
Areum menatap pria di depannya. Pria itu memandangnya dengan senyuman. "Aku lelah Ed," ujarnya. Setengah hari dia melakukan pemotretan iklan minuman milik perusahaan Edward dan kini makan siang bersama Edward di kantornya.
"Oke, kau istirahat saja setelah ini." Edward menaruh segelas air putih di depan Areum. "Kenapa tidak di habiskan?" tanya Edward melihat makanan yang belum habis.
"Ya sudah, kau istirahat saja di ruangan ku."
"Aku ingin pulang."
"Istirahat saja, jangan ngeyel." Edward berbicara tegas. Dia tidak ingin di bantah. Ia kasihan pada Areum yang bekerja terus menerus. Pasti setiap harinya merasa lelah. "Kau berhenti saja dari pekerjaan mu."
Areum terdiam, ia masih ingin bekerja. Edward yang melihat perubahan wajah Areum merasa bersalah.
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu Areum."
Areum masih tak menjawab membuat Edward menghela nafas. "Sekalipun kamu mengeluarkan uang 15 juta pun aku tidak akan bangkrut."
"Tuan di luar ada nona Helena." Jo memberitau, dia sedikit melirik ke arah Areum dan merasa tak enak.
"Urusi dulu wanita itu." Areum merasa kesal, dia menuju ruang pribadi Edward dan sejenak ingin melepaskan lelah.
Edward mendengus kesal, wanita itu tak pernah berubah dan selalu mengganggunya. Dia pun menemui Helena di lobi.
__ADS_1
"Untuk apa kau datang kesini?" tanya Edward dengan wajah datar. "Aku sudah melarang mu datang kesini."
Helena tersenyum, ia tak peduli dengan perkataan Edward. Areum sudah pergi, jadi ia akan menghadapi rintangan apa pun. Bahkan melawan mommy Amber sekalipun. "Aku membawakan makan siang."
Edward menekan keningnya, ia merasa pusing dengan Helena. "Pergilah, jangan mengusik ku. Areum sudah kembali." Edward berbalik.
"Areum sudah pergi, walaupun dia kembali. Dia tidak mencintai mu. Kau mencintai orang yang tidak mencintai mu." Helena melantangkan suaranya sontak semua karyawan menoleh ke arah mereka.
Beberapa karyawan pun mulai berbisik-bisik tentang Edward. Mereka tau Edward menikah, tapi mereka tidak tau siapa istri dari Edward. Saat mengatakan nama Areum, mereka berpikir salah satu artis yang sedang naik daun itu.h
"Aku mengejarnya karena dia istri ku. Sebagai permintaan maaf ku karena aku mengecewakannya."
"Seharusnya kau sadar diri, kau tidak ingin di anggap sebagai pelakor kan." Edward berbalik dan melenggang pergi.
Areum melirik Edward, ia melewati Edward dan menuju ke arah Helena. Wanita itu mengerutkan keningnya, pancaran kedua matanya mengeluarkan aura kebencian. "Ternyata kau masih mengejar suami ku." Ini saatnya untuk membuat wanita ini malu.
"Kau sudah meninggalkan Edward. Seharusnya kau yang tidak tau malu."
"Aku?" Areum menunjuk ke wajahnya dengan santai. Dia memutari tubuh Helena membuat Helena merasa ingin di serang.
Areum menyandarkan dagunya ke bahu kanan Helena dan menunjuk Edward. "Dia seorang presdir, tampan dan kaya raya, tentu saja yang berdiri di sampingnya haruslah orang yang pantas dan aku pergi ..." Areum menghentikan perkataannya. "Aku pergi karena aku ingin menjadi orang yang pantas berdiri di sampingnya. Sedangkan kau, kau anak seorang wanita yang telah menghancurkan keluarga Edward dan kau masih saja dengan tak tau malunya mengejar Edward. Padahal dia adalah anak dari pria yang ibu mu rebut."
__ADS_1
Kini banyak para karyawan yang berbisik dan mengatakan Helena tidak tau malu, jadi mereka kini tau kenapa Edward tak lagi menginginkan Helena. Selain mendapatkan Areum sebagai artis yang naik daun yang sangta cantik.
"Jadi jangan merendahkan dirimu pada suami yang sudah memiliki istri. Kau pikir kau wanita cantik, hanya kau ...."
Areum mendekat, dia menekan kening Helena. "Sadar diri."
Areum berbalik, dia langsung merangkul lengan Edward. "Kalian lihatlah, kami cocok tidak?" tanya Areum pada para karyawan.
Helena meneteskan air matanya, ia menatap para karyawan yang mencemohnya dan langsung berlari ke luar.
Air mata Edward mengembun, air matanya siap tumpah. Kini dia akan memperkenalkan Areum sebagai istrinya.
"Kalian pasti bertanya-tanya siapa istri ku. Dia Areum, istri ku."
Setelah peristiwa menegangkan itu, tak butuh waktu lama fakta identitas Areum terungkap. Kini banyam wartawan yang datang ke perusahaan Edward. Areum menatap para awak media yang sedang menunggunya keluar. Menejer Areum sempat kaget, namun dia tak ingin lebih banyak tau pasti ada alasan. Lagi pula Areum sudah mengharumkan namanya, dari Areum dia memiliki banyak uang.
"Melelahkan."
Edward memeluk Areum dari belakang. "Terimakasih kau menerima ku."
"Maaf tuan Edward ini hanya status saja."
__ADS_1
Edward tidak masalah, status tapi sangat spesial baginya. Dia meneggelamkan kepalanya ke ceruk leher Areum.
"Edward," Areum ingin menghentikan Edward. Tubuhnya terasa panas.