Reinkarnasi Istri Kontrak Presdir Kejam

Reinkarnasi Istri Kontrak Presdir Kejam
Dia Kembali


__ADS_3

Seorang wanita keluar dari sebuah mobil putih, dia menggunkan dress selutut, masker dan kaca mata untuk menutupi wajahnya agar tidak terlihat awak media.


Di sampingnya ada seorang wanita sebagai menejernya, Mellan dan di belakangnya ada Lita yang mengekorinya.


Areum menarik nafasnya dalam-dalam, dia menatap bangunan mansion di depannya. Kini ia kembali menginjakkan kedua kakinya di kediaman nenek Mely. Dia sengaja tidak mengabari nenek Mely dengan kedatangannya. Pertemuannya dengan Edward masih dua hari lagi. Sengaja untuk memberikan suprise.


"Aku akan mencari hotel terdekat," ujar Mellen.


"Baiklah." Areum tersenyum, dia membawa beberapa paper bagh. Hari telah menjelang sore, rasanya sangat ngantuk dan tubuhnya lelah. Namun ketika melihat nenek Mely, rasa lelahnya terasa sirna.


Areum meminta di buka gerbangnya dengan memperlihatkan wajahnya. "Nyonya muda," seru seorang satpam. Dia buru-buru membuka gerbangnya.


"Terimakasih."


Areum terus melangkah dan membuka pintu kediaman utama. Dia menatap Hana dan Hana langsung meneriaki namanya. Hana memeluk Areum.


"Nona baik-baik saja," ujar Hana.


"Aku baik, sangat baik. O iya dimana nenek?"

__ADS_1


"Ada di kamar atas." Hana baru saja selesai membawakan beberapa buah ke kamar nenek Mely.


"Ini, ada beberapa untuk pelayan lainnya." Areum mengambil paper bagh untuk nenek Mely. Dia pun kembali melangkah menuju lantai atas tepat di kamar nenek Mely.


Perlahan di buka kamar itu dan melihat nenek Mely yang sedang duduk di atas ranjang dan menyandarkan punggungnya. Ia melihat nenek Mely mengusap sebuah figura, tapi ia tidak tau foto siapa.


Areum melangkah dengan hati-hati hingga tak menimbulkan hentakan heelsnya. Dia mendekat dan melihat foto pernikahannya dengan Edward. "Nenek."


Nenek Mely membuka kaca matanya dan tersenyum. Air matanya langsung mengalir. "Ar-Areum."


Nenek Mely langsung memeluk Areum, di peluk erat cucu kesayangannya itu. Air matanya semakin deras. Dua tahun ia menggenggam rindu di hatinya. "Sayang, kau pulang. Kau kembali untuk nenek."


Areum melepaskan pelukannya. Air matanya mengalir deras, nenek Mely mengusapnya. Ia tersenyum, akhirnya menantunya pulang. "Kau baik-baik saja kan?" tanya nenek Mely. Sekalipun ia sering mendapatkan telfon dari Areum, tapi lebih terasa jika melihat dengan kedua matanya sendiri, berada di hadapannya.


"Aku baik Nek. Aku baik-baik saja."


"Aku merindukan nenek. O iya aku ada oleh-oleh untuk nenek."


"Nenek juga merindukan mu."

__ADS_1


....


Setelah cukup berbincang lama dan mengeluarkan kerinduannya. Makan bersama dengan nenek Mely, akhirnya ia bisa tidur di kamarnya. Nenek Mely mengatakan kamar yang pernah di tempatinya di tempati oleh Edward. Nenek Mely mengatakan Edward jarang pulang.


"Pantas saja, bau wanginya parfum Edward menempel. Tidak ada yang berubah dari kamar ini."


Areum membuka lemari empat pintu itu. Dia melihat beberapa pakaiannya masih rapi. Saat meninggalkan kediaman ini, dia mengambli beberapa pakaian saja. Dia pun beralih pada lemari satunya. Pakaian Edward tertata rapi.


Areum tersenyum, mengingat tentang Edward entah bagaimana kabarnya. Ia tidak tau sama sekali dengan pria itu. Dia hanya tau Edward sering mengiriminya kado tiap bulan.


Ia pun melangkah ke arah ranjang, tidur terlentanh dalam posisi miring seolah ranjang king ini miliknya. Matanya terasa berat, ia memejamkan kedua matanya dan perlahan tidur terlelap.


Dalam hitungan menit, sebuah pintu terbuka. Seorang pria muncul dari pintu. Dia menggunakan kemeja putih dan dasi berwarna navy, jasnya di selendangkan pada lengan kirinya. Tangan kanannya merenteng tas kerjanya.


Dia tersenyum melihat wanita di depannya. Neneknya mengatakan untuk hati-hati karena ada seseorang di kamarnya. Awalnya ia marah karena tidak ada yang boleh memasuki kamarnya. Bahkan ia sendiri yang membersihkan kamarnya, pelayan di sini hanya menerima pakaian kotor saat Edward memberikannya. Tidak ada yang boleh menyentuh kamarnya, ia takut Aroma parfum Areum akan hilang begitulah alasannya.


"Kau pulang." Edward menaruh tas kerjanya di atas nakas. Dia duduk di samping dan mengelus pucuk kepala Areum. "Aku merindukan mu, sangat merindukan mu. Syukurlah kau baik-baik saja, kau pulang dalam keadaan baik."


Edward tak bisa menahan tangisnya, tangisnya pecah begitu saja. Dia beranjak tak ingin Areum terganggu karena isakan tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2