
"Bapak, udah pulang? Sama siapa, Pak?", tanya Bu Rani, istri Pak Tito, yang sedang duduk di teras rumah, ketika melihat Pak Tito datang bersama seorang gadis.
"Kenalin, Bu, ini Renatha Giana, panggil saja Rere. Dia yatim piatu, Bu. Baru aja datang dari desa. Tadi dia ke kantor tempat Bapak kerja, nanyain lowongan. Kebetulan lagi buka bagian cleaning service. Besok rencananya, Rere mau masukin lamaran kerjanya, Bu. Nah, Bapak merasa kasihan sama dia, karena dia belum punya tempat tinggal. Uangnya hanya seratus ribu. Di Kota ini, kost-kost an mana, Bu, yang seharga itu. Makanya Bapak bawa Rere ke rumah kita. Bapak harap Ibu tidak merasa keberatan", jelas Pak Tito.
"Rere, ini Bu Rani, istri saya", ucap Pak Tito kepada Rere.
"Halo, Bu. Salam kenal. Nama saya Rere", kata Rere sambil mencium punggung tangan Bu Rani.
"Salam kenal, Nak. Kamu sangat cantik. Berapa usiamu?", tanya Bu Rani.
"Usia saya delapan belas tahun, Bu", jawab Rere.
"Terimakasih untuk pujiannya, Bu. Gadis desa seperti saya, tidak ada cantik-cantiknya, Bu", Rere merendahkan dirinya.
__ADS_1
"Siapa bilang? Kamu itu cantik, Nak. Sangat cantik", jawab Bu Rani.
"Selamat datang di gubuk kami ya, Nak. Saya sangat senang kalau kamu mau tinggal bersama kami. Selama ini saya dan Pak Tito hanya berdua di rumah. Kami tidak memiliki anak, Nak. Sepertinya Tuhan memang mengirim Nak Rere kesini untuk menemani kami", ucap Bu Rani.
"Izinkan saya tinggal selama beberapa hari disini ya, Bu. Saya janji tidak akan merepotkan Bapak dan Ibu", kata Rere.
"Kamu bisa tinggal disini selama mungkin, Nak. Izinkan kami menganggapmu sebagai anak kami. Dan kalau kamu mau, anggaplah kami sebagai orangtuamu", jawab Bu Rani.
Air mata Rere mengalir mendengar ketulusan Bu Rani. Bagaimana mungkin, orang yang baru dia kenal selama beberapa menit, menyambutnya begitu hangat dan menerimanya bahkan menganggapnya sebagai anak.
"Terimakasih, Pak, Bu. Rere janji akan membalas semua kebaikan Bapak dan Ibu. Rere tidak akan merepotkan Bapak dan Ibu. Rere sangat terharu karena Rere bisa punya orangtua yang lengkap", Rere menangis sambil memeluk Bu Rani.
"Yasudah, sekarang Rere masuk dulu. Ada satu kamar kosong, jadi kamu bisa pakai kamar itu menjadi kamarmu ya, Nak", Pak Tito menepuk punggung Rere.
__ADS_1
"Iya, Pak. Terimakasih. Rere izin masuk ya, Pak", ucap Rere.
Bu Rani menghantarkan Rere ke kamarnya.
"Jangan sungkan ya, Nak. Anggap rumah kamu sendiri. Sekarang kamu adalah anak Bapak dan Ibu. Kalau kamu ada perlu apa-apa, atau mau cerita tentang apapun, kamu bisa kasih tahu kami ya. Ibu sudah lama merindukan suasana seperti ini, dimana kami bisa memiliki anak", kata Bu Rani.
"Bu", Rere kembali menangis dan memeluk Bu Rani.
"Saat pertama melihatmu tadi, Ibu yakin kalau kamu adalah anak yang baik", Bu Rani mengelus punggung Rere.
"Yasudah, ayo kita bersihkan dulu kamar ini. Supaya kamu bisa nyaman disini", ajak Bu Rani.
"Iya, Bu. Tapi biar Rere aja yang bersihin, Bu", jawab Rere yang membuat Bu Rani menggeleng.
__ADS_1
"Tidak, Nak, kamu anak Ibu, jadi Ibu juga pengen bersihin kamar anak gadis Ibu", jawab Bu Rani tersenyum.
Ternyata Pak Tito memperhatikan mereka dari luar kamar. Hatinya sangat senang dan sangat bersyukur, karena akhirnya mereka bisa memiliki seorang putri yang cantik. Keluarga mereka semakin lengkap sekarang. Ada Bapak, Ibu, dan Anak Gadisnya.