Reinkarnasi Istri Kontrak Presdir Kejam

Reinkarnasi Istri Kontrak Presdir Kejam
Terdiam


__ADS_3

Setelah suasana yang menegangkan itu dan Edward sudah dikatakan melewati masa kritisnya. Kini Areum menemani Edward. Di tatapnya pria di depannya itu. Ia bingung dengan Edward melakukannya.


"Kenapa kau melakukannya? Bukankah seharusnya kau senang? Kaulah penyebab kepergian ku Edward."


Suasana panas tadi yang belum selesai karena Dokter tiba-tiba keluar setelah mengoperasi Edward.


Mommy Amber masih diam, sepertinya masih syok sama seperti Alika. Mereka hanya diam duduk di sofa.


Areum melirik Mommy Amber dan Alika kemudian beralih pada nenek Mely. "Nenek pulang saja, biar aku yang menjaga Edward. Nenek tidak boleh sakit, Edward akan sedih. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri."


"Tapi nenek ingin menemaninya."


"Nenek Edward akan baik-baik saja. Tolong Nek, turuti permintaan Areum." Areum menoleh ke arah Alika. "Alika, kamu antar nenek pulang dan Mommy ikutlah. Biar aku saja yang menjaga Edward. Tenang saja, aku tidak akan mencekik Edward."


Areum yakin, kalau kedua wanita ini pasti akan melayangkan tuduhan padanya.


"Ayok nek kita pulang," ujar Alika. Dia akui yang di katakan Areum benar. Ia tidak ingin neneknya tumbang.


"Mommy pulanglah, biar aku yang menjaga Edward." Mommy Amber menyela, ia ingin menjaga putra semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Baiklah, jangan mencari gara-gara lagi," ucap Nenek Mely. Ia tidak ingin menantunya itu kembali menyakiti cucu menantunya.


Setelah kepulanga nenek Mely dan Alika. Kini tinggalah mommy Amber dan Areum di ruangan yang sama. "Kau puas?"


Areum diam, tapi bukan berarti dia akan diam saja.


"Seharusnya kau pergi saja?"


"Apa karena aku anak yatim piatu Mommy tidak suka pada ku? Lalu bagaimana dengan anak orang kaya yang menyakiti Mommy?"


Mommy Amber menatap Areum dengan tatapan sinis. Seharusnya yang merasa berslah adalah menantunya itu. "Kau dua kali menyakiti Edward. Pertama tangannya yang belum sembuh, kini menambah luka lainnya, apa artinya kalau bukan pembawa sial."


"Mommy mengatakan aku pembawa sial? kalau seandainya Mommy berada di sisi ku, suami Mommy berselingkuh apa Mommy akan mengatakan dirinya Mommy pembawa sial?"


"Katakan pada ku Mom."


Mommy Amber diam, ia tidak memiliki jawaban dengan perkataan Areum.


"Sebaiknya Mommy tidur dan jangan berisik besok pagi Mommy harus menjemput menantu kesayang Mommy untuk menjenguk Edward."

__ADS_1


Areum emnghela nafasnya, ia memandang tangan Edward dan menyentuhnya. Dulu di masa lalu ia sangat ingin menyentuh tangan Edward. "Nenek sedih, kau harus sembuh."


Padahal Dokter sudah mengatakan Edward melewati masa kritisnya, tapi pria itu belum membuka kedua matanya.


"Bangunlah,"


"Siapa?"


Samar-samar Edward mendengarkan seseorang dan merasakan sebuah aliran hangat.


Ia ingin bangun, namun tubuhnya terasa sakit. Ia terus berusaha menggerakkan tubuhnya. Sekelilingnya terasa dingin, dia tidur di dataran es dan salju yang turun di atas tubuhnya.


Kata seseorang menyuruhnya untuk bangun terus mengiang di pikirannya.


Edward membuka kedua matanya, ia menyapu ruangan itu. Bau obat memasuki hidungnya. Dia melirik ke sisi kanannya dan melihat seorang wanita yang tidur dengan menggunakan sebelah tangannya sebagai bantal.


"Areum..."


Edward tersenyum, Areumnya baik-baik saja. Air matanya merebes keluar. "Kau baik-baik saja."

__ADS_1


"Edward." Mommy Amber tersenyum, dia awalnya tidur, namun beberapa menit memejamkan kedua matanya dan teringat Edward. Dia menoleh ke arah Edward dan melihat pria itu sudah membuka matanya.


Edward menggeleng dan melirik ke arah Areum yang sedang tidrur seolag mengatakan untuk jangan berisik agar tidak membangunkan Areum yang sedang tidur.


__ADS_2