
"Kakak." Sapa Alika. Malam ini Edward datang ke mansionnya. Setelah kepergian Areum. Edward memilih tinggal bersama sang nenek.
Edward menaruh paper bagh di atas meja. Kemudian mengambil baby Aleondra yang di sapa dengan baby Al.
"Umm harumnya." Edward mencium pipi gembul baby Al.
"Aku siapkan kopi dulu untuk kakak."
Edward mengangguk, semenjak Alika dinyatakan hamil dan kepahitan kenyataan yang di terimanya. Kini Alika semakin dewasa, dia tidak lagi bersikap manja justru sekarang bersikap keibuan.
Baby Al terkekeh geli saat Edward menggelitikinya di dadanya dengan mulutnya membuat suara jembrut-jembrut.
Tiba-tiba suatu bayangan melintas di kepalanya. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika ia memiliki anak pasti sangat menggemaskan seperti dengan Areum.
"Kakak ini kopinya." Alika menaruh secangkir kopi panas dan pahit ke atas meja.
Edward menoleh, "O iya itu ada beberapa baju untuk Al."
Alika mengambilnya, ia bersyukur memiliki seperti Edward yang mau menerimanya. Padahal ia sudah mencoreng nama baiknya. "Kak bagaimana kabar kak Areum?"
Edward menghela nafas, keluarganya pasti tau sekarang apa saja yang di lakukan oleh Areum. Berita tentangnya sudah pasti jadi pembicaraan heboh di media. Keluarganya sudah tau semuanya.
__ADS_1
"Aku mendengarkan berita tentang kak Areum. Banyak sekali media yang mengatakan kalau kak Areum menjalani hubungan dengan salah satu aktor," ujar Alika. Tapi ia tidak percaya dengan berita. Areum pasti hanya berteman saja.
"Bagaimana kalau berita itu benar? Areum memiliki hubungan dengan orang lain?"
"Kita akan tetap menerimanya," ujar Mommy Amber. Dia menghentikan kakinya di salah satu anak tangga tepat di ujung anak tangga terakhir di lantai bawah. "Kita tetap menerimanya. Namanya sudah terdaftar di keluarga kita."
"Maafkan mommy Edward. Gara-gara Mommy kau seperti ini, rumah tangga mu seperti ini. Areum belum ingin bertemu dengan mommy."
Edward menghampiri mommy Amber. "Ini salah kita semua Mom. Doakan Edward, Edward sedang berjuang untuk mengembalikan kepercayaannya."
Mommy Amber meraih sebelah tangan Edward. "Iya, Mommy selalu berdoa yang terbaik untuk mu dan Areum. Bawa dia kembali. Sekalipun dia memiliki hubungan dengan orang lain, tapi kau lebih berhak, kau suaminya."
"Nyonya, itu Nyonya Areum," ujar seorang pelayan. Kebetulan sebuah film yang di bintangi Areum sedang tayang.
"Kita lihat," ujar mommy Amber. Ia tidak sabar melihat menantunya itu.
Areum membintangi sebuah adegan protagonis wanita. Dia menjadi seorang wanita polos dan lugu yang di cintai seorang CEO.
"Romantisnya kak Areum."
Edward menoleh pada Alika. Ia tidak suka dengan adegan ini. Dimana ia harus melihat istrinya di peluk pria lain.
__ADS_1
"Akting Areum sanga bagus, pantas sekali di menjadi ratu perfilman." Mommy Amber menikmati dan menghayati peran Areum.
"Kalian mendukung Areum?"
"Mau bagaimana lagi kak? Terima gak terima ya kakak harus terima. Itu kan pekerjaan kak Areum."
Edward menoleh pada baby Al. "Aku ingin membuat Areum hamil." Ia hampir putus asa. Jalan-jalan satu-satunya memiliki anak agar Areum betah di sampingnya.
"Pelan-pelan saja Edward jangan memaksa kalau Areum belum mau memiliki anak."
"O iya Mom, Areum akan kesini. Salah satu produk kosmetik di iklankan oleh Areum. Ternyata mahal sekali aku membali pekerjaannya mom."
"Iya gak masalah kak, yang penting kak Areum pulang ke negaranya."
Sedangkan Areum sedang menyantap hidangan dengan kevin. Malam ini mereka makan bersama.
"Apa makanannya enak?" tanya Kevin basa-basi. Ia tidak tau kesukaan makanan Areum. Ingin sekali ia mencari tau kesukaannya.
"Enak, tidak ada lagi kan acaranya. Aku mau pulang, kau tau seharian ini aku sibuk. Besok aku harus melakukan perjalanan." Areum bangkit, ia masih membatasi dirinya bersikap lemah lembut pada beberapa pria. Ya mereka hanya di gunakan untuk popularitasnya saja.
"Ya ya ya baiklah. Aku akan mengantar mu pulang."
__ADS_1