
Kring..Kring..
"Saya permisi terima telepon sebentar ya, Bapak Ibu", ucap Dodo ketika handphonenya berdering.
Dodo pun beranjak dan segera ke teras rumah Pak Tito.
"Halo, ada apa, Lun?", ucap Dodo, yang ternyata Luna sedang menelepon dirinya.
"Sayang, maaf ya, nanti siang aku ada pemotretan, jadi gak bisa balik ke kantor kamu", jawab Luna.
"Gak masalah. Aku bisa minta pacarku yang lain untuk datang ke kantorku", balas Dodo dengan santai.
"Dan satu lagi, mulai saat ini, hubungan kita berakhir. Aku gak mau lagi berurusan sama kamu", ucap Dodo setengah menggertak.
"Tapi salah aku apa, Do?", tanya Luna memelas.
"Aku tidak suka wanita kasar. Kamu tahu? Gara-gara ulah kamu tadi pagi menyiramkan kopi panas kepada karyawanku, dia mengalami luka bakar di bagian perutnya", ucap Dodo.
"Ya itu salah dia sendiri", balas Luna yang membuat Dodo semakin geram.
"Lagian, kamu kenapa malah jadi belain karyawan kamu yang cul-un dan miskin itu sih?", tambah Luna.
"Cukup, Luna! Semakin kamu banyak bicara, aku semakin tidak suka kepadamu. Kamu semakin menunjukkan kualitas kamu yang sebenarnya", ucap Dodo.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah terima penghinaan ini ya, Do. Aku akan membalas semua. Dan untuk karyawan kamu itu, lihat saja, dia tidak akan ku biarkan hidup tenang", ancam Luna.
"Kamu kira kamu siapa, hah?! Bisa-bisanya mengancam aku! Berani kamu macam-macam sama Rere, aku penjarakan kamu!", Dodo mengancam balik.
"Oh, jadi namanya Rere. Baiklah, sepertinya si Rere itu sudah mencuri hati Dodo, seorang playboy pemarah dan bar-bar, yang tidak tahu bagaimana caranya memu-askan wanita", ucap Luna.
"Tutup mulut kamu, Luna", bentak Dodo lalu Luna mematikan teleponnya sepihak.
"Breng-sek!", gumam Dodo lalu dia kembali masuk ke rumah Pak Dodo.
"Maaf, Pak, Bu, kalau suara saya mengganggu ketenangan kalian. Saya permisi kembali ke kantor ya", ucap Dodo sambil mengambil kunci mobilnya yang diletakkan di meja ruang tamu Pak Tito.
"Oh iya, Re, saya beri izin kamu untuk tidak masuk kerja, sampai luka kamu sembuh. Sekali lagi saya minta maaf ya", Dodo setengah membungkukkan badannya.
"Terimakasih, Pak Dodo", jawab Rere.
"Dengan senang hati, Pak Dodo", ucap Bu Rani lalu berjalan ke teras rumah menuju etalase untuk membungkus donat dan pisang goreng pesanan Dodo.
"Berapa semua, Bu?", tanya Dodo ketika Bu Rani memberikan bungkusan pesanan Dodo.
"Tidak usah dibayar, Pak. Anggap saja itu sebagai ungkapan terimakasih kami karena Pak Dodo sudah mengantar anak kami pulang", jawab Bu Rani.
"Saya yang salah, Bu. Jadi sudah seharusnya saya bertanggungjawab", ucap Dodo.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi ya, Pak Tito, Bu Rani, Rere. Terimakasih untuk donat dan pisang gorengnya", tambah Dodo.
"Sama-sama, Pak. Hati-hati di jalan ya, Pak", jawab Pak Tito.
Di Kantor Dodo...
"Hans, hari ini sampai beberapa hari ke depan, Rere saya izinkan tidak ke kantor, karena tadi terjadi sesuatu dengannya. Tapi saya mau, dia tetap dianggap masuk ya, tidak ada pemotongan gaji karena absen kerja untuk Rere", ucap Dodo melalui line telepon kepada Hans, Manajer HRD.
"Baik, Pak", jawab Hans tanpa banyak bertanya. Karena dia tahu, apabila Dodo memberi perintah tapi malah direspon dengan pertanyaan, maka itu akan membangunkan amarah Dodo. Jadi ya harus diikuti apapun ucapan Dodo.
"Oh iya, satu lagi, tolong larang masuk orang-orang yang mau menemui saya, apabila bukan untuk urusan pekerjaan. Tolong kamu sampaikan ke pihak sekuriti dan resepsionis ya", perintah Dodo lagi.
"Baik, Pak. Akan saya sampaikan kepada sekuriti dan resepsionis", jawab Hans.
"Selama Rere tidak masuk, kamu tidak usah menunjuk Cleaning Service lain untuk membersihkan ruangan saya. Biarkan saja sampai Rere kembali bekerja", tambah Dodo.
"Tapi, Pak, apakah nanti ruangan Pak Dodo tidak berdebu? Saya khawatir Pak Dodo bersin-bersin", ucap Hans. Karena dia tahu kalau Bosnya itu alergi dengan debu.
"Gak masalah. Lebih baik saya yang membersihkannya sendiri, dari pada harus ada yang korban perasaan karena bentakan saya", jawab Dodo.
"Tumben banget, Pak Bos kenapa jadi mikirin perasaan orang lain ya? Tapi bagus juga sih, gue jadi gak sakit kepala lagi karena harus cari pengganti Rere sementara", batin Hans.
"Kamu masih mendengar saya, Hans?", tanya Dodo karena tidak langsung mendapat respon dari Hans.
__ADS_1
"Oh iya, Pak Dodo. Baiklah kalau begitu", jawab Hans.
"Yasudah, lanjutkan pekerjaan kamu ya", titah Dodo, lalu menutup line teleponnya.