
"Terimakasih banyak untuk makan malamnya, Bu Rani. Saya bakalan sering-sering mampir nih kalau begini", ucap Dodo setelah selesai menikmati makan malam yang disiapkan Bu Rani.
"Terimakasih, Pak Dodo. Padahal hanya makanan rumah biasa, Pak. Kami dengan senang hati kalau Pak Dodo sering mampir. Kami sangat merasa terhormat, Pak", ucap Bu Rani yang duduk di kursi makan si sebelh Rere.
"Oh iya, Re, kalau tidak keberatan, besok sore aku ajak kamu jalan-jalan ya. Jujur, aku masih benar-benar merasa bersalah sama kamu, Re. Jadi, aku bermaksud menebus kesalahanku dengan mengajak kamu jalan", ucap Dodo kepada Rere yang selalu menunduk.
"Re, dijawab donk Pak Dodo nya", Bu Rani memegang tangan Rere yang berada di atas pahanya.
"Oh iya, Pak", jawab Rere. Apapun yang dikatakan Dodo, Rere akan menjawab Iya. Karena dia tidak mau membuat marah Bosnya tersebut.
"Besok malam aku jemput kamu ya. Gak apa-apa kan, Bu Rani?", Dodo meminta izin dari Bu Rani.
"Yang penting pulangnya jangan terlalu malam ya, Pak Dodo. Karena anak saya ini masih sangat muda", jawab Bu Rani.
"Oh iya, baik, Bu. Sebelum jam sepuluh, Rere pasti sudah saya antar pulang", balas Dodo.
"Sebenarnya aku mau diajak kemana sama Pak Dodo?", batin Rere.
Keesokan harinya...
"Kita ketemu di Cafe W jam tujuh malam ini ya", Dodo mengirim pesan kepada satu-satunya pacar yang belum dia putusi.
"Kami gak jemput aku, Sayang?", balas wanita itu.
__ADS_1
"Kamu datang sendiri saja. Mobil yang aku belikan waktu itu masih bisa digunakan kan?", balas Dodo.
"Ahh kamu gitu banget jawabnya. Ya jelas masih bisa donk, Sayang. Yaudah deh, aku akan dandan yang cantik untuk kamu malam ini", balas wanita itu.
Jam lima sore, Dodo sudah sampai di rumah Pak Tito untuk menjemput Rere.
"Selamat sore, Pak. Saya izin bawa Rere jalan-jalan ya, Pak. Saya janji akan menghantar Rere pulang sebelum jam sepuluh malam", ucap Dodo kepada Pak Tito yang baru saja mau berangkat bekerja, karena hari ini masih dapat shift malam.
"Oh iya, Pak Dodo. Hati-hati", jawab Pak Tito.
Hanya itu yang bisa Pak Tito ucapkan, dia tidak berani banyak bertanya apabila Dodo mengatakan sesuatu.
"Apa sebenarnya Pak Dodo naksir sama Rere ya?", batin Pak Tito.
"Kamu tunggu disini sebentar ya", ucap Dodo, lalu dia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam butik.
Lima belas menit kemudian, Dodo kembali ke mobil dengan membawa dua buah paper bag, dan meletakkannya di kursi belakang.
Sepanjang perjalanan, Rere hanya diam, dia tidak tahu apa yang harus dia bicarakan, karena memang dia pun tidak tahu Dodo mau membawanya kemana.
"Re, turun sebentar yok", ajak Dodo saat mereka tiba di depan sebuah salon.
"Oh, iya, Pak Dodo", Rere menurut.
__ADS_1
"Halo, Mas Dodo ganteng", sapa seorang pegawai salon yang juga seorang lelaki tidak tulen alias ben-cong, saat mereka masuk ke dalam salon tersebut.
"Tolong kamu makeover pacar saya", bisik Dodo.
"Auwh, baru lagi nih, Mas?", bisik si pegawai salon tersebut.
"Udah, gak usah banyak tanya. Buat dia secantik mungkin. Habis kamu makeover, minta dia pakai ini. Saya tunggu di lobby ya", ucap Dodo sambil memberikan dua buah paperbag.
"Shiyap Bos", jawab lelaki tidak tulen tersebut.
Satu jam kemudian, Rere menghampiri Dodo yang sedang duduk di lobby salon.
"Pak Dodo, saya sudah selesai", Rere menyapa Dodo yang sedang asyik bermain game online.
"Mas Dodo ganteng, gimana hasil tangan akyu?", pegawai salon tadi juga mendekati Dodo dan memegang tangan Dodo.
"Eh, hai, sudah selesai ya?", ucap Dodo yang baru menyadari keberadaan Rere dan pegawai salon di sana.
"Lihat donk hasil tangan akyu, Mas ganteng", ucap pegawai salon itu lagi.
Dan ketika melihat ke arah Rere yang berdiri di belakang lelaki tidak tulen tersebut, seketika Dodo tercengan.
"Bidadari surgaku", batin Dodo.
__ADS_1