
"Benar, kenyataan memang menyakitkan. Aku harap kau menjaga putri mu dengan baik. Jangan sampai dia mengikuti riwayat ibunya." Nenek Mely menekan tiap perkataannya.
Tuan Anton melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak dinding di belakangnya. Jantungnya berdetak lebih cepat tak biasa, ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kenyataan ini sungguh pahit haruskah ia menekan egonya?
Dia harus berbicara dengan Helena. "Aku harus berbicara dengan putri ku."
Tuan Anton bergegas pergi menuju ke ruangan Edward. Disana ia meminta ijin untuk membawa Helena keluar dari kamar itu.
"Ada sesuatu yang ayah ingin ayah bicarakan dengan mu." Tuan Anton melirik nenek Mely. "Nanti kita kesini lagi."
"Iya Ayah."
"Edward nanti aku kesini lagi." Helena beralih pada Edward. Padahal ia masih ingin berlama-lama menemani Edward.
Tuan Anton dan Helena pun berpamitan keduanya menuju ke sebuah taman. Tuan Anton berjongkok di hadapan putrinya, semoga kenyataan ini tidak menyakitinya.
"Helena ada yang ingin Ayah katakan pada mu." Tuan Anton terdiam. Dia menarik nafasnya dalam-dalam. "Jangan mengejar Edward lagi."
__ADS_1
"Apa? Apa maksud Ayah?"
"Dia anak yang telah menghancurkan pernikahan ayah dan ibu mu." Tuan Anton berharap putrinya bisa mengerti.
"Lantas harus aku yang mengalah? Itu urusan ayah dengan ibu. Lagi pula ibu sudah meninggal, ayah Edward juga meninggal jadi tidak ada yang menghalangi kita."
Tuan Anton menunduk, sejenak air matanya tertahankan. Putrinya tak bisa mengerti dirinya, pedih rasanya.
Tuan Anton mengangkat kepalanya, tangannya mengelus pipi Helena. "Ayah mohon Helena. Masih ada pria yang lebih baik daripada Edward. Banyak pria yang menginginkan mu. Banyak pria baik yang ingin membahagiakan mu."
Helena menepis tangan tuan Anton. "Itu masalah Ayah dan ibu. Kenapa harus aku yang berkorban? ayah tidak bahagia karena ayah tidak bisa menjaga ibu."
"Sayang, ayah mohon." Tuan Anton memohon dan memelas pada Helena. "Ayah mohon."
"Aku tidak mau melupakan Edward Ayah. Aku mencintai Edward, tolong ayah mengerti Helena."
Haruskah ia mengerti semuanya, haruskah ia berkorban lagi demi putri semata wayangnya. "Sayang, sedikit saja memikirkan perasaan ayah."
__ADS_1
Helena menarik nafasnya, ia ingin berkorbam tetapi tidak untuk mengorbankan hatinya, perasaannya.
"Aku ingin bahagia ayah."
"Edward tidak mencintai mu, buktinya dia mengorbankan nyawanya demi Areum artinya dia sangat mencintai Areum."
"Ayah seharusnya membantu ku bukan malah mengatakan mematahkan semangat ku untuk merebut Edward."
Tuan Anton bangkit, percuma saja dia memohon. Putrinya telah di butakan oleh cinta. "Jangan menyakiti Areum hanya kamu mencintainya."
"Ayah, pantas ibu tidak pernah bahagia dan memilih pergi karena ayah tidak bisa menuruti permintaan Ibu."
"Jangan pernah mengatakan pada siapapun termasuk Edward dan mommy Amber."
Helena memutar kursi rodanya, dia kecewa pada ayahnya yang tidak mendukungnya.
"Maafkan ayah, Nak. Ayah tidak bisa menuruti mu."
__ADS_1
Areum menarik sebelah alisnya, ternyata Helena sangat berambisi pada Edward. Dia tidak mau menyerah sedikit pun. Kalau ia membiarkan Helena bersama dengan Edward artinya ia kalah, Helena justru menertawakannya. Hidupnya sangat sempit dan sulit.
"Apa aku biarkan saja mereka?"