Rere Milik Dodo

Rere Milik Dodo
Sepupuh


__ADS_3

Sore harinya, pulang dari kantor, Hans langsung menuju alamat rumah Rere.


"Permisi, selamat sore", Hans mencoba memanggil, siapa tahu ada yang mendengar, karena pintu rumah Pak Tito terbuka.


Tok..tok..tok...


Hans mengetuk pintu.


"Permisi", ucapnya lagi.


"Iya, ada yang bisa dibantu?", jawab Bu Rani yang muncul dari dapur.


"Maaf mengganggu, Bu. Apa benar ini rumah Rere?", tanya Hans.


"Iya betul", jawab Bu Rani.


"Saya teman sekantornya Rere, Bu. Nama saya Hans", ucap Hans sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Bu Rani.


"Saya Bu Rani, Ibunya Rere. Silahkan masuk, Nak Hans", ucap Bu Rani sambil menerima jabatan tangan dari Hans.


"Silahkan duduk. Saya panggilkan Rere dulu ya, dia lagi di dapur, bantuin Ibu buat adonan kue", tambah Bu Rani.


"Oh iya, Bu, terimakasih", jawab Hans lalu dia duduk.


"Pak Hans", sapa Rere.


"Hai, Re", ucap Hans.


"Jangan panggil Pak donk, Re. Aku belum setua itu", tambah Hans.


"Oh iya, Bang Hans", balas Rere.


"Nah, gitu donk, Re, kan kedengerannya lebih akrab", jawab Hans.


"Ngomong-ngomong, Bang Hans mau minum apa?", tanya Rere.


"Apa yang ada aja, Re", jawab Hans.

__ADS_1


"Aku buatin kopi ya", ucap Rere.


"Hheemm, boleh", jawab Hans sambil tersenyum.



Ini dia nih, wajah tampannya Hans, yang tidak kalah tampan dari Dodo.


Kring.. Kring..


"Ngapain nelpon jam segini sih?", batin Hans.


Ternyata Dodo yang menelepon Hans.


"Angkat gak ya? Ah, males banget", gerutu Hans.


"Ini kopinya, Bang Hans", ucap Rere seraya meletakkan kopi Hans di atas meja.


"Terimakasih, Re", jawab Hans.


Kring... Kring...


"Kenapa lagi sih. Apa mau dia sebenarnya?", gerutu Hans.


"Bentar ya, Re, aku terima telepon dulu. Dari si Dodo", ucap Hans yang membuat Rere tertawa kecil, mendengar Hans menyebut Dodo tanpa menggunakan kata Pak.


"Apa sih, Do?", ucap Hans saat menerima panggilan dari Dodo.


"Hans, dimana lu?", tanya Dodo.


"Gue, gue udah balik lah. Lagi nyantai di rumah", bohong Hans.


"Di rumah siapa?", selidik Dodo.


"Ya rumah gue lah, Do", jawab Hans sambil melirik Rere.


"Lu balik ke kantor sekarang, ada pekerjaan penting yang harus lu selesaikan", titah Dodo.

__ADS_1


"Enak aja. Gak mau. Kerjaan gue udah beres semua", tolak Hans.


"Lu berani bantah gue, Hans?", ancam Dodo.


"Denger ya, Pak Aliando Nicholas yang terhormat. Saat di kantor, anda memang atasan saya, tapi kalau sudah di luar kantor, apalagi di luar jam kerja, lu itu sepupuh gue. Gak bisa merintah-merintah gue seenak jidat lu. Kita tuh sama kalau sudah di alam bebas", protes Hans.


"Oh, mereka ternyata saudara sepupuh", batin Rere.


"Gue kasih lu bonus tambahan deh, yang penting lu balik ke kantor sekarang", titah Dodo lagi.


"Gak mau", jawab Hans lalu menutup panggilan telepon dari Dodo.


"Enak aja", gerutu Hans sambil menonaktifkan handphonenya, agar Dodo tidak bisa menghubunginya lagi.


"Maaf ya, Re", ucap Hans.


"Bang Hans sama Pak Dodo saudara sepupuh toh", kata Rere.


"Iya, Re. Ibuku dan ayahnya Dodo, saudaraan, kandung", jawab Hans yang membuat Rere mengangguk-angguk.


"Oh iya, Re, itu bukannya Pak Tito?", tanya Hans saat melihat foto keluarga yang terpajang di dinding.


Yaa, di foto itu ada Pak Tito, Bu Rani, dan Rere. Foto itu baru saja dipajang dua hari yang lalu.


"Iya, Bang. Itu Pak Tito. Aku anak angkatnya Bapak dan Ibu. Mereka malaikat buat aku", jawab Rere.


"Oh gitu. Aku baru tahu loh, Re", ucap Hans sambil menikmati kopi buatan Rere.


"Enak banget kopi buatan kamu", puji Hans.


"Bisa aja, Bang Hans. Kopi hitam biasa kog itu, ditambah gula dan diseduh air panas", balas Dodo.


"Tapi kan kamu yang buat, Re, makanya makin enak", gombal Hans yang membuat Rere menangkup kedua pipinya sambil tersenyum.


Sementara itu...


"Sialan si Hans. Pasti dia sengaja matiin handphonenya. Aarrgh", Dodo memukul setir mobilnya.

__ADS_1


Yaa, saat ini Dodo berada di simpang rumah Pak Tito. Sejak pulang kantor tadi, dia membuntuti mobil Hans, yang memang pergi ke rumah Pak Tito untuk bertemu Rere.


__ADS_2