
Karena tidak sempat memasak makanan istimewa untuk menyambut kedatangan keluarga kecil putri angkatnya, dokter Weni mengajak tamunya itu untuk makan di luar sambil menikmati kuliner setempat.
Makan malam di emperan toko di mana di sediakan pecel lele di tempat mangkal para pedagang kaki lima yang bisa menggelar dagangannya malam hari saat pemilik toko itu sudah tutup dari sore hari.
Darren membantu putranya menyuapi makan untuk Gibran sementara Elma sibuk menikmati makanannya karena bibi Ayu sedang menggendong baby Dafiya yang sedang tidur.
"Elma! Ibu kira kamu sudah melupakan ibu dan tidak mau berkunjung ke sini lagi." Ucap dokter Weni.
"Itu karena Darren nya sedang sakit ibu dan aku harus mempersiapkan diriku melahirkan baby Dafiya di negara orang lain dengan kondisi Darren yang lupa ingatan." Keluh Elma.
"Apakah sampai saat ini kamu masih amnesia Darren?"
"Hanya ingat sekilas saja hal-hal yang pernah berkesan di hati Darren ibu." Ucap Darren gugup.
"Kenapa kamu tidak membantunya Elma? Siapa tahu ada hal-hal yang bisa merangsang memori Darren saat kalian sempat dekat dulu."
"Aku tidak pernah dekat dengannya ibu selain sebagai atasan dan bawahan." Ucap Elma.
"Apakah kamu tidak menceritakan bagaimana Darren bisa mengetahui kalian berada di Amerika saat kamu menggunakan black card miliknya untuk mengobati putra kalian dan saat dia mengakui kesalahannya padamu ketika memasuki ruang operasi?"
Pancing dokter Weni yang meragukan sikap pura-pura Darren terhadap Elma.
Deggggg...
"Ibu..! Aku tidak mau Darren memaksakan dirinya mengingat sesuatu yang akan membuat kepalanya sakit."
Ucap Elma menghentikan pembicaraan mereka mengenai kesehatan Darren.
Darren merasa tidak enak dengan ibu dan anak ini yang terlihat saling menentang dengan prinsip mereka masing-masing demi dirinya.
Usai membayar pesanan mereka, dokter Weni mengajak mereka jalan-jalan mengelilingi kota tersebut.
Gibran yang cepat mengantuk usai makan malam tampak terlelap dalam dekapan ayahnya. Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang.
Baby Dafiya menyusu pada ibunya di kamarnya sementara Darren membaringkan putranya di kamar dokter Weni. Saat Darren hendak keluar dokter Weni mencegah langkah kaki ayah dua anak itu.
"Aku tahu kalau kamu sudah mengingat semuanya Darren. Kamu tidak lupa ingatan lagi dan kamu memanfaatkan ketulusan cinta Elma demi kepentingan mu. Apa yang kamu takutkan dari Elma ?"
Tanya dokter Weni membuat Darren tersentak. Ia membalikkan tubuhnya dengan menatap wajah dokter Weni dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Aku begitu takut kehilangan istri dan anak-anakku ibu. Bagaimana kalau Elma tidak menerima permohonan maaf dariku? Bagaimana kalau dia meminta cerai dariku? Aku sangat takut pengakuan itu akan menyakiti hatinya."
"Jika kamu berani berbuat, belajarlah untuk bertanggungjawab. Kejujuran itu lebih penting dari apapun daripada menjadi bumerang dalam hidupmu.
Menutupi kebohongan demi kebohongan lainnya, apakah semua itu akan membuat kamu merasa aman, Darren? Mengapa tidak berusaha dulu sebagai laki-laki yang gentleman? Jangan membuat Elma makin membencimu!" Titah dokter Weni.
Darren mengusap tengkuknya yang terasa sangat pegal karena terus menyimpan kebohongan demi menyelamatkan pernikahannya.
"Baik Bu. Saya akan berusaha untuk jujur pada Elma. Tolong beri saya waktu Ibu untuk menjelaskan kepada Elma dari hati ke hati." Ucap Darren.
Tanpa di sadari Darren, Elma mendengarkan semua obrolan ibu angkatnya dan dirinya. Elma buru-buru kembali ke kamarnya dengan dada terasa bergemuruh dan nafas tersengal. Ia pura-pura tidur agar suaminya tidak menganggunya.
...----------------...
Tiga hari kemudian Darren dan keluarganya kembali lagi ke Jakarta. Elma tetap bersikap biasa saja pada sang suami walaupun hatinya saat ini menyimpan amarah yang luar biasa.
Ia hanya menunggu Darren untuk berkata jujur kepadanya kalau saat ini, ingatannya sudah pulih. Namun apa yang ditunggu Elma hanya nihil.
Suaminya tetap bungkam dengan terus berpura-pura amnesia. Beban amarah di hatinya tidak bisa lagi di kompromi. Ketika Darren pamit berangkat kerja, Elma membawa kabur kedua anaknya kembali ke Bandung.
Lagipula ia juga memiliki perusahaan sendiri dengan rumah orangtuanya yang sudah siap tinggal walaupun itu semua hasil kerja keras suaminya yang telah mengembalikan semua kejayaan ayahnya yang pernah hilang dalam hidupnya.
Dikamar itu ia tidak menemukan sama sekali keluarganya dan itu berhasil membuat Darren panik.
Darren menuruni tangga tergesa-gesa untuk menanyakan istrinya kepada pelayan.
"Bibi! Di mana istriku?"
"Nona Elma pergi dengan anak-anak dari tadi pagi setelah Tuan Darren berangkat kerja.
Nona Elma tidak mengatakan apa-apa kepada kami dan bibi mengira mereka hanya berbelanja atau jalan-jalan ke mal saja, Tuan." Ucap bibi Nia terbata-bata karena sangat takut di salahkan oleh Darren.
Darren menghubungi ponsel Elma, namun nomor itu tidak aktif sama sekali. Darren mulai kalap, ia merasa Elma saat ini sedang kabur darinya.
"Apakah dia sudah tahu kebohonganku? Atau Bu dokter yang telah menceritakan kepadanya?"
Darren mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Ia tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Darren menghubungi KIA untuk mencari keberadaan Elma.
"Kenapa Tuan Darren tidak mencarinya di Bandung? Bukankah itu adalah tempat terakhir yang dia tuju?"
__ADS_1
Ucap KIA santai karena dia tahu Tuan Darren sudah ingat akan masalalunya tapi di hadapan Elma seakan tampil seperti seorang lelaki bloon.
"Kau yang sudah bermain api. Sekarang rasakan sendiri panasnya." Umpat KIA merutuki bosnya yang pecundang.
Darren menghubungi pelayan Elma yang ada di rumah mertuanya.
"Iya Tuan! Nona Elma sedang tidur bersama anak-anak. Apakah perlu saya bangunkan?"
"Tolong berikan ponsel bibi padanya dan jangan katakan dariku."
"Tapi nona Elma akan menolak berbicara kalau tidak ketahuan dari siapa yang meneleponnya." Bantah Bibi Ani
"Baiklah. Katakan itu dari saya."
"Tunggu sebentar Tuan Darren."
Elma yang hendak turun untuk makan malam di hadang bibi Ani sambil menyodorkan ponselnya yang sedang menyala.
"Nona! Ini ada telepon dari Tuan Darren."
"Katakan kepadanya kalau aku tidak ingin bicara dengannya!"
"Tapi nona, saya akan dipecat oleh Tuan Darren kalau nona tidak mau bicara dengannya."
"Bukankah kamu bekerja di rumahku dan perusahaan ku yang membayar kamu?"
"Benar nona, tapi semua manajemen perusahaan masih di bawa kendali Tuan Darren."
"Berikan ponselmu!"
Bibi Ani dengan cepat memberikan ponselnya pada Elma.
"Kamu mau apa, hah? Mau bertingkah seperti orang sakit dengan terus membohongi aku dan menipu dirimu sendiri?"
"Maafkan saya, sayang! Saya akan menjelaskan semuanya, tolong tunggu di situ sebentar lagi saya berangkat ke Bandung menjemput kalian." Ucap Darren gugup.
"Tidak perlu! Aku akan melayangkan surat gugatan cerai untukmu!" Ucap Elma sengit."
Duarrrr...
__ADS_1