
Krek
Tatapan keduanya teralihkan, di sana ia melihat Helena, mommy Amber dan seorang pria yang mendorong kursi roda Helena. Ketiga orang itu masuk bersamaan. Helena dan pria yang di sapa dengan Anton itu menghampiri Edward sedangkan mommy Amber menaruh beberapa makanan ke atas meja.
"Kepompong mu sudah datang." Areum sudah menduga wanita itu akan datang.
"Edward, bagaimana kabar mu? Aku tidak tau kau sakit." Helena merasa menyesal, kenapa ia tidak tau dari awal? Seandainya Alika mengatakannya dari awal ia pasti menjaga Edward.
"Aku baik-baik saja Helena. Ada Areum yang menjaga ku."
Helena melirik Areum, kemudian mematahkan pandangannya lagi. "Bagaimana bisa kamu kecelakaan?"
"Ada seseorang yang berniat mencelakakan aku dan Edward yang menggantikan aku. Waktu itu aku sama nenek Mely." Areum melirik ke arah tuan Anton. Kedua matanya tak berkedip melihat tuan Anton.
Tuan Anton membalas tatapan Areum, ia berpikir Areum tidak mungkin mengetahuinya. "Apa Nak Edward sudah tau siapa yang melakukannya?"
"Belum, tapi aku berjanji dia akan menyesalinya, seumur hidupnya."
Edward menatap istrinya itu, ia kemudian menatap ke arah tuan Anton. Kedua orang ini seperti sudah kenal. Padahal Areum tidak pernah keluar rumah.
__ADS_1
"Edward, Helena sangat khawatir dengan keadaan mu. Makanya dia langsung kesini tanpa memikirkan dirinya yang sedang sakit." Mommy Amber menyela, ia memamerkan Helena kalau Helena sangat takut terjadi sesuatu pada Edward.
"Nona Helena sangat perhatian pada suami orang."
Seketika senyum mommy Amber dan Helena yang tampak malu-malu itu meredup. Mereka seperti seorang wanita yang ingin merebut suami orang atau memisahkannya.
"Aku sangat senang suami ku memiliki mantan kekasih yang sangat perhatian. Cantik dan baik." Areum melirik tuan Anton. Seketika pria itu salah tingkah. "Demi seseorang yang sangat di cintai akan merelakan apapun, bukankah begitu tuan Anton?"
"Hah, iya." Tuan Anton gelagapan. "Helena ayah ada urusan di luar, kalian mengobrolah."
Apa wanita itu tau kalau aku yang melakukannya? Aku harus melenyapkannya. Jangan sampai keluarga Edward tau.
"Tuan Anton."
Pria itu membungkuk pada nenek Mely kemudian menegakkan kembali tubuhnya. "Nyonya."
"Bisa kita bicara empat mata?"
Walaupun ragu, tuan Anton mengangguk. "Bisa Nyonya."
__ADS_1
"Ikut aku, Alika kamu masuk dulu. Aku ingin berbicara dengan tuan Anton."
Nenek Mely pun berjalan lebih dulu, tuan Anton mengikutinya dari belakang. Kini mereka telah sampai di halaman rumah sakit. Beberap orang yang sedang membawa keluarganya sedang sakit sekedar mencari udara segar sama dengan beberapa suster yang sedang membawa pasiennya.
"Apa ada sesuatu yang nyonya ingin katakan?"
"Aku ingin kau memisahkan Helena dan Edward." Nenek Mely langsung mengatakan keinginannya. "Edward sudah memiliki Areum."
"Tapi mereka saling mencintai."
"Dan kau tidak mau memisahkannya?"
Tuan Anton diam, nenek Mely sudah mengerti jawaban selanjutnya. "Selamanya aku tidak akan merestui kalian."
"Kenapa? Apa kurangnya putri ku?" tanya tuan Anton. Ia sangat mencintai putrinya itu dan akan melakukan apapun demi kebahagiannya.
"Kekurangannya dia adalah anak selingkuhan putra ku. Kau tidak mungkin lupa dengan selingkuhan istri mu kan? Pria yang menjadi selingkuhannya adalah putra ku ayah dari Edward."
Wajah tuan Anton sangat syok, ucapannya yang ingin keluar berhenti dalam sekejap. Tidak mungkin Edward adalah anak dari pria yang merusak rumah tangganya.
__ADS_1
"Aku harap kau bisa memikirkan baik-baik."