
Sudah hampir satu bulan, Bella tidak ingin kembali ke rumah orangtuanya dan memilih menempati rumah Elma yang memang hanya tinggal pelayannya saja.
Kelakuan Bella ini sangat membuat kedua orangtuanya kecewa pada putri mereka apa lagi tuan Kamal tidak berhenti memaksakan kedua orangtuanya Bella agar membujuk Bella menikahinya.
"Nak Kamal, kami tidak tahu sampai saat ini di mana Bella menginap. Dia hanya berada di rumah sakit hanya sulit sekali kami temui karena selalu sibuk." Untuk tuan Raihan.
"Apakah Bella menolak lamaran ku, tuan Raihan?"
"Bukan menolak, tapi lebih tepatnya dia tidak ingin menikah saat ini." Ucap tuan Raihan.
"Berarti aku masih punya kesempatan untuk menunggunya move on dari sesuatu yang masih mengganjal hatinya." Ucap tuan Raihan.
"Takutnya dia sudah memiliki kekasih hanya saja masih ada kesalahpahaman antara mereka yang belum terselesaikan.
Maklumlah putriku itu sangat tertutup kalau sudah menyangkut urusan asmara." tebak Tuan Raihan.
"Tapi aku tidak pernah dengar dokter Bella membahas tentang kekasihnya, tuan selama kami ngobrol." Ucap tuan Kamal.
"Lebih baik, nak Kamal sendiri yang menanyakan sendiri pada putriku, aku tidak bisa memberikan janji padamu karena yang menikah adalah putriku, aku hanya menghalalkan kalian atas ijin Allah." Ucap tuan Raihan lirih.
"Baiklah Tuan. Kalau begitu aku permisi."
Ucap tuan Kamal meninggalkan rumah Bella dengan perasaan gusar.
Di rumah sakit Bella sedang menjalani operasi pada pasiennya dengan tingkat kerumitan yang cukup menguras otaknya agar tidak mengenai pembuluh aorta pasien.
Hingga akhirnya, tumor ganas yang bersarang di perut pasien bisa diangkat dengan mudah.
Bella keluar dari kamar operasi yang sudah di tunggu oleh tuan Kamal, sementara ia menugaskan dokter lain untuk menyampaikan hasil operasi mereka pada keluarga pasien.
"Boleh kita bicara sebentar dokter Bella?" Tanya tuan Kamal hati-hati.
"Silahkan ..!"
Keduanya duduk di kantin sambil menunggu pesanan mereka.
"Dokter Bella...! Apakah anda tidak tertarik pada saya sedikitpun?"
__ADS_1
"Saya tidak punya hati untuk anda tuan Kamal. Saya sebenarnya sudah memiliki kekasih hanya saja saat ini kami sedang saling mendiamkan karena masalah prinsip. Saya hanya butuh waktu untuk menenangkan diri untuk bisa kembali lagi kepadanya. Jadi saya mohon anda tidak masuk sebagai pengacau hubungan kami." Ucap dokter Bella tegas.
Tuan Kamal baru melihat sikap tegas Bella yang menolaknya mentah-mentah tanpa perasaan.
"Maaf ini terdengar tidak enak di bagi anda. Tapi saya tidak bisa memilih kata-kata bijak untuk membuat anda mengerti kalau saya tidak menginginkan anda sebagai bagian dari hidup saya." Ucap dokter Bella seraya bangkit untuk kembali ke ruang dokter.
"Sial...! Sombong sekali dia." Ucap tuan Kamal.
Dokter Bella kembali menerima panggilan untuk segera ke ruang IGD. Setibanya di sana, ia melihat pasien itu adalah ibu kandungnya sendiri yang mengalami serangan jantung.
"Mami....!" Pekik Bella saat melihat ibunya terbaring lemah tak berdaya dengan cup oksigen menutupi hidung dan mulutnya.
Tatapan nyonya Anggi terlihat menyedihkan melihat putrinya yang menghilang begitu saja dari rumahnya. Nyonya Anggi membuka cup oksigennya ingin bicara pada putrinya.
"Inikan yang kamu mau Bella? Kamu ingin kami mati supaya hidupmu bebas dan memikirkan kami lagi?" Sindir ibunya tanpa melihat kondisi lelahnya Bella.
"Mami ..! Aku hanya ingin memikirkan pria yang ku nikahi benar-benar mencintai aku dan sebaliknya aku padanya."
"Pikirkan terus sampai kau menua."
Umpat nyonya Anggi tidak kenal tempat padahal ada kolega putrinya yang sedang memeriksa keadaan nyonya Anggi di ruang IGD.
"Apa peduli mu, aku mau mati atau tidak." Semprot nyonya Anggi.
"Mami!! Tolong dipakai oksigennya jangan dilepas!" Pinta Bella.
"Aku mau mati saja. Apa gunanya aku hidup memiliki putri keras kepala sepertimu." Ucap nyonya Anggi dengan nafas yang mulai terasa berat.
"Dokter Bella. Saturasi pasien rendah dan tekanan darahnya naik. Pasien kembali mengalami serangan jantung. Apakah harus siap di operasi?" Tanya dokter Meilan.
"Bawa buku ke ruang operasi!" Titah dokter Bella.
"Sebaiknya anda istirahat dokter Bella. Biar kami yang akan operasi ibu anda dokter Bella." Ucap dokter Reynal.
"Baik dokter Reynal. Terimakasih!" Ucap dokter Bella lalu menunggu di kamar khusus untuk dokter untuk bisa beristirahat.
Bella menangis di dalam kamar itu. Hatinya benar-benar sedih karena sifat keras kepalanya sudah membuat ibunya jatuh sakit karena terlalu memikirkan dirinya.
__ADS_1
Tepat di hari itu, KIA mendatangi lagi rumah sakit. Dokter Bella yang tidak bisa tidur keluar dari kamarnya hendak menemui ayahnya, namun KIA sudah berdiri di depan kamar khusus untuk dokter jaga.
"Sayang...!" Sapa KIA dengan wajah yang sedang memendam kerinduan yang mendalam pada kekasihnya.
"KIA ...! Kenapa kamu ke sini?"
"Aku sudah melamar kamu pada ayahmu. Aku sudah mengaku semua dosaku pada ayahmu. Aku mohon tolong terima aku menjadi suamimu."
Pinta KIA langsung berlutut di depan Bella membuat Bella sangat malu pada teman-temannya yang memperhatikan mereka.
"KIA bangunlah! Jangan seperti itu. Aku sangat malu pada teman-temanku." Ucap Bella.
"Aku tidak akan bangun sebelum kamu menerima lamaran ku." Ucap KIA setengah memaksa.
"Tapi ibuku saat ini sedang sakit dan aku belum tahu keadaannya. Bagaimana bisa aku menjawab lamaran mu." Ucap Bella.
Tidak lama Elma ikut masuk ke dalam ruangan itu membuat Bella makin membelo.
"Jangan lagi menipu dirimu sendiri Bella. Aku sudah memberitahu KIA kalau kamu sangat mencintainya. Dia juga sama tersiksanya sepertimu.
Mengapa harus menghabiskan air mata yang tak berguna hingga kamu tidak sadar kamu terlihat bodoh sendiri karena di perbudak oleh keegoisan kalian berdua." Ucap Elma.
"Apakah kamu mau menjadi istriku Bella?" Tanya KIA sambil menunjukkan cincin berlian untuk kekasihnya.
Bella akhirnya mengangguk dan menerima lamaran KIA. Elma begitu bahagia bisa meyakinkan Bella untuk menerima KIA yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.
Kia menyematkan cincin berlian itu pada jari manis Bella. Beberapa orang dokter yang ada di ruangan itu bertepuk tangan dan menyalami pasangan ini.
"Kami tunggu undangan pernikahannya dokter Bella. Selamat. Kekasihmu sangat tampan."
Ucap salah satu dokter dan yang lain mengikuti untuk menyalami pasangan ini.
Elma meninggalkan ruangan dokter dan mencari suaminya yang sedang menunggunya.
"Bagaimana sayang? Apakah dokter Bella sudah menerima pinangan KIA?"
Tanya Darren dengan wajah cemas karena wajah Elma terlihat sendu.
__ADS_1
"Tolong antar aku untuk mencari hantaran lamaran ke rumah Bella." Ucap Elma membuat Darren langsung memeluk istrinya.
"Alhamdulillah... terimakasih sayang. Akhirnya keduanya kunyuk itu menikah juga." Ucap Darren lalu mendaratkan ciumannya pada bibir sang istri.