
Helena mengepalkan kedua tangannya. Hari ini akan keluar dari rumah sakit, sebelum itu ia harus bertemu dengan Edward.
Namun kedua matanya melihat Areum yang hendak masuk ke kamar Edward.
"Areum."
Areum menoleh, ia membeli roti sebagai camilan untuk Edward. Dia sengaja ingin keluar dan mencari alasan membelikan roti padahal niatnya ingin menguping pembicaraan Helena dan ayahnya.
"Aku ingin berbicara dengan mu."
Areum menatap Edward yang sedang berbincang dan mengobrol santai dengan nenek Mely, mommy Amber dan Alika. "Baiklah, hanya sebentar."
Helena menuju ke ruang tuanggu. Areum pun duduk dengan santai. "Aku ingin kau melepaskan Edward."
"Baik." Singkat dan padat, Helena tak percaya pada wanita di depannya yang melepaskan Edward begitu saja. "Aku akan melakukannya. Jadi hanya itu? Aku tidak enak yang lainnya menunggu ku."
"Kau melepaskan Edward begitu saja?" tanya Helena tak percaya. Ia sekali lagi menanyakannya karena merasa pendengarannya sedang terganggu.
Areum tersenyum, wanita ini mempermainkan mulutnya. "Iya, kau tidak benar-benar bodoh kan?" Ejeknya. "Buka telinga mu lebar-lebar, aku tidak membutuhkannya kau bisa mengambilnya tanpa menyiksa mu. Kau harus melakukan upaya agar Edward sendiri yang melepaskan aku."
Sungguh bodoh, cinta mu terlalu buta Helena.
__ADS_1
"Aku tidak percaya apa yang kau katakan. Dengan mudahnya kau memberikan Edward padahal dia sudah mengorbankan nyawa mu."
Areum menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku sudah berkorban, jadi manfaatkan. Jangan mengurusi ku, urusi saja dirimu bagaimana caranya meyakinkan Edward."
Bodoh, semakin kau terhasut semakin kau akan di benci oleh Edward.
"Aku yakin masih ada kamu di hatinya. Jadi jangan pernah berpikir kalau aku sudah kalah, Helena."
Areum bergegas pergi, dia sengaja melakukannya. Helena sangat mudah terhasut.
...
"Areum." Edward dengan senangnya mengambil roti yang berisi cokelat itu. "Aku ingin memakannya, aku sangat lapar."
"Baik Nek."
Areum membuka bungkus plastik roti itu, kemudian menyuapinya ke mulut Edward.
"Ini sangat enak Nek," ujar Edward. Ia merasa senang karena Areum mau menyuapinya. Sedangkan mommy Amber dan Alika merasa kesal.
Areum melirik Alika. "Alika bagaimana hubungan mu dengan pacar mu?" tanya Areum.
__ADS_1
Alika menaikkan sebelah alisnya, ingin sekali wanita di depannya tau tentang hubungannya. "Yang jelas aku bahagia."
"Benarkah?" tanya Areum. Dia tadi melihat pacar Alika bersama dengan seorang wanita menuju keruangan Dokter kandungan. "Tadi aku sepertinya melihat pacar mu. Mungkin hanya salah lihat."
Alika penasaran, sudah dua hari pacarnya tidak mengubunginya. "Dimana?"
"Ke Dokter kandungan."
"Hanya salah lihat mungkin, kau kan sangat percaya kalau pacar mu sangat menyayangi mu. Dia pasti sering menghubungi mu."
Edward dengan polosnya mendengarkan perkataan Areum. Ia tidak berniat untuk bergabung dalam perbincangannya. "Sayang, aku kenyang ingin minum."
Areum mengambil air minum di gelas putih yang berada di atas nakas. "Ini,"
"Sudahlah jangan memikirkannya."
Mommy Amber merasa tak suka, pasti Areum sengaja ingin membut putrinya sedih. "Sudah sayang jangan mendengarkan ucapan Areum."
Alika mengangguk, mungkin saja yang di katakan Areum tidak benar.
"Amber jangan terlalu memanjakan Alika." Tegur nenek Mely. "Alika sudah dewasa, dia harus melihat mana yang baik dan bukan."
__ADS_1
"Iya Mom, aku akan menjaga Alika dengan baik."
Areum tersenyum, dengan perkataannya ini Alika pasti gelisah.