
“Ibu tenang saja aku pasti akan merawat diri dan kembahagiakan ibu serta adik mulai sekarang.” Mendengar ucapan steffan membuat ibunya terharu.
Steffan akbar yang sebelumnya mengakhiri hidup dengan melompat kesungai pada saat itu.
Dia mengakhiri hidupnya karena sudah tak tahan di buli habis-habisan, tidak hanya di buli dengan kata-kata saja, akan tetapi dibuli secara fisik juga tentunya. Dengan perasaan yang lemah dan sensitif, steffan memilih mengakhiri hidupnya. Siapapun tidak akan tahan dengan hal itu.
“ kau sudah besar nak.” Lirih ibunya, dia sebenarnya sedikit aneh biasanya anaknya yang tidak biasanya akan memikirkan masa depan.
“ ibu sudah menelpon kepala sekolah untuk mengizinkan kamu selama dua minggu untuk beristirahat dan pulih total dirumah. Jadi kamu tak usah takut untuk kesekolah ya nak.”ibunya tahu betul anaknya takut pergi sekolah, tiap hari pasti steffan akan merengek tidak ingin masuk sekolah.
Tentu saja bu Nisa paham mengapa anaknya betingkah seperti itu, ibunya juga tau anaknya selalu di buly dan di rendahkan sehingga dia bisa berfikir untuk mengakhiri hidupnya.
Ibu Nisa merasa gagal menjaga anaknya, dia sangat sedih akibat itu.
“ maafkan ibu nak tidak bisa menjagamu, tidak bisa merawatmu dengan baik, tidak bisa memberikanmu kebahagiaan.”batin bu Nisa.
Tiba-tiba mata steffan melotot. Apakah tadi ibunya sudah mengatakan sesuatu? Tapi dia sedang melihat ibunya dan ibunya tidak mengatakan apapun. Apakah dia bisa mendengar batin seseorang? Tidak mungkin, atau ini adalah sebuah ke ajaiban, dia akan terus memantaunya jika itu benar maka sangat bagus.
Tapi karena steffan tersentuh dengan apa yang dia dengar tadi dia pun menatap ibunya.
“ bu… steffan lah yang salah telah berfikir untuk meninggalkan ibu dan adik sendirian, ibu tidak bersalah dalam hal ini, steffan berjanji tidak akan mencoba hal itu lagi. Ibu tidak usah khawatir.dan ya steffan bisa masuk dua hari kedepannya tak perlu meminta izin selama itu, steffan sudah baik-baik saja bu, ibu tak perlu khawatir.”
__ADS_1
Mendengar kata-kata steffan ibunya tentu terkejut, apakah anaknya mendengar batinnya? Atau anaknya hanya merasakannya saja.
Mungkin anaknya hanya merasakan perasaan ibunya. Itulah yang difikirkan oleh bu nisa yang selalu berfikir positif terhadap apapun.
“ baik nak ibu mengerti. Beristirahatlah kita akan pulang besok.”balas ibunya.
Posisi pada saat itu di malam hari, jadi tentu saja waktu untuk tidur.
Steffan tinggal di kontrakan kecil di tempat terkecil, meskipun biayanya murahpun ibunya tak sanggup membiayai kontrakan.
Ibunya bekerja menjual kue-kue yang berjalan antara satu desa kedesa lainnya, meski terjual habis hanya bisa membayai hidup kedua anaknya.
Steffan yang sekarang tentu merasa iba dengan itu, sehingga dia bertekat untuk pergi kerumahnya besok.
“ bagaimana keadaan bik ijah? Dan bagaimana aku akan menjelaskannya saat aku kesana nantinya.” Dia memikirkan semua hal yang akan terjadi besok.
“ hah besok saja memikirkan nya, lebih baik aku tidur saja.” Dan steffan pun tidur.
...
Besoknya mereka telah bersiap untuk pulang, dan mereka menggunakan bis untuk pergi pulang.
__ADS_1
Siapa sangka disana ada 3 anak sekolah yang sama denganya yang juga selama ini ikut membuli steffan di sekolah terlebih dia adalah adik kelas 10.
“ bukankah ini kak steffan yang banci, hahaha halo steffan bagaimana bisa kau membawa tas sebesar itu, apakah tidak terlalu berat? Nanti tanganmu bisa patah looo.” Hinaan mereka tentu tidak berpengaruh untuk steffan.
Karena merasa di kacangi karena melihat tidak ada respon ataupun ekspresi yang di tunjukan oleh steffan membuat mereka sedikit geram.
“ aku sangat kasihan pada dia, sudah terlahir jadi banci, terus datang dari keluarga miskin, terus ditinggal oleh ayahnya hahahahha kasihan sekali.” Ucap anak satunya.
“ ya kau benar, aku bahkan akan berfikir mati saja, meskipun hidup kembali aku akan kembali mengakhiri hidupku” balas temannya, kali ini steffan tidak bisa diam, mungkin seharusnya dia tidak begitu karna yang dibicarakan adalah keluarga steffan akbar bukan dirinya, tapi karna kini yang menempati tubuh anak itu adalah steffan anggara dia dapat merasakan pedih yang teramat sakit sehingga dia pun marah.
“ adik kelas tolong jaga sopan santun kalian yaaa, kalian mau kemana di jam kelas , apakah kalian sedang bolos? Apa mau aku kadukan kepada kepala sekolah hah. lebih baik kalian belajar yang rajin agar menjadi anak yang sukses dan tau sopan santun. Hargai orang yang lebih tua dan belajarlah tata krama yang baik dan benar.” Balas steffan dengan tatapan mata yang mengeluarkan aura yang membunuh.
Sedangkan ibunya sudah khawatir dengan anaknya, dia ingin membela anaknya tetapi salah satu dari anak tersebut anak dari salah satu keluarga terpandang.
“ kau hanyalah anak dari keluarga yang miskin, bahkan ayahmu pun tidak sudi mengakuimu sebagai anaknya yang sangat lemah dan banci sepertimu, dan tolong berkaca lah dan jangan berani membentak ataupun mengajariku, dasar banci tidak berguna, sok sokan mau ngajari aku sementara kau! Apakah kau cukup pintar? Kau saja tidak naik kelas, semua nilaimu buruk, jadi berkacalah sebelum mengajari.” Bentak riri anak keluarga terpandang itu.
“ apakah perkataanku salah? Meskipun nilai ku buruk aku masih tetap menaati aturan sekolah, tidak membolos dan sopan terhadap yang lebih tua. Sudahlah rumah ku sudah sampai aku terlalu enggan meladeni anak manja yang hanya mengandalkan status orang tua, dan ingat jika kau berani merendahkan keluargaku sekali lagi aku tidak segan segan untuk menyakiti perempuan.” Steffan dan keluarganya pun turun karena memang gang di rumah mereka sudah sampai.
“ beraninya dia membentak dan mengajariku, dia fikir dia siapa? Heh kita lihat saat dia besok di sekolah, aku akan mempermalukan mu habis-habisan.”Riri yang tak terima dengan perlawanan steffan pun sangat marah.
“ apakah kau baik-baik saja nak?” Tanya bu Nisa yang sangat khawatir dengan anaknya, bu Nisa tentu terkejut anaknya sudah mulai berani untuk melawan, tetapi itu adalah hal yang baik sehingga anaknya tidak terus di buli.
__ADS_1
“ aku baik-baik saja bu..”