
Sebagai janji yang telah di ucapkan, Areum membawa Kevin jalan-jalan ke sebuah pantai. Areum berselonjor dan memakai sebuah dress bunga-bunga yang menerawang dan memamaki kaca mata. Sedangkan Edward berada di samping kanannya, menggunaka kemeja santai memeperlihatkan dada bidangnya dan menggunakan celana selutut. Dia juga menggunakan kaca mata dan berselonjor menikmati waktu pagi. Sementara Kevin, jiwa Playboy menjadi-jadi, dua wanita kini bermain dengannya dan duduk sambil bercanda. Salah satu seorang wanita menyuapinya dengan sebuah camilan.
Areum bangkit, ia ingin jalan-jalan di pesisir pantai.
"Sayang, kau ingin jalan-jalan?" tanya Edward. Ia tadi menawarkan pada Areum, namun Areum menolak karena ingin bersantai, menikmati waktu pagi.
"Yah, kau mau ikut?"
"Tentu saja," Edward langsung menggenggam tangan Areum. Sebelah tangan Areum memegang lengan Edward. Keduanya pun berjalan beriringan di pesisir pantai.
"Kalian mau kemana?" tanya Kevin sambil berteriak.
Edward dan Areum tak menanggapi, Kevin pun yang tak ingin di tinggal malah meninggalkan dua wanita dan berlari ke arah mereka.
Kevin bagaikan seorang adik, seorang kali dia berfoto dengan Edward dan Areum, kadang memotret mereka berdua. Kevin yang hidup tanpa kedua orang tua yang telah meninggal seperti memiliki keluarga. Ia merasakan kehangatan di dalam keluarga Edward.
"Hah." Kevin duduk di pesisir pantai sambil berselonjor dan terkekeh. Ia cukup geli bercanda dengan Edward dimana ia dan Areum mengerjainya.
Areum pun duduk berselonjor di samping Kevin sedangkan Edward membeli minuman.
"Areum.."
__ADS_1
Areum menoleh, bersama Kevin ia merasakan arti persahabatan. Sekalipun ia menolak Kevin, namun pria itu tidak membencinya. Justru pria itu menganggapnya sahabat dan saudara. "Terimakasih."
"Untuk apa?" Areum mengerytkan keningnya, pertanda ia tidak mengerti maksud Kevin.
"Dulu aku sempat menyatakan perasaan ku, tapi kau tidak membenci ku."
Areum terkekeh, ia bersyukur pernah di cintai. "Kau teman ku sekaligus sahabat ku. Bagaimana bisa aku membenci mu."
Kevin tersenyum, "Kau akan berhenti dari dunia hiburan?"
"Ya sepertinya."
Edward pun datang, dia menyodorkan minuman pada Kevin.
Edward menggelengkan kepalanya. "Kau sekarang meganggap ku kakak ipar? Berarti kau tidak membenci ku dong."
.....
Satu Bulan kemudian.
Areum merasakan mual dan pusing, ia tidak bisa beranjak dari tempat tidurnya, di sekelilingnya seperti berputar. "Sayang." Edward mengelus kepala Areum. "Kita Dokter ya?" Edward sangat khawatir pada Areum sampai-sampai ia tidak bisa memikirkannya lagi.
__ADS_1
"Aku hanya masuk angin saja."
Edward menghela nafas. "Aku panggilkan Dokter ke sini."
Edward keluar, hari ini ia mengundurkan semua meetingnya karena Areum sakit. Ia tidak bisa meninggalkan Areum dalam keadaan sakit.
Edward pun merogoh ponselnya di celananya, ia memanggil Dokter pribadinya itu. "Hallo, Dam aku ingin kau sampai di rumah ku 30 menit."
Bip
"Edward apa Areum masih sakit" tanya nenek Mely. Ia tidak melihat Areum turun. Di saat sarapan Edward malah turun sendiri dan membawakan sarapan ke kamarnya untuk Areum.
"Belum nek, Areum terus mengalami mual dan pusing."
"Beneran?" tanya nenek Mely dengan mata berbinar. Ia yakin Areum tengah mengandung cicitnya.
"Iya Nek. Aku khawatir sekali.",
"Edward selamat sayang." Nenek Mely memeluk Edward.
"Apanya yang selamat Nek?" tanya Edward bingung.
__ADS_1
"Dengar." Nenek Mely menarik nafasnya dengan mata berbinar. "Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah."
Sejenak Edward diam terpaku, lalu tersenyum. Ia mengusap wajahnya,