
"Hay." Sapa seseorang. Pria itu menoleh pada Alika dan tersenyum.
Alika pun yang di sapa menoleh. Baru saja ia ingin sendiri dan menenangkan hatinya dari pria yang diam-diam ia sukai.
"Sendirian saja," ujar Kevin. Dia mengikuti pandangan Alika yang menatap bulan purnama. "Kau tidak senang aku datang?" tanya Kevin. Ia merasa Alika menghindarinya.
Alika berusaha tenang, walaupun saat ini ia ingin mengungkapkan perasaan di hatinya ini. "Tidak, aku tidak menghindari mu. Kau pasti salah sangka pada ku."
Kevin tak percaya, ia merasa Alika menghindarinya. "Kau ada masalah? Katakan pada ku, mungkin aku bisa membantu. Sebagai seorang sahabat aku ingin membantu."
Alika ingin tertawa pada dirinya sendiri. Masalahnya yang di pikirkannya saat ini adalah tentang pria yang menanyakannya. "Sebagai sahabat?" lirih Alika.
Kevin mengerutkan keningnya, apa ada yang salah dengan ucapannya? "Kau tidak suka bersahabat dengan ku?"
Alika menggeleng, "Tidak aku suka."
Seandainya bisa, aku ingin lebih batin Alika.
Areum memperhatikan Alika dan Kevin, niatnya tadi ingin mencari Alika dan mengatakannya kalau baby Al sudah tidur. Ia menghentikan langkahnya dan mendengarkan sekilas ucapan Alika, ia merasa mengganjal.
"Sayang dimana Alika?" tanya Edward.
Areum menarik lengan Edward. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
"Apa kau tidak merasakan keanehan dengan Alika?" tanya Areum.
"Keanehan?" tanya Edward bingung. Ia tidak merasa ada yang aneh.
"Maksud ku, apa Alika menyukai Kevin?"
"Hah?" Edward terkekeh. "Tidak mungkin sayang."
__ADS_1
"Mungkin saja, bisa jadi."
Edward menghela nafas, kenapa istrinya selalu mengkhawatirkan orang lain. "Sayang biarkan saja. Alika sudah dewasa dia harus berkaca pada masa lalunya. Sekalipun dia mencintai Kevin, tapi Kevin mencintai orang lain. Kalau Alika membuat mu khawatir, biar aku yang menegurnya,"
"Tidak," Areum tidak setuju, bisa saja ini hanya perasaannya saja.
Edward membawa Areum masuk ke dalam pelukannya. "Sudahlah, kau jangan mengkhawatirkannya."
Edward membawa Areum ke kamarnya dan menidurkannya. Sejujurnya ia sebagai seorang kakak mengkhawatirkan adiknya, Alika. Akan tetapi, ia tidak bisa berbuat apapun. Ia tidak mungkin memaksa Kevin menerima Alika.
"Alika semoga kau tidak melakukan kesalahan apapun."
Beberapa bulan kemudian.
Seorang wanita tengah berjuang keras, dia mempertaruhkan hidupnya untuk putranya itu.
"Ayo bu terus dorong bu, dorong bu, sedikit lagi bu." Dokter itu terus mengeluarkan semangat untuk Areum
"Sayang, sedikit lagi. Kau harus bertahan," Edward mencium tangan Areum. Dia membiarkan Areum meremas tangannya.
Edward mengahapus air matanya, ia sangat takut dan tidak tega melihat kesakitan yang Areum rasakan.
Oek
Oek
Terdengar suara tangisan bayi, Areum tersenyum dan merasakan lega. Bayinya telah lahir. Edward langsung menangis bahagia. Ia tidak bisa mempertahankan air bening itu. Kebahagian kini menyelimuti relung hatinya. "Sayang, terimakasih."
"Selamat pak, bayinya sempurna."
Edward tergugu mencium tangan Areum dan mengecup kening Areum. Dokter pun menaruh bayi laki-laki itu ke atas dada Areum dan bayi itu pun mencari sumber susunya hingga menyedotnya.
__ADS_1
Tangan Edward bergetar, ia meraba kepala putranya itu. Semakin tersedu-sedu saat mengingat dialah yang menyakiti Areum tapi masih di berikan kesempatan.
...
"Edward, kau sudah memberikannya nama?" tanya nenek Mely.
"Iya Edward, cucu ku tampan sekali." Mommy Amber terharu, ia sangat bahagia karena bisa menikmati masa tuanya menjadi seorang nenek.
"Namanya Jaxon Liavin Winston."
Edward mencium kening Baby Jaxon dengan gemas. Dia menatap wajah putranya yang sangat persis dengan wajahnya.
"Mommy, adel adel ..." Celoteh baby Al.
Alika pun menggendong baby Al untuk melihat Keponakan kecilnya itu.
Ceklek
Mendengarkan Areum yang berada di rumah sakit, Kevin dan Vallen langsung terbang ke London.
"Kevin, Vallen." Edward menyapa sepasang insan itu. Terlihat perut Vallen yang telah membuncit. "Kalian datang."
Vallen menghampiri Areum bersama dengan Kevin. "Selamat Areum, katanya kau melahirkan."
"Dimana bayi mu aku ingin melihatnya." Seru Kevin. Dia pun menghampiri ranjang bayi di depan Edward. Semua orang tengah menglilingi ranjang bayi itu.
"Wah tampan sekali, aku ingin mencubitnya."
"Cubit, cubit, memangnya aku memperbopehkan mu mencubit putra ku."
Mommy Amber menatap Areum. "Sayang, usia kandungan mu berapa bulan. Ingat jangan sampai kelelahan," sara Mommy Amber.
__ADS_1
"Iya Mom." Sahut Vallen.
Alika tersenyum kecil, ia sudah menerima kenyataan pahit jika cintanya harus ia kubur dalam-dalam.