Rahasia Gadis Bermasker

Rahasia Gadis Bermasker
36. Terlalu Percaya Diri


__ADS_3

Kia mendekati dokter Bella yang sedang bersiap-siap meninggalkan rumah sakit. Ia tidak menyerah begitu saja walaupun Bella sangat ketus kepadanya.


"Apakah kita bisa bicara sebentar Bella?" Tanya KIA yang terlihat sangat bersemangat untuk mendapatkan lagi cinta Bella.


"Ada apa lagi ..?" Tanya Bella sudah sangat kesal dengan KIA yang terus menguntitnya.


"Begini Bella. Aku hanya ingin memberikan oleh-oleh ini untukmu." Ucap KIA seraya menyerahkan boneka Barbie mengenakan baju dokter.


Bukan hanya boneka, tapi ada beberapa buku kedokteran yang sengaja dibelikan KIA untuk Bella yang berhubungan dengan dunia bedah.


Kia harus menanyakan buku-buku yang biasa di baca oleh dokter Melendez untuk menunjang kariernya di dunia medis.


Buku-buku yang direkomendasikan oleh dokter melendez diborong oleh KIA karena Bella termasuk kutu buku.


Bella mengambil boneka itu dan ia hanya melihatnya sebentar.Ada juga stateskop yang tergantung di leher Barbie.


"Bella bukalah stateskop itu. Ada sesuatu untukmu di dalamnya." Ucap KIA terlihat GR saat Bella melihat isi dari stateskop itu.


"Bella...Maukah kamu menikah denganku, sayang?" Tanya KIA penuh harap.


Bella mengembalikan cincin berlian itu ke tempatnya dan menyerahkan kembali pada KIA.


"Maaf KIA..! Itu sudah menerima lamarannya seseorang dan hubungan kami sudah serius. Aku hanya mengikuti saranmu saja. Dan ternyata aku tidak butuh waktu lama untuk bisa move on darimu KIA." Ucap Bella lalu masuk ke mobilnya.


"Bella...! Kamu bohong kepadaku, bukan? Kamu pasti belum menemukan pengganti ku secepat ini bukan ?"


Tanya KIA tidak percaya begitu saja pada pengakuan KIA.


"Aku tidak butuh kamu percaya atau tidak dengan apa yang aku katakan.


Tapi aku harap kamu bisa menerima kenyataan bahwa kita berdua sudah putus dan itu atas permintaan kamu sendiri KIA.


Permisi ..! Aku harus pulang dan istirahat karena nanti malam aku harus melakukan operasi lagi."


Ucap Bella lalu mengendarai mobilnya meninggalkan KIA yang hanya bisa bengong sendirian di tempat parkir.


"Cih ..! Dia kira dia siapa, datang pergi seenaknya saja seakan aku tidak punya hati apa."


Gerutu Bella sepanjang jalan sambil mengendarai mobilnya.


Bella memarkirkan mobilnya lalu dengan langkah gontai setengah mengantuk, kedua orangtuanya menegurnya.


"Assalamualaikum mami, papi..!" Bella mengecup punggung tangan kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Waalaikumuslam...! Bella duduklah sebentar sayang, papi mau bicara padamu." Ucap tuan Raihan.


"Ada apa ayah..?"


"Semalam ada tamu datang melamar kamu sayang."


"Ayah... kalau itu pasien, rumah sakit tidak boleh dokter menjalin hubungan dengan pasiennya." Ucap Bella.


"Bukan begitu sayang. Ini adalah putra dari pasien itu sendiri yang sudah kenal dekat denganmu." Ucap tuan Raihan.


"Siapa papi ..?"


"Nak Kamal...!"


Duaaarrr....


"Kamal...! Astaga..! Aku baru dua kali bertemu dengannya papi, selebihnya kami tidak pernah bertemu lagi karena kesibukan kami." Ucap Bella.


"Papi..! Tolong Bella. Bella belum ingin berumah tangga. Bella belum siap berpisah dengan kalian." Kata Bella lirih.


"Sayang ...! Apakah kamu tidak mau papa yang menikahkan kamu di hari bahagia mu, nak?" Tanya tuan Raihan dengan wajah sendu.


"Bella...! Semua teman mami sudah menggendong cucu. Dan mami sangat malu saat mereka melontarkan kata-kata yang tidak pantas untuk mami dengar nak." Ucap nyonya Anggi.


"Mereka mengatakan kamu perawan tua. Cantik, dokter dan cerdas tapi sayang, tidak laku juga." Ucap nyonya Anggi membuat Bella mengepalkan kedua tangannya menahan geram.


"Mami... Kalau hanya bisa laku, mungkin Bella bisa dapatkan menantu untuk mami sejak Bella masih kuliah.


Tapi Bella tidak bisa asal pilih suami karena Bella menikah dengannya untuk seumur hidup bukan hanya untuk main-main." Ucap Bella.


"Kalau begitu, kenapa tidak terima lamaran nak Kamal saja Bella. Dia seorang pengusaha, masih lajang dan sangat tampan.


Tolonglah, jangan terlalu idealis jadi gadis Bella. Waktu terus berlalu dan usia muda mu akan meninggalkan Kamu.


Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Jadi jangan terlalu menjadi gadis pemilih." Sarkas nyonya Anggi membuat Bella tersentak.


Bella keluar kembali menuju mobilnya. Ia menyetir menuju rumah milik Elma. Ia menghubungi Elma untuk minta Ijin menginap di tempat itu. Elma mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum menyampaikan kepentingannya.


"Teteh...!"


"Iya Bella...!"


"Apakah Bella boleh menginap di rumah teteh?"

__ADS_1


"Silahkan sayang ..! Kamu mau tinggal di situ juga terserah. Teteh malah senang kamu menginap di rumah teteh. Lagi pula, ada pelayan juga banyak di rumah itu.


Pinta saja apa yang kamu inginkan pada mereka. Nanti teteh Elma yang akan menyampaikan kepada mereka mami menginap di rumah teteh." Ucap Elma membuat Bella merasa terhibur.


"Makasih teteh. Bella sayang sama teteh."


Ucap Bella menahan kesedihannya agar Elma tidak curiga kepadanya.


"Bella ..! Apakah kamu baik-baik saja sayang...?" Tanya Elma cemas.


Suara Bella yang terdengar dibuat-buat gembira namun tercekat sesaat lalu menarik nafas dalam membuat Elma curiga padanya.


"Bella tidak apa teteh." Ucap Bella.


"Kamu sedang bawa mobil, Bella?"


"Iya teteh ..! Bella sangat ngantuk dan di rumah banyak saudara dan Bella tidak akan bisa istirahat kalau ada mereka. Berisik." Ucap Bella bohong.


"Bella ..!"


"Iya teteh ..!"


"Kamu bisa mengandalkan teteh dalam segala hal. Teteh siap mendengarkan keluh mu kapan saja, Bella butuh untuk curhat " Ucap Elma.


"Baik teteh. Sekarang, Bella sudah tiba di rumah teteh. Bella tutup dulu ya, teh." Ucap Bella sekalian pamit pada Elma.


"Baiklah. Selamat istirahat Bella." Ucap Elma diikuti salam penutup mengakhiri percakapan mereka.


Sementara di perusahaan, Darren sibuk menandatangani berkas persetujuan tender yang akan mereka rancang untuk pembangunan beberapa gedung sekolah yang akan dibangun di beberapa komplek perumahan elite.


KIA yang masuk ke ruang kerja Darren dengan wajah tertekuk membuat Darren menatapnya heran.


"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" Tanya Darren saat jam sudah pukul tujuh malam.


"Bella menolak pinangan ku." Ucap KIA dengan wajah cemberut.


"Itu kesalahanmu sendiri KIA. Jangan terlalu percaya diri, jika Bella mau menerima kamu semudah itu." Ucap Darren.


KIA tidak bisa berkutik mendengar ucapan Darren. Apa yang dikatakan DARREN ada benarnya. Ia hanya bisa menarik nafas berat dan memikirkan solusi lain untuk bisa mendapatkan lagi cinta Bella.


"Apa yang harus aku lakukan Tuan? Aku hanya menginginkan Bella, tidak dengan gadis yang lain. Jadi, jangan meminta aku untuk mendekati gadis lain." Ucap KIA.


"Kalau kamu memang mencintainya, jangan menyerah untuk mendapatkan lagi dirinya. Cewek itu kalau di kejar terus, kama kelamaan ia akhirnya bisa luluh dan itu yang membuat mereka merasa kalau dicintai oleh kekasihnya." Ucap Darren.

__ADS_1


__ADS_2