kedatangannya pada dokter Weni dengan sengaja memberikan kejutan untuk ibu angkatnya itu. Ia juga bingung harus ke rumah sakit terlebih dulu atau langsung ke rumah dokter Weni.
Akhirnya ia memutuskan untuk ke rumah dokter Weni karena kedua anaknya harus istirahat saat ini setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Di rumah dokter Weni, hanya ada pelayan yang menyambut kedatangannya.
"Apakah ibu ada, bibi Ayu?"
"Dokter masih di rumah sakit non!"
"Apakah kami boleh masuk?" Tanya Elma santun.
"Ya Allah non Elma. Kayak tamu saja. Ini sudah menjadi rumah kedua non Elma selain rumah suaminya non. Apakah itu tuan muda Darren?"
Tanya bibi Ayu yang sangat kangen dengan Gibran yang dulu dirawatnya.
"Ya Allah! Tambah ganteng saja den." Puji bibi Ayu lalu menggendong Gibran seperti cucunya sendiri.
"Kamar non Elma selalu dibersihkan sama bibi setiap dua hari sekali di suruh sama nyonya dokter."
"Terimakasih bibi!"
Ucap Elma lalu membaringkan baby Dafiya di tempat tidur.
Darren masih duduk di teras rumah dokter Weni sambil mengamati taman bunga yang cukup luas. Tidak lama mobil dokter memasuki halaman rumahnya dan Darren segera bangkit menyambut dokter Weni yang hanya ia dengar dari cerita istrinya.
Dokter Weni yang melihat ada tamu, segera turun dari mobilnya dan berjalan setengah berlari karena ia sudah tahu itu adalah suaminya Elma yang sering diceritakan Elma padanya melalui telepon.
"Apakah kamu nak Darren, suami Elma?" Tanya dokter Weni sambil menyodorkan tangannya.
"Iya Bu dokter!" Ucap Darren mencium punggung tangan dokter Weni.
"Kenapa tidak mengabari ibu kalau mau pulang?"
"Sengaja buat kejutan untuk bu dokter."
Elma mendengar suara mobil dokter Weni bergegas keluar sambil berlari lalu menghamburkan pelukannya pada dokter Weni.
"Ibuuuu...Elma kangen!" Elma mengecup pipi ibu angkatnya itu dengan manja.
"Anak nakal! Selalu saja buat kejutan. Padahal aku ingin memasak makanan kesukaanmu. Di mana kedua cucuku, sayang?"
"Mereka di kamar Elma, ibu!"
"Lebih baik baby Darren tidur denganku karena kamarmu tidak cukup luas untuk tidur berempat."
Ucap dokter Weni yang ingin memberi ruang untuk pasangan muda ini.
__ADS_1