
Saat sampai di gang kecil semua preman itu turun dengan sombongnya.
“ nyalimu besar juga.” Ketua dari preman itu tertawa dan bertepuk tangan.
Saat melihat ekspresi wajah steffan malah membuat mereka kesal, karena kini steffan sedang menyeringai meremehkan mereka, tentu saja mereka sangat marah lalu langsung menyerang secara bersamaan.
Steffan yang di serang pun dengan entengnya memukul leher lawan, mematahkan tulang lawan, mematahkan kaki lawan. Dan kini tinggal ketua preman itu yang tersisa.
“ nyaliku yang besar atau nyalimu yang terlalu besar, sehingga berani meremehkan diriku.” Pekik steffan dan mulai melangkah mendekati ketua preman tersebut.
Secara spontan ketua preman itu merasa takut dan ngeri dengan aura yang di keluarkan oleh pemuda di depannya.
Tak lama ketua preman itu menyeringai.
sklebet steffan melihat di benaknya langkah kaki seseorang di belakangnya dan dapat dilihat juga wajah dan apa yang dia bawa, tongkat bisbol.
Secara spontan steffan menendang perut lawan dan lawan tersebut langsung tekapar dan memuntahkan darah.
Yang tadinya wajah ketua preman itu menyeringai malah sekarang langsung melotot akibat pemandangan di depannya dan langsung bersujud.
__ADS_1
“ ma-maafkan aku tuan, tuan ingin apa tas wanita itu? Ini tuan maafkan aku telah mengganggu tuan.” Ucapnya dan langsung lari kencang takut steffan akan membunuhnya.
“ heh ketua preman konon.” Ucap steffan lalu mengambil tas dan kembali ke wanita itu tadi, butuh 10 menit barulah dia sampai ke tempat dimana wanita itu sedang menangis.
“ ini tas mu nona, lain kali kau harus hati-hati.” Saat wanita tersebut menoleh ke atas alangkah terkejutnya steffan melihat wanita yang sangat cantik di basahi air mata, sungguh tak tega melihatnya.
“ periksa lah, siapa tau ketua ah bukan preman itu sudah mengambil sesuatu di dalamnya. Saya pergi dulu.” Setelah memberikan tas tersebut steffan langsung pergi, dia masih berwajah dingin meski sudah terpana, dan tentu segera dia buang karena dia bukan seseorang yang mudah terpana, dengan cepat wajah cantik itu hilang dari fikirannya.
“ sial sudah memakan waktu 2 jam, jika berlari masih membutuhkan waktu sekira 1 setengah jam. Mana aku tidak membawa uang lagi.” Ucap steffan sambil memeriksa saku celana dan saku jaketnya. Siapa sangka dia menemukan uang 50k di dalam saku jaketnya.
“ beruntung” ucapnya langsung menghentikan taksi.
...
“ Dani cepat kemari.”
Saat mendengar teriakan dari steffan Dani langsung berlari kearahnya.
“ mayor apakah kau merasuki anak ini?” Tanya Dani dengan muka takut.
__ADS_1
“ gila kau.. beli tiket untukku sekarang ke ibu kota aku harus kerumah, keluarga anak ini kurang bercukupan aku harus membantunya. Nanti aku akan jelaskan sekarang beli tiketku aku belum ada uang.” Balas steffen dan Dani pun mengikutinya.
....
Setelah sampai di gerbang rumah steffen membuat Dani membuka mulutnya. Sangat besar benar benar bak istana.
Setelah menekan pin gerbangpun terbuka.
“ apakah kau ingin berlama-lama disana? Masuklah ini real punyaku.” Ucap steffen dan Dani pun masuk tapi masih melihat sekeliling.
“ mayor aku belum pernah melihat kau punya rumah sebesar ini, kenapa kau malah memilih tinggal di apartemen sedangkan rumah sebesar ini kau tinggalkan?” Ucap Dani yang masih melihat-lihat.
“ rumah ini terlalu jauh dari markas, sedangkan apartemen itu lumayan dekat, jadi saat aku memilih tinggal disana nanti kita kesana juga aku ingin memeriksa sesuatu. Rumah ini hanya ku kunjungin sebulan satu minggu jadi rumah ini di rawat oleh bik ijah.” Jelas steffan.
“ apakah bik ijah mengetahui bahwa aku telah tiada? Hemm Dani apakah kematianku disiarkan di saluran tv?” Tanya steffan masih berjalan ke rumahnya kebetulan gerbang dan rumah steffan berjarak lumayan jauh.
“ tidak hanya di saluran tv mayor, di koran-koran juga.” Balas Dani.
“ huftt pasti bik ijah sedang berduka sekarang, aku tak yakin dia ada dirumahku.”
__ADS_1
...