RAJA TERAKHIR

RAJA TERAKHIR
DIALOG DENGAN PERTAPA SIAMDY


__ADS_3

"Mungkin itu hanyalah suara dalam hatimu sendiri yang mencoba untuk mengingat hal yang baik dari sisi baikmu.."pendekar utarono memberikan pendapatnya tentang suara yang di ditangkap dari telinganya.


"Bisa juga begitu, karena dalam diri manusia ada sisi baik dan sisi jahatnya.. tentu sisi jahat di pengaruhi oleh setan yang tak terlihat membisikan kedalam ruang hati manusia.." pertapa siam menjelaskan tentang hal itu dari sudut perspektifnya.


"Aku pikir begitu bahwa manusia itu bukan malaikat dan bukan pula setan tentu ada salah dan dosa yang dilakukan.... kadang menurut atau taat kadang pula bahkan menentang ataupun lainnya..."pertapa siam melanjutkan ucapannya.


"Betul .. begitu ??" Pendekar utarono membenarkan pendapat yang diberikan oleh pertapa siam.


"Kakakmu x4y yakin mampu melawan tantangan yang dihadapi dalam setiap perjalanan hidup yang dilaluinya.."pertapa siam membuka pembicaraan yang lain.


"Tapi sejak dulu pertapa banyuputih atau x4y tidak pernah mau menjadi raja di kerajaan genibiru ataupun kerajaan otaram.


"Pertapa x4y bagai air mengalir apa adanya...dan larut dalam kehidupan.."pendekar utarono menyahut pertapa siam.


"Pertapa banyuputih mampu untuk melawan segala rintangan dan tantangan.." pertapa siam melihat jauh kedepan.


"Boleh aku bertanya?" Raja sangura mengajukan pertanyaan kepada pertapa siam.


"Silahkan !!.jika aku bisa pasti aku jawab dengan kemampuan yang aku punya.…"pertapa siam mencoba untuk menjawab


"Perang yang sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu ataupun mengendalikan hawa nafsu dalam diri kita. melawan diri sendiri..."pertapa siam memberikan sedikit pemahaman tentang pengendalian diri dari hawa nafsu.


"Tapi kebanyakan teori lebih mudah ya..?"pendekar utarono memberikan pendapatnya kepada pertapa siam.


"Nafsu amarahnya..nafsu makan.. apapun bisa dimakan bahkan aspal bisa dimakan... jembatan bisa dimakan...bahan bangunan bisa dimakan.. nafsu -nafsu yang lain..'pertapa Siam menambahi ucapannya.


"Didunia ini yang besar adalah nafsu dalam diri manusia.." pertapa siam menambahi ucapannya sendiri.


"Jadi perang pengendalian diri dari segala sesuatu yang tak terkendali dalam diri kita." Pertapa siam memberikan petuah kepada pendekar utarono dan raja sangura sekaligus mengingatkan pada dirinya sendiri tentang pengendalian diri.


"Bersabar... bersyukur... bersabar... bersyukur.. yang dilakukan mengendalikan diri.." pertapa siam.


" Pertapa siam..kamu sering melakukan hal itu? " Raja sangura bertanya kepada pertapa siam.


"Aku masih belajar memperbaiki dari hal yang membawa cukup jauh tinggalkan pengendalian diri.." pertapa siam hanya sekedar


"Seperti kebaikan itu bagaikan sahabat dalam kehidupan ini dan nanti..

__ADS_1


Dan sebaliknya kejahatan itu bagaikan setan bayangan yang akan menggangu kehidupan ini dan nanti..." Pertapa siam mencoba menggambarkan sesuatu hal yang tak terlihat namun bisa dirasakan dalam diri manusia.


"Nampaknya aku tidak mau terlalu banyak bicara tentang hal yang membuat diri kita jadi sombong..."raja sangura mencoba untuk tidak terlalu banyak bicara dengan apa yang dikatakan oleh pertapa siam itu.


"Tidak... seperti itu.."pertapa siam menyahut pembicaraan raja sangura.


" Bersyukur ketika melihat kebawah saat ada di atas dan bersabar saat kekurangan..." Pendekar utarono menambahi pendapatnya.


"Bersyukur saat ada dan bersabar saat tak ada .... singkatnya begitu.. tidak perlu lebih detail dijelaskan.." pertapa siam hanya memberikan arti yang sederhana dari apa yang dimaksud dua kata itu.


"Karena sebenarnya bisikan setan kedalam diri manusia selalu membuat diri manusia menjadi lupa diri dan kadang tak terkendali oleh pengaruhnya..." Pertapa siam memberikan petuah kepada pendekar utarono dan raja sangura juga sekaligus mengingatkan dirinya sendiri.


"Selalu beradu kekuatan dalam pikiran dan hati saat bisikan setan merasuk kedalam sanubari manusia.."pertapa siam memberikan gambaran sedikit tentang hal itu kepada pendekar utarono dan raja sangura dari perspektif pertapa siam.


"Pertapa banyuputih mampu untuk melawan segala rintangan dan tantangan.." pertapa siam melihat jauh kedepan.


"Boleh aku bertanya?" Raja sangura mengajukan pertanyaan kepada pertapa siam.


"Silahkan !!.jika aku bisa pasti aku jawab dengan kemampuan yang aku punya.…"pertapa siam mencoba untuk menjawab


"Perang yang sesungguhnya adalah perang melawan hawa nafsu ataupun mengendalikan hawa nafsu dalam diri kita. melawan diri sendiri..."pertapa siam memberikan sedikit pemahaman tentang pengendalian diri dari hawa nafsu.


"Tapi kebanyakan teori lebih mudah ya..?"pendekar utarono memberikan pendapatnya kepada pertapa siam.


"Nafsu amarahnya..nafsu makan.. apapun bisa dimakan bahkan aspal bisa dimakan... jembatan bisa dimakan...bahan bangunan bisa dimakan.. nafsu -nafsu yang lain..'pertapa Siam menambahi ucapannya.


"Didunia ini yang besar adalah nafsu dalam diri manusia.." pertapa siam menambahi ucapannya sendiri.


"Jadi perang pengendalian diri dari segala sesuatu yang tak terkendali dalam diri kita." Pertapa siam memberikan petuah kepada pendekar utarono dan raja sangura sekaligus mengingatkan pada dirinya sendiri tentang pengendalian diri.


"Bersabar... bersyukur... bersabar... bersyukur.. yang dilakukan mengendalikan diri.." pertapa siam.


" Pertapa siam..kamu sering melakukan hal itu? " Raja sangura bertanya kepada pertapa siam.


"Aku masih belajar memperbaiki dari hal yang membawa cukup jauh tinggalkan pengendalian diri.." pertapa siam hanya sekedar


"Seperti kebaikan itu bagaikan sahabat dalam kehidupan ini dan nanti..

__ADS_1


Dan sebaliknya kejahatan itu bagaikan setan bayangan yang akan menggangu kehidupan ini dan nanti..." Pertapa siam mencoba menggambarkan sesuatu hal yang tak terlihat namun bisa dirasakan dalam diri manusia.


"Nampaknya aku tidak mau terlalu banyak bicara tentang hal yang membuat diri kita jadi sombong..."raja sangura mencoba untuk tidak terlalu banyak bicara dengan apa yang dikatakan oleh pertapa siam itu.


"Tidak... seperti itu.."pertapa siam menyahut pembicaraan raja sangura.


" Bersyukur ketika melihat kebawah saat ada di atas dan bersabar saat kekurangan..." Pendekar utarono menambahi pendapatnya.


"Bersyukur saat ada dan bersabar saat tak ada .... singkatnya begitu.. tidak perlu lebih detail dijelaskan.." pertapa siam hanya memberikan arti yang sederhana dari apa yang dimaksud dua kata itu.


"Karena sebenarnya bisikan setan kedalam diri manusia selalu membuat diri manusia menjadi lupa diri dan kadang tak terkendali oleh pengaruhnya..." Pertapa siam memberikan petuah kepada pendekar utarono dan raja sangura juga sekaligus mengingatkan dirinya sendiri.


"Selalu beradu kekuatan dalam pikiran dan hati saat bisikan setan merasuk kedalam sanubari manusia.."pertapa siam memberikan gambaran sedikit tentang hal itu kepada pendekar utarono dan raja sangura dari perspektif pertapa siam.


"Sebentar...aku merasa ada yang datang..kesini... lihat arah sebelah sana!!" Pertapa siam menunjuk kearah langit biru yang akan tertutup awan gelap.


Saat mereka berbincang bincang sembari menikmati pemandangan didepannya dan angin dingin berhembus.


Muncul sesosok bayangan putih menghapus semua yang ada didepannya mereka bertiga.


"Kita telah diserang sesosok bayangan putih itu!!" Pendekar utarono melompat langsung menghindari serangan tiba-tiba muncul didepan mereka.


"Bayangan putih datang!!" Pertapa siam langsung menahan serangan mendadak kearah mereka.


'ini apa..!!" Seperti pernah terjadi pada diriku sebelumnya..."raja sangura terhempas kebelakang membentur dinding rumah dan jatuh ketanah.


"Siapa bayangan putih itu? Tiba-tiba menyerang kita?" Pendekar utarono bergegas menghindari bayangan putih datang dan menyerang kembali.


Sesaat kemudian bayangan putih datang kembali dan menyerang mereka bertiga.


"Bayangan putih menyerang pendekar utarono dan raja sangura!!" Pertapa siam mengejar bayangan putih itu hingga turun pegunungan hijau.


"Pertapa siam mengejar bayangan putih itu hingga turun gunung.." raja sangura ikut mengejarnya dari belakang.


"Hem ..ini apa??? Padahal dia yang telah membawaku kesini! ..


..tapi malah membawa pertapa siam turun gunung..?" Pendekar utarono ikuti mereka pergi turun gunung.

__ADS_1


Sementara itu di kerajaan otaram pertapa banyuputih sedang berbincang bincang dengan seseorang bernama..


__ADS_2