
"Re, boleh tahu kesibukan kamu?", tanya Ogi.
"Saya lagi gorengin pisang goreng nih, Mas", jawab Rere.
"Maksudnya, kamu kuliah atau kerja, Re?", tanya Ogi lagi.
"Oooh, Tadinya saya kerja, Mas. Tapi udah gak lagi", jawab Rere yang membuat Bu Rani bingung.
"Nak, maksudnya ngomong gitu apa?", tanya Bu Rani dengan lembut sambil memegang bahu Rere.
"Iya, Bu. Rere udah gak kerja lagi. Tapi Ibu jangan khawatir ya, Rere akan cari kerjaan lagi di tempat yang lain. Doain Rere ya, Bu", jawab Rere sambil mematikan kompor.
"Hhemmp, Ibu dukung yang terbaik untuk kamu ya, Nak. Yang penting kamu nyaman dan bahagia", ucap Bu Rani.
Dodo yang dari tadi duduk diam sambil menguping pembicaraan Bu Rani, Rere, dan Ogi, merasakan panas di wajahnya ketika mendengar ucapan Rere.
Dodo pun berdiri mendekati mereka.
"Sa...", kata-kata Dodo terpotong karena langsung dipotong oleh Ogi.
"Tante, sepertinya ada yang mau bayar", ucap Ogi sambil melihat ke arah Dodo.
"Oh iya, gimana Pak Dodo?", tanya Bu Rani.
"Sa.. sa-ya, saya mau bayar teh manis dan pisang goreng yang saya makan tadi, Bu", ucap Dodo sambil sesekali memejamkan matanya.
"Ini, Bu, terimakasih", ucap Dodo lagi sambil memberikan selembar uang seratus ribu rupiah, lalu pergi.
"Ke-keba-nyakan, Pak", teriak Bu Rani karena Dodo sudah berlalu dengan mobil sportnya.
"Udah, Tante, anggap aja rezeki", ucap Ogi.
"Eh, iya, Nak Ogi", jawab Bu Rani sambil menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya ada apa antara Pak Dodo dan Rere?", batin Bu Rani.
__ADS_1
"Tante Rani, Rere, saya permisi dulu ya. Oh iya, Re, di kantor saya kebetulan lagi buka lowongan kerja, tapi bagian percetakan, maksudnya, yang bagian fotocopy-fotocopy berkas gitu di kantor", ucap Ogi.
"Oh, iya? Saya mau deh, Mas. Gak apa-apalah, daripada saya nganggur", jawab Rere antusias.
"Bu, gak apa-apa kan?", tanya Rere kepada Bu Rani.
"Iya, Nak. Lakukan yang kamu anggap baik", jawab Bu Rani.
"Yasudah, besok kita ke kantor bareng ya, jangan lupa siapin surat lamaran kamu", ucap Ogi.
"Baik, Mas Ogi. Makasih ya infonya", jawab Rere.
"Sama-sama, Re. Hhem, boleh aku minta nomor handphone kamu?", Ogi memberanikan diri.
"Boleh, Mas. 08xxxxxxxxxx", Rere memberitahu nomor handphonenya kepada Ogi.
"Ssiip. Besok pagi aku jemput kamu ya", ucap Ogi.
Sekarang Ogi tidak lagi menggunakan kata saya, tapi aku. Karena sudah mulai merasa akrab dengan Rere.
"Aku balik dulu ya, Re", ucap Ogi yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Rere.
"Tante, aku pulang ya", pamit Ogi.
"Iy, Nak. Makasih ya", jawab Bu Rani.
Di kantor Dodo...
"Halo, Re. Katanya hari ini sudah masuk. Tapi kayaknya saya belum lihat kamu di kantor", Pak Hans, menelepon Rere.
"Pak, maaf, saya gak bisa masuk kerja lagi", jawab Rere.
"Kenapa, Re? Kamu sakit?", tanya Hans khawatir.
"Gak kog, Pak Hans. Saya baik-baik saja", jawab Rere.
__ADS_1
"Terus maksudnya kamu gak bisa masuk kerja lagi apa, Re?", tanya Hans lagi.
"Saya dipecat Pak Dodo, Pak", jawab Rere lemah.
"Apa, Re? Astaga", Hans mengusap wajahnya kasar.
"Re, kamu sabar ya. Oh iya, nanti sore saya boleh main ke rumah kamu?", tanya Hans.
"Pak Hans emangnya tahu rumah saya dimana?", tanya Rere polos.
"Kamu lupa ya, Re? Saya ini Manajer HRD, jadi data pribadi kamu ada di ruangan saya", jawab Hans.
"Oh iya, hehehe", Rere terkekeh.
"Yasudah, saya tutup teleponnya ya. Kamu semangat ya, Re. Jangan sedih", ucap Hans.
"Iya, Pak. Terimakasih untuk semangatnya", jawab Rere.
"Re, gak usah panggil Pak lagi, panggil Hans aja", ucap Hans.
"Saya gak enak kalau panggil nama, kan Pak Hans lebih tua dari saya", jawab Rere polos.
"Yaudah, panggil Abang aja kalau gitu", ucap Hans lagi.
"Iya deh, Bang Hans", jawab Rere.
"Nah gitu donk. Kan enak dengernya", balas Hans.
"Yasudah, aku tutup teleponnya ya, Re", ucap Hans.
"Iya, Pak. Eh.. Bang Hans", jawab Rere lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
"Sabar ya, Re. Aku janji tidak akan membuatmu sedih", gumam Hans.
"Jangan coba-coba merebut Rere dariku, Hans", batin Dodo sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Yaa, dari tadi ternyata Dodo mendengar saat Hans menelepon Rere. Entah apa maksud Dodo berdiri di depan ruangan Hans, yang ternyata pintunya tidak tertutup rapat.