Reinkarnasi Seorang Mayor Jendral

Reinkarnasi Seorang Mayor Jendral
Hari pertama masuk sekolah III


__ADS_3

Mendengar ucapan steffan membuat pak Yetno tersulut emosi.


“ beraninya kau merendahkanku, bahkan merendahkan semua guru disini! Apakah kau benar-benar mencari mati!” Bentak pak Yetno dengan tatapan mata yang tajam melihat orang yang di anggap budak sekolah.


“ apakah aku salah bicara? Bukankah itu benar? Bahkan aku yang tidak habis pikir dengan pemikiran kalian yang sudah dewasa. Ternyata benar usia tidak menjamin kedewasaan. Di dalam fikiran kalian hanya uang uang dan uang saja.” Balas steffan santai.


Membuat pak yetno ingin memukul anak ini, tidak untuk memberikan pelajaran tetapi dia ingin membunuh orang di depannya kini.


Saat pak yetno ingin meninju, steffan dengan santai menahan kepalan tangan itu.


“ ingin bermain kekerasan? Tadi ingin adu mulut, tak sanggup, dan kini ingin bermain kekerasan. Lakukanlah, aku tidak akan sungkan.” Ucap steffan yang masih dengan santainya.


“ kauuuu..” pekiknya dan ingin menendang steffan tapi siapa sangka malah kini pak yetno telah terjatuh.


“ aghhh anak setan...” umpatnya sambil memegang kaki sebelah kiri.


“ bapakkk.. berani sekali kau budak, tunggu saja akan ku lamporkan kau ke polisi..” ucap Bram dan kini memapah Pak Yetno menuju uks.

__ADS_1


Sedangkan steffan malah pergi ke kelasnya lagi, dengan duduk santai melekukkan tangan di meja dan menjatuhkan kepalanya.


Dia tidak menghiraukan gadis yang tengah tersenyum lembut kearahnya.


Ya gadis itu alya, alya ingin menyapa teman satu bangkunya, tetapi malah orang yang di tuju bersikap dingin dan tidur di meja.


“ kau benar-benar sombong kawan.” Ucap alya.


Steffan pun menaikkan kepalanya, dan menatap orang di sampingnya.


“ ternyata kau tomboy, sepertinya nama alya tidak cocok untukmu. Hahaha” ucap steffan dengan tawaannya.


“ aku rasa aku tidak bertanya.” Setelah mengatakan itu steffan kembali melanjutkan tidurnya.


Respon steffan membuat alya menggeleng kepala.


“ STEFFAN!!!” Pekik seseorang yang tak lain adalah kepala sekolah, semua murid dan para guru berada di belakangnya.

__ADS_1


Sedangkan orang yang di teriaki masih dalam posisi sama.


*“ **Entah apa yang di lakukan anak ini.” *Batin alya yang menggeleng kepala lagi.


“ hei steff bangun lah, lihat ada yang tengah mengamuk saat ini karena ulahmu. Senang sekali baru pindah sudah di suguhkan dengan pemandangan seperti ini, seperti nya aku bakal betah di tambah duduk di sebelahmu.” Ucap alya yang sedikit memelankan suaranya.


Steffan pun mengangkat kepalanya dan melihat orang-orang yang kini tengah berkumpul di kelas maupun di luar kelas.


“ kau budak, apa yang barusan kau lakukan! Apa kau sudah bosan hidup hah?” Ucap kepsek yang kini sudah di depan steffan.


“ maaf bapak kepala sekolah, anda berbicara kepada siapa ya” ucap steffan pura pura melihat kiri kanan bertujuan untuk mencari siapa BUDAK yang di maksud.


“ kau budak sekolahan ini, Steffan Akbar kau seharusnya sadar akan posisimu, apa otak kau sudah hilang akal hingga begitu berani, atau kau sudah bosan hidup sehingga begitu lancang.” Pekik kepsek.


“ apa yang aku lakukan?, hmm aku hanya membela diri, dan mengatakan kebenaran akan sesuatu disini. Dan sepertinya karena faktor usia bapak membuat bapak lupa ya, biar saya ingatkan, benar saya Steffan Akbar tetapi kesalahan bapak adalah saya bukan budak sekolah ini, siapa yang membuat peraturan bahwa saya budak sekolah ini, apakah saya yang mengajukan panggilan tersebut? Saya rasa tidak sama sekali. Jadi seharusnya saya tidak di panggil dengan sebutan yang merendahkan saya seperti itu.” Jawab Steffan dengan santai bahkan berani membalas tatapan Kepsek yang kini tengah melototinya.


“ wah lihat budak ini, dia benar-benar sudah hilang akal, sudah berani melawan bapak kepala sekolah.” Ucap salah satu murid yang didengar oleh kepsek.

__ADS_1


“ mughni kau bawa anak ini ke kantor polisi, aku juga sudah mengeluarkannya dari sekolah ini. Dan kau sudah tidak dapat bersekolah lagi setelah ini aku jamin itu. Dasar tidak tau diri, sudah di sekolahkan oleh orang lain masih tidak tau diri.” Ucap kepsek.


__ADS_2