Rahasia Gadis Bermasker

Rahasia Gadis Bermasker
25. Ingatan Darren


__ADS_3

Tangis bayi milik pasangan Elma dan DARREN menggema di dalam kamar bersalin. Daren mengecup bibir istrinya usai bayi mereka sudah dirapikan oleh suster dan siap di bawa ke kamar bayi.


Elma meminta Daren untuk mengganti nama panggilan putra mereka baby DARREN dengan nama Gibran agar putri kecilnya nanti bisa membedakan nama Abang dan ayahnya.


Darren setuju dan mulai memberi tahu putranya dengan nama panggilan baru untuknya.


"Kenapa kamu memberikan nama putra pertama kita dengan nama yang sama denganku, Elma ?"


"Karena saat itu, aku sedang merindukanmu dan aku ingin mengenangmu dengan memberikan namamu pada putra pertama kita."


"Apakah saat itu kita pernah bercerai lalu rujuk lagi?"


"Ceritanya cukup pelik untuk di bahas dengan kamu yang saat ini masih amnesia. Aku harap suatu saat nanti ingatanmu akan pulih dan kamu yang lebih mengerti keadaanku saat itu."


Ucap Elma menjadi ambigu bagi Darren.


Darren yang baru pertama kali melihat seorang ibu berjuang melahirkan bayinya, tampak kagum dengan kehebatan Elma yang tidak menyerah walaupun sudah mengalami pendarahan dan kehabisan tenaga.


"Melihat perjuangan kamu melahirkan, aku rasa kita cukup memiliki dua anak saja Elma. Kita sudah dapat sepasang dan kebahagiaan kita sudah lengkap." Jelas Darren.


"Justru aku ingin kita punya banyak anak dengan begitu mereka saling berbagi saat dalam keadaaan susah. Mungkin berbagi dengan saudara lebih baik daripada sahabat selalu mengkhianati kita.


Seperti sahabat ayahku yang mengkhianati ayah hingga ayah tidak siap menanggung beban kehidupan hingga akhirnya meninggal dan itu membuat aku sangat trauma." Sahut Elma.


"Apakah kamu kuat melewati proses hamil dan melahirkan sayang?"


"Insya Allah, Darren! Justru keistimewaan perempuan melahirkan jika mati pasti dalam keadaan syahid itu janji Allah."


"Iya sayang aku tahu itu, walaupun begitu aku tidak siap kehilanganmu. Lebih baik memiliki dua anak dari pada banyak tapi kau tidak bersama dengan kami dan itu akan membuat ku akan mati bersamamu."


"Bukankah kamu bisa menikah lagi Darren?" Canda Elma sedikit tersenyum geli.


"Elma stopp!! Tidak ada yang lucu dengan perkataanmu. Aku sedikitpun tidak tertarik dengan wanita manapun. Jika kamu terlahir untuk seribu kalinya dengan wajah yang sama, aku tetap jatuh cinta kepadamu."


Ucap Darren penuh penekanan pada kalimatnya.


Elma terdiam membisu merasa ucapan Darren tidak bisa dibawa candaan. Ia sangat menyesal melontarkan candaan barusan.


"Hei...! Aku hanya becanda sayang. Aku janji tidak akan melibatkan perempuan lain untuk hidupmu selain aku."


"Nona Elma! Ini bayi anda. Apakah kamu ingin menyusuinya?"


Ucap suster memberikan bayi Elma dalam gendongan ibunya.


"Oh Baby! Kamu sangat cantik, sayang! Kenalkan ini mami dan Daddy kamu. Dia sedikit galak. Tapi hatinya sangat baik."

__ADS_1


Ucap Elma sambil mengarahkan put*Ng nya ke mulut putrinya.


Melihat dada sekang istrinya membuat Darren salah fokus.


"Hei...! Ini untuk putrimu dan tolong jangan coba-coba merebut miliknya!"


Ingat Elma sedikit mengancam.


"Cih! Entar juga kontraknya habis dan aku akan mengambil alih lagi. Awas saja nanti!" Darren balik mengancam istrinya.


"Siapa nama baby kita sayang?" Tanya Darren di sela obrolan mereka.


"Aku sudah memberikan nama untuk putra pertama kita. Sekarang giliran mu. Aku ingin kamu yang memberikan nama untuk putri kita."


Darren memikirkan satu nama yaitu seorang wanita yang merupakan narator hadist yang bernama Dafiya putri Ghitari


"Nama putri kita adalah Dafiya. Panggil saja Dafi atau Fiya."


"Aku suka pilihan nama itu sayang."


"Mami ...mami .. Daddy..!"


Panggil Gibran yang tadi sempat tertidur pulas di gendongan KIA.


"Apakah Ini adiknya Gibran?"


"Iya sayang. Kamu harus sayang dengan adik kamu. Kamu harus bisa lindungi adik kamu dari orang jahat." Ucap Elma.


"Gibran mau jadi superhero supaya bisa melawan penjahat."


Ucap Gibran membuat kedua orangtuanya terkekeh.


...----------------...


Setelah usia baby Davi dua bulan, keluarga kecil ini kembali ke Jakarta. Apa lagi keadaan Darren perlahan-lahan mulai pulih walaupun ingatannya masih belum pulih.


Darren merasa bingung saat masuk ke perusahaannya yang membuatnya merasa asing. Kia menjelaskan semuanya tentang laporan perkembangan perusahaan mereka kepada Darren yang hanya jadi pendengar setia.


"Kia! Aku tidak mengerti semuanya. Tidak ada satupun yang menyangkut di ingatanku kecuali gadis bermasker itu." Ucap Darren dengan wajah berbinar.


"Apakah Tuan Darren tahu siapa gadis bermasker itu?"


"Elma! Istriku Elma."


"Baiklah. Tidak apa Tuan Darren. Tapi ada beberapa relasi ingin mengadakan pertemuan di hotel milik anda yang ada di Bandung. Apakah anda ingin ke sana?"

__ADS_1


"Apakah kita punya hotel di Bandung?"


"Saat anda jatuh sakit, itu terakhir kalinya anda berada di Bandung bersama dengan nona Elma. Mungkin dengan anda ke Bandung, anda bisa mengingat suatu peristiwa yang mengembalikan kembali ingatan Anda."


"Baiklah. Atur segala sesuatunya dan ingatkan lagi saya kapan kita akan ke Bandung."


"Baik Tuan."


Darren duduk sebentar di ruang kerjanya sambil melihat keadaan ruangan kerjanya. Lagi-lagi hanya wajah Elma yang menggunakan masker duduk di lantai sambil menyusun arsip.


"Kenapa wajah Elma yang selalu aku ingat? Apakah hatiku lebih menginginkannya dari pada yang lainnya?" Gumam Darren lirih.


Keesokan paginya Darren meminta ijin pada istrinya berangkat ke Bandung.


"Apakah kamu yakin baik-baik saja tanpa aku temani, sayang?" Tanya Elma sambil menyusui si kecil.


"Ada KIA yang akan mengurus aku selama di sana. Aku usahakan kembali secepatnya jika urusan bisnisnya selesai. Kamu harus hati-hati dengan anak-anak selama aku pergi.


Jangan segan untuk menghubungiku walaupun aku sedang meeting. Kalian bertiga lebih penting dalam hidupku daripada yang aku miliki di dunia ini."


Ucap Darren lalu mengecup bibir istrinya.


Kia sudah menjemput Darren yang sudah siap dengan koper kecilnya. Kia memasukan koper milik Darren ke bagasi mobil.


"Daddy! Tolong cepat pulang! Mommy pasti lebih sibuk dengan Ade Dafi dari pada main dengan Gibran."


"Iya sayang! Gibran harus jaga mommy dan Ade Dafi."


"Hmm!"


Gibran melepaskan ayahnya sambil melambaikan tangannya.


Perjalanannya ke Bandung cukup melelahkan Darren hingga akhirnya mereka tiba di kota Bandung di sambut dengan hujan deras.


Ketika melewati sebuah ruko yang tak terpakai, lagi-lagi Darren ingat ia sedang menyekap seorang gadis di malam itu.


Wajahnya mulai memucat dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.


Kia melirik Darren yang terlihat gelisah sambil menatap ruko itu.


"Tuan! Apakah anda baik-baik saja? Apakah ada sesuatu yang anda ingat di area sini?"


Tanya KIA sambil menyetir mobilnya.


Yang di ajak bicara malah lebih tenggelam dalam lamunannya.

__ADS_1


"Tuan Darren !"


Sentak KIA membuyarkan lamunan Darren yang terlihat tidak baik-baik saja.


__ADS_2