
Areum memainkan gelas yang berisi anggur itu, setelah kejadian tadi pagi pikirannya kosong. Ia mulai berpikir kenapa ia bisa mengakui Edward sebagai suaminya? Bahkan bukan perencanaannya, saking kesalnya ia pada Helena. Ia mengeluarkan identitasnya sehingga pemberitaan sekarang banyak sekali tentang dirinya.
Tanpa ia sadari seseorang mengambil gelas yang berisi anggur di tangannya itu.
"Wanita tidak baik minum anggur terlalu banyak." Edward menaruh anggur itu, entah kehidupan bagaimana yang Areum jalani hingga membuatnya meminum anggur. Padahal dulu Areum tidak pernah menyentuh anggur. "Areum semenjak kapan kau meminum anggur?" tanya Edward. Dia duduk di sisi ujung sofa dan menggenggam kedua tangannya.
Sebagai seorang suami ia hanya ingin tau bagaimana kehidupan istrinya di kota lain. "Maafkan aku, kau menjalani kehidupan yang susah."
"Aku tidak pernah meminumnya, malam ini aku hendak ingin meminumnya tapi kau sudah merampasnya."
Edward memeluk Areum, kepalanya ia sandarkan ke perut Areum. "Mommy dan Alika akan datang. Katanya dia ingin menemui mu."
"Yah, aku akan menemuinya." Areum tersenyum, ia mengelus kepala Edward. Rambut Edward sangat lembut dan wangi.
Edward mendongak kemudian memejamkan kedua matanya. Dia kembali memeluk erat Areum, ia sangat menyayangi Areum.
Bagi Areum sepertinya tidak ada cara lain untuk menerima Edward. Edward juga mengalami kematian seperti dirinya. Ia akan mencoba berdamai dengan Edward.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Tuan, Nyonya, Nyonya Amber dan Nona Alika sudah datang."
Edward melepaskan pelukannya. "Mereka sudah datang, ayo kita temui." Sekali lagi Edward memeluk Areum. Ia sangat berterimakasih pada Areum yang telah menerimanya dan menerima mommynya.
Edward menggandeng lengan Areum. Keduanya pun keluar dan jalan bergandengan tangan sampai ke lantai bawah.
"Maafkan Mommy Areum."
Alika menghampiri Areum, ia menunduk dan sangat malu dengan perlakuan buruknya dulu. "Maafkan aku Kakak Ipar." Sesalnya.
Mommy Amber melepaskan pelukannya. "Aku sangat minta maaf atas semuanya. Kau menantu yang baik."
__ADS_1
Areum tersenyum air matanya ingin keluar. "Aku sudah memaafkan Mommy dan Alika."
Areum menatap bocah gembul yang berada di gendongan Alika. Ia segera mengulurkan tangannya. Bocah itu pun tersenyum dan ingin segera di gendong oleh Areum. Baby Al memamerkan gigi susunya.
Nenek Mely mengusap sudut matanya yang terasa basah, dia menghampiri mereka dan menyela. "Areum kau cocok menjadi seorang ibu. Kapan kalian akan memberikan nenek cicit?"
Edward terkekeh, ia tidak sabar ingin melakukannya. Memiliki anak dengan Areum tidak buruk. Apa lagi umurnya yang sudah semakin tua. "Kami akan secepatnya akan memberikannya untuk nenek dan mommy."
Areum mendekik tajam pada Edward. Semua orang pun tertawa ketika melihat wajah Areum yang bersemu merah.
Keluarga yang dulu sempat terpecah itu kini harmonis seakan di dalam keluarga itu tak akan lagi ada kesedihan.
Pada malam harinya.
Suasana temaram itu dan hanya terlihat cahaya lilin di atas nakas. Angin malam masuk melewati jendela membuat gorden putih itu melambai-lambai. Sebuah tangan kekar memeluk seorang wanita dari belakang.
Edward mengecup bahu Areum lalu menyandarkan kepalanya di bahu Areum.
__ADS_1
Areum melepaskan pelukan Edward, dia memutar tubuhnya dan mengalungkan lengannya ke tangan Edward. Keduanya saling menatap dalam diam, Edward memandang wajah Areum dengan sejuta cinta.