
"Areum." Panggil Kevin. Dia duduk di samping Areum membuat Alika melongo.
Apa-apaan dia mendekati kakak ipar? Batin Kevin.
Mommy Amber dan nenek Mely sudah ke lantai atas untuk tidur. Di ruang tamu menyisakan Alika dan Areum. Areum menemani Alika karena baby Al belum tidur.
"O iya besok aku ingin kau mengajak aku jalan-jalan."
"Tidak mau, aku capek." Tolak Areum. Ia malas untuk menemani Kevin keluar.
Kevin langsung memeluk Areum dengan sebelah tangannya mengalungkan ke lehernya. "Hey, kau tidak mau. Aku ini teman mu."
"Kevin lepaskan." Areum merasa tercekik dengan lengan Kevin yang melingkar di lehernya.
"Tidak mau, kau harus berjanji. Kau teman ku jadi sebagai teman harus menemani temannya."
Alika meredang, ia tidak suka dengan Kevin yang langsung begitu akrap seperti sebuah keluarga. Jangan sampai hubungan kakak dan kakak iparnya merenggang dan salah paham. "Kevin kau tidak sopan."
Areum dan Kevin menatap. Kevin tersenyum sinis. "Memangnya kenapa? Aku temannya, tidak masalah kalau aku seperti, aku sering seperti ini dengan Areum. Benar kan Areum?"
"Lepaskan Kevin." Areum menggeram.
__ADS_1
Glek
Kevin langsung melepaskannya. "Kau kejam sekali Areum." Kedua mata Kevin melihat Edward ke arahnya. Ia langsung bergelanyut manja di lengan Areum. "Kau sahabat terbaik ku."
"Ehem, sayang." Sekalipun hati Edward panas, ia tetap bersikap biasa saja. Kedua matanya melotot tajam ke arah Kevin dan begitupun sebaliknya, Kevin tak ingin kalah.
Awas saja kau, kau memamerkan kemesraan mu, huh.
Areum merasakan aura listrik keluar dari keduanya. Ia memijat pelipisnya menahan kesal. Seandainya Edward tak mengundang Kevin, ia tidak akan terjebak di antara keduanya.
Edward duduk di samping Areum. Dia tak ingin kalah dan bergelanyut manja di lengan Areum. "Sayang ayo kita tidur aku ngantuk." Edward menatap tajam ke arah Kevin.
"Areum kamu temani aku ngobrol dulu ya, masak iya aku baru datang di tinggal tidur." Kevin tersenyum lenbut.
Aku harus bertindak cepat.
"Tuan Kevin yang terhormat. Kakak saya mau tidur. Silahkan anda tidur di kamar tamu. Mari saya antar."
Areum tersenyum pada Alika. "Benar Kevin, ini sudah malam."
"Tapi besok janji kau mau mengantarkan aku jalan-jalan kan?"
__ADS_1
"Iya,"
Kevin melepaskan tangannya, yang terpenting Areum mau menemaninya. "Baiklah, aku mengalah." Kevin beranjak dan menyeringai pada Edward.
Alika mengantar Kevin sampai di depan pintu. Sebelum masuk ia menghentikan Kevin. "Tuan Kevin, selama anda di sini jaga sopan santun anda."
Kevin menoleh dan berbalik. Dia menatap Alika yang sedang menggendong baby Al. "Aku tidak memiliki urusan dengan mu."
Alika sangat geram, ingin sekali ia menampar wajah Kevin. Pria di depannya sangat sombong. "Kau pikir kau tampan, kau sangat jelek. Kakak ku lebih tampan."
Sabar Kevin, tidak kakaknya si kucrit, tidak adiknya si pemarah dan menggonggong padanya sama saja mereka merendahkan ketampanannya.
Kevin mendekatkan wajanya. Sontak kedua matanya menatap lekat wajah Alika. Jika di tatap dengan teliti, Alika juga cantik.
Ais, kenapa aku harus mengakuinya kalau dia cantik.
"Dengar, nona Alika. Anda bilang saya tidak tampan, oke saya terima. Tapi jangan sampai anda menangis darah ketika saya pergi."
"Apa maksud mu? Kau pikir aku akan terpesona."
Brak
__ADS_1
Alika menahan kekesalanya, giginya gemeltuk ingin mematuk Kevin. "Dasar pria sialan. Siapa juga yang akan terpesona padanya?"
Ya walaupun aku akui dia tampan gumam Alika.