Rere Milik Dodo

Rere Milik Dodo
Biar Gak Diculik


__ADS_3

"Aaaaaaaaaaa", Rere berteriak dengan sangat keras saat dirinya dan Hans naik salah satu wahana yang ada di pasar malam tersebut. Yaa, mereka menaiki kora-kora.


"Uuhhhuuuuu", Hans pun ikut berteriak lepas penuh kebahagiaan.


Mereka berdua seperti melepas rasa penat yang ada di pikiran masing-masing


"Kemana perginya mereka berdua?", batin Dodo yang dari tadi mencari keberadaan Hans dan Rere.


"Re, kita naik bianglala yok", ajak Hans yang lagi-lagi memegang tangan Rere.


"Ayok", ucap Rere.


Saat Hans dan Rere sedang membeli karcis untuk naik wahana bianglala, lagi-lagi mereka bertemu dengan Dodo.


"Kenapa ketemu dia lagi sih", gerutu Hans dalam hati.


"Re, jangan jauh-jauh, nanti kamu diculik loh", ucap Hans dengan suara yang lumayan keras, sengaja, agar Dodo pun bisa mendengar.


Padahal Rere hanya berdiri sekitar lima meter dari Hans. Hahahaha. Kayaknya Hans mau memanas-manasi Dodo nih.


"Biar gak bisa diculik, kamu harus aku pegangin", Hans menggenggam erat tangan Rere.


Dodo yang melihat tingkah Hans, berusaha untuk terlihat biasa, padahal hatinya sedang sangat cemburu.


"Kalian masih disini? Kirain sudah balik", ucap Dodo yang saat ini berdiri di depan Hans dan Rere yang sedang menunggu giliran untuk masuk ke keranjang bianglala.

__ADS_1


"Gue dan Rere lagi menikmati waktu berdua. Lah, lu ngapain masih disini?", balas Hans.


"Gue? Suka-suka gue lah", jawab Dodo.


"Awas tangan lu nanti gatel kalau kelamaan megang tangan si mantan cleaning service gue", Dodo melihat Rere yang sedang menunduk, dengan tatapan penuh arti.


"Do, gue gak tahu lu ada masalah apa sama Rere, tapi lu gak boleh ngomong kayak gitu", Hans mendorong pundak sebelah kiri Dodo.


"Bang Hans, aku gak punya masalah apapun dengan siapapun", ucap Rere sambil melihat Dodo.


Yaa, saat ini netra Dodo dan Rere bertemu.


Degg..


"Berarti dia yang bermasalah, Re", jawab Hans sambil menatap tajam Dodo.


"Manusia bar-bar yang gak punya hati. Playboy cap kadal", ucap Hans lagi yang membuat Dodo mengepalkan tangannya.


"Dengar ya, Do, gue gak akan pernah biarin mulut gak sopan lu itu selalu merendahkan Rere. Mulai saat ini, gue akan selalu ada buat Rere", ucap Hans yang reflek mencium tangan Rere yang dari tadi digenggamnya .


Degg...


"Astaga, Pak Hans", batin Rere.


"Selera lu rendah banget", lagi-lagi ucapan yang keluar dari mulut Dodo di luar kendalinya.

__ADS_1


"Jangan munafik lu, Do, gue tahu kalau lu sebenarnya suka sama Rere", batin Hans.


"Gue bukan elu, Do, yang gonta-ganti wanita seenaknya untuk muasin nafsu lu", ucap Hans.


"Lelaki baik akan mendapatkan wanita baik pula", tambah Hans yang kini merangkul Rere.


"Re, udah giliran kita masuk bianglala. Yokk. Gak usah dipikirin omongan playboy bar-bar ini. Anggap aja dia lagi mabuk", ajak Hans yang dibalas anggukan oleh Rere.


Hans dan Rere pun meninggalkan Dodo yang saat ini berdiri mematung.


"Re, lihat deh, bagus banget ya. Kita bisa lihat keindahan kota ini dari atas", ucap Hans saat mereka berada di bagian atas, di dalam bianglala yang sedang berputar.


"Iya, Bang. Bagus banget", jawab Rere sambil tersenyum.


"Oh iya, Bang, terimakasih karena sudah membelaku di depan Pak Dodo", ucap Rere.


"Kamu pantas untuk dibela, Re. Karena Dodo memang keterlaluan. Mungkin karena dia terlalu dimanja sama Om dan Tante, sehingga dia terbiasa untuk berbicara sesuka hatinya. Dari kecil dia memang sudah hidup enak dengan fasilitas yang serba mewah. Yahh, bisa dibilang dia sudah bergelimang harta sejak kecil, Re", terang Hans.


"Gak apa-apa, Bang. Aku sudah biasa direndahkan. Namanya juga orang gak punya, Bang, jadi orang kaya seperti Pak Dodo pasti selalu memandangku sebelah mata", ucap Rere.


"Yaudah, kita gak usah bahas Dodo lagi ya. Kita nikmati malam ini. Masih banyak wahana yang bisa kita nikmati", Hans lagi-lagi memegang tangan Rere.


"Bang Hans dari tadi pegang tangan aku terus", ucap Rere.


"Kan biar kamu gak diculik", balas Hans yang membuat keduanya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2