
Darren sudah berada lagi di rumahnya. Ia tidur dalam dekapan istrinya karena saat ini ia sangat lelah setelah mengurus kecelakaan yang menimpa asistennya KIA.
Elma membiarkan suaminya tidur dan tidak ingin melontarkan pertanyaan apapun pada Darren.
Sebenarnya, Elma juga penasaran dengan keadaan KIA, namun ia tidak berani bertanya kepada dokter Bella kalau suaminya sendiri tidak mengijinkannya.
Bella masih setia menemani Kia, namun KIA menjadi berubah dingin padanya. Walaupun begitu, Bella tidak mundur begitu saja karena ia yakin KIA saat ini hanya syok dengan kecelakaan yang menimpanya.
Kini Kia sudah dipindahkan di rumah sakit Jakarta atas permintaan pasien sendiri. Dokter Bella siap mengambil cuti untuk bisa mengurus keadaan KIA.
"Kenapa kamu repot-repot mengambil cuti hanya untuk mengurusku? Bukan kamu tidak ingin direpotkan?"
"Dengarkan aku KIA! Jika pernyataan ku tempo hari sangat menganggu mu, aku minta maaf. Lagi pula pernyataan aku jelas, kalau aku tidak mau jatuh cinta pada pasienku yang penyakitan karena itu akan menyusahkan aku.
Dan kau sebelumnya bukan pasienku tetapi kekasihku. Aku pasti harus mengurus mu karena kamu kecelakaan bukan penyakitan.
Jika suatu hari nanti kita sudah berkeluarga, pasti kamu juga sakit dan itu menjadi prioritas aku untuk mengurus mu.
Lantas di mana letak kesalahan aku padamu?" Tanya Bella sambil menahan tangisnya.
Kia kembali terdiam, ia juga tidak tahu dengan perasaannya saat ini. Ia merasa terpasung di brangkar dengan kaki yang belum bisa menapak lantai untuk berdiri.
"Aku kamu masih menolakku? Apakah aku terlalu tinggi buatmu hingga kamu merasa minder? Aku belum pernah merasakan rasa jatuh cinta pada seorang laki-laki kecuali kamu. Hatiku sangat sulit untuk jatuh cinta hingga aku bertemu dengan kamu KIA. Aku mencintaimu dan sangat mencintaimu." Lanjut Bella.
"Itu terserah padamu Bella. Aku tidak mengikatmu. Aku tidak punya cukup keyakinan saat ini dengan tubuhku yang tidak berdaya lagi.
Sekarang aku minta kamu pulang ke Bandung atau aku akan membencimu!"
Titah KIA membuat Bella tidak bisa lagi membujuk pria tampan ini.
Darren dan Elma bersama kedua anaknya membesuk KIA. Melihat keluarga Darren datang, Bella segera keluar karena saat ini ia sedang menangis.
Elma langsung mengejar Bella setelah minta ijin pada Darren.
"Sayang...! Sepertinya aku harus bicara dengan Bella. Mungkin KIA sedang setress saat ini."
"Biarlah nanti aku akan menasehati KIA dan kamu tenangkan Bella." Ucap Darren.
__ADS_1
"Iya, sayang. Apakah anak-anak bersama aku atau kamu?"
"Biar sama aku saja, karena kamar inap KIA cukup lega untuk mereka bisa bermain. Kalau sama kamu malah anak-anak tidak bisa di kendalikan." Ucap Darren.
Elma mengecup bibir suaminya dan menyusul Bella yang saat ini ke taman rumah sakit.
Elma mendekati Bella yang sedang menyeka air matanya berkali-kali sambil menahan guncangan tubuhnya karena kesedihannya.
Elma mengusap pundak Bella dari belakang tanpa memberikan komentar apapun. Ia membiarkan air mata Bella bisa menyembuhkan sakit hati gadis ini atas penolakan KIA untuk dirawat olehnya.
Sementara di kamar inap KIA, Darren sedang mendengarkan alasan KIA mengapa ia begitu serius ingin mengusir Bella menjauhi hidupnya.
"Aku merasa masa depanku dengan Bella sudah hancur dengan keadaan aku seperti ini tuan. Mungkin aku tidak bisa menikahinya atau menjadi lelaki yang bangga mendapatkan dokter yang cantik dan cerdas seperti Bella." Ucap KIA.
"Apakah kamu merasa tidak punya kesempatan untuk sembuh KIA?"
"Aku pesimis dengan keadaanku. Aku tidak mau menghancurkan hidupnya dengan mengurus aku seumur hidup."
"Jika kamu memang tidak ingin merepotkan gadis itu, kenapa tidak berjuang untuk sembuh.
Tanya Darren sengaja membuat asistennya ini berpikir ulang untuk mempertahankan cintanya pada Bella.
"Tapi adanya Bella membuat aku terbebani tuan. Aku merasa serba salah dan merasa berhutang janji padanya."
"Jadi kamu maunya apa?"
"Aku ingin berjuang sendiri untuk bisa sembuh dan ingin tenang menjalani apapun yang disarankan dokter untuk kesembuhan ku. Jika aku sembuh mungkin aku akan kembali lagi pada Bella." Ucap KIA terdengar egois menurut Darren.
Tapi kondisi KIA yang sangat labil saat ini, membuat Darren hanya bisa menerima apapun pernyataan KIA tentang hidupnya.
"Baiklah. Kalau itu keputusan aku akan mengirim kamu ke Amerika, di mana rumah sakit yang sama yang telah berhasil membuat aku dan putraku berhasil sembuh. Jika kamu berobat di California Amerika, mungkin Bella tidak akan menemani kamu ke sana." Ucap Darren .
"Terimakasih Tuan Darren! Maafkan aku karena untuk sementara aku minta cuti pada tuan untuk berobat."
"Kamu sudah lama tidak mengambil cuti mu, silahkan kamu ambil cuti mu untuk mendapatkan hasil terbaik dari pengobatan nanti." Ucap Darren.
Di Taman rumah sakit, Bella sudah mulai tenang walaupun masih ada isakan di sela-sela ketenangannya. Elma mulai menasehati gadis ini yang saat ini masih merasa kecewa dengan sikap kekasihnya KIA.
__ADS_1
"Bella.. Apakah aku boleh memberimu nasehat?"
"Iya teteh.. silahkan!"
"Apakah yakin dengan cinta KIA?"
"Sangat yakin teh."
"Kalau begitu, beri dia kesempatan untuk menentukan sikapnya mengatasi situasi yang cukup sulit untuk dirinya saat ini." Ucap Elma bijak.
"Kia tidak menginginkan aku lagi teteh. Kia merasa hidupnya sudah tamat karena ia tidak percaya diri lagi untuk bersanding denganku."
"Bella...! Jika kamu ada di posisinya dengan keadaan dia yang tidak mesti harus berbuat apa pada dirinya, dan melihatmu sempurna untuknya, timbul rasa rendah diri dan tidak pantas untuk siapapun.
Orang seperti KIA saat ini sedang krisis kepercayaan. Aku mohon mengertilah keadaannya saat ini.
Sekarang kamu kembali lagi ke Bandung dan fokus pada tugasmu sebagai dokter.
Tetaplah berbesar hati untuk menerimanya, jika kalian jodoh, pasti kalian akan kembali bersama.
Jika kamu memaksakan kehendak kamu padanya, suasana makin menjadi rumit dan KIA tidak bisa lagi membuat kamu paham atas situasinya." Ucap Elma panjang lebar.
Bella menarik nafas panjang. Ia begitu takut kehilangan KIA.
"Tapi kenapa Tuan Darren saat menghadapi sakit tidak serewel KIA?"
"Masalahnya hubungan kami adalah sepasang suami-istri. Karena hubungan, seorang suami lebih memilih untuk didukung istrinya agar ia bisa melewati saat menjalani pengobatannya. Beda dengan status kalian yang belum jelas. Oleh karena itu, KIA meminta waktu untuk bisa memikirkan yang terbaik untuk kalian berdua." Sahut Elma.
"Baiklah teteh, kalau begitu aku akan pulang ke Bandung hari ini juga." Ucap Bella yang akhirnya mengalah.
"Biar sopir teteh yang mengantarkan kamu ke Bandung."
"Terimakasih teteh untuk nasehatnya."
"Dengan senang hati Bella."
Keduanya saling berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan.
__ADS_1