
Mommy Amber, Alika dan nenek Mely kini berkumpul di ruang keluarga. Mereka sedang menikmati kebersamaan keluarga sambil menemani baby Al.
Ketiga orang itu bersanda gurau dan terkekeh geli saat melihat tingkah lucu baby Al. Apalagi mulut chadelnya yang belum sempurna mengucapkan beberapa huruf.
"Mam, itu kakak." Alika melihat Edward menggunakan jubah tidurnya sambil memamerkan dada bidangnya. Pria itu menggaruk-garuk kepalanya.
Mommy Amber pun langsung beranjak dia berlari menghampiri Edward. "Edward kau sudah melakukannya?"
Edward mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti perkataan mommynya itu. "Apa maksud Mommy?" Edward melanjutkan langkahnya, istrinya pasti kelaparan. Di pagi hari yang cerah ini dia meminta jatah lagi.
"Eh Edward, kenapa pergi?"
"Apa sih Mom? Areum pasti lelah."
"Buat cucu?"
Edward menghela nafas, ibunya ini seperti tidak pernah mengalami masa muda. "Iya Mom, secepatnya. Doakan saja," ujarnya.
"Aku siapkan jamunya dulu." Mommy Amber bersemangat. "Edward kau hari ini libur saja kerja."
"Iya Mom."
Edward pun membawa sarapan untuk Areum beserta jamu sehat. Ia khusus memesankan jamu itu dari Tiongkok.
"Kakak semangat!" Alika mengacungkan jempolnya dan meneriaki Edward.
__ADS_1
"Sayang sudah bangun? Aku bawakan sarapan." Edward menaruh nampan itu ke atas nakas. Dia pun duduk di tepi ranjang. Malam yang tak pernah ia lupakan dan selamanya akan menjadi kenangan terindah.
"Aku memang lapar," ujar Areum. Ia tak memiliki tenaga sekali untuk mengambil sandwich itu. "Itu apa?"
"Jamu, aku tidak tau jamu apa." Melihat istrinya yang terlihat tak bertenaga. Edward mengambil sandwich itu dan menyuapi Areum. "Kau pasti lelah." Goda Edward.
"Jelas lah aku lelah, di kira robot apa?"
"Tapi kan enak sayang?" Areum terdiam, ia akui dalam hatinya memang enak tapi melelahkan. Entah berapa banyak tenaga Edward. Ia merasa lelah namun Edward terasa tidak ada lelahnya.
"Sayang aku pesen banyak anak, jadi paketnya aku kerjakan tiap malam."
Areum menghentikan kunyahannya. Setiap malam? Sepertinya ia akan kehabisan seluruh tenaganya. "Kau bercanda?"
"Aku tidak bercanda."
Sebuah ponsel berbunyi, Areum menoleh dan melihat ponselnya yang berdering. Dia pun mengambilnya sambil melihat nama yang tertera di layar ponselnya. "Kevin."
Areum mengangkat ponselnya, sejenak dia menatap Edward dan Edward hanya mengangguk berarti menyetujuinya.
"Iya?"
"Kau beneran istri Edward?" tanya Kevin.
Areum menghela nafas. "Iya." Jawabnya.
__ADS_1
Kevin mengusap mulutnya yang seakan tak bisa mengucapkan apa pun. "Kau gila, jadi selama ini kau .. Ah bukan begitu. Apa Edward tidak memarahi mu?"
"Tidak, dia mendukung ku melakukan apapun," jawabnya dengan jujur.
"Aku kalau jadi Edward pasti akan memarahi mu." Kevin tak habis pikir dengan Edward dengan mudahnya membiarkan istrinya dekat dengan pria lain. Bahkan ia sempat menginginkan Areum, ingin sekali ia tidak menyerah, tapi sepertinya harus menyerah.
Areum memutar matanya dengan jengah. Kembali ke dunia hiburan atau tidak ia harus memikirkannya lagi. Ia harus terbuka dengan Edward.
"Sayang kau tidak ingin mengajak teman mu kesini?" tanya Edward. Tidak masalah jika Areum mengajak temannya. Lagi pula statusnya lebih kuat.
Areum memberikan ponselnya pada Edward dan Edward menerimanya. "Hallo, ini teman istri ku."
"Tuan Edward." Pekik Kevin. Dia gugup karena mendnegarkan nada bicara Edward yang seakan membekukan telinga. "Tuan Edward maaf saya tidak bermaksud mengganggu."
"Tidak masalah, santai saja. Karena kau teman istri ku, aku ingin mengundang mu kesini."
"Apa?" Hampir saja kedua mata Kevin meloncat. Ini sungguh di luar perkiraannya. Edward mengundangnya makan malam. Ia tidak habis pikir kegilaan Edward.
"Aku tidak akan cemburu pada mu karena kau bukan tipe istri ku."
Jleb
Anak panah langsung menusuk dada Kevin. Ia pikir Edward akan memarahinya, tapi perkataan santainya ini sungguh di luar perkiraan.
"Baiklah, aku sedang bersantai dengan istri ku." Edward langsung mematikan ponselnya dan menaruhnya di sampingnya.
__ADS_1
"Kau mau mengundang Kevin?" tanya Areum. Pembicaraannya malah simpang siur, bahkan ia di katakan memiliki hubungan dengan Kevin. "Kau tidak cdmburu."
Edward tersenyum, Areum kini mengkhawatirkannya lagi. "Kenapa aku harus cemburu? Kau sudah menjadi milik ku. Jika kau suatu saat nanti meminta berpisah lagi. Aku akan mengurung mu. Aku tidak masalah kau membenci ku."