
Keesokan harinya...
Kring.. Kring..
"Halo, Bang Hans", Rere menerima panggilan telepon dari Hans.
"Re, semangat untuk hari ini, semoga kamu diterima kerja ya", ucap Hans.
"Amin. Makasih ya, Bang Hans. Semangat juga untuk hari ini. Doain ya, biar aku gak gugup nanti pas interview", jawab Rere.
"Kamu pasti bisa, Re. Doaku bersamamu", balas Hans mengakhiri percakapan mereka.
Tok.. Tok.. Tok..
"Nak, udah siap belum? Nak Ogi udah nungguin di teras", ucap Bu Rani dari balik pintu.
"Iya, Bu. Rere udah siap kog", jawab Rere lalu membuka pintu kamarnya.
"Anak Ibu cantik banget", puji Bu Rani.
"Jelas donk, Bu. Anak Pak Tito gitu loh", ucap Pak Tito yang sedang membaca koran sambil menikmati pisang goreng andalan Bu Rani.
"Anak Bu Rani juga gitu loh", ucap Bu Rani tidak mau kalah.
"Bapak dan Ibu lucu banget sih. Rere kan anaknya Pak Tito dan Bu Rani gitu loh", balas Rere yang membuat mereka bertiga tertawa.
__ADS_1
"Pak, Bu, Rere berangkat ya. Doain Rere, biar diterima kerja", ucap Rere sambil mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
"Tuhan memberkati ya, Nak", Pak Tito memberi restu.
"Hati-hati di jalan ya", ucap Bu Rani.
"Nak Ogi, Tante titip Rere ya", kata Bu Rani yang menghantarkan Rere ke teras rumah.
Pak Tito tidak ikut ke teras karena handphonenya berdering.
"Siap, Tante. Gadis cantiknya pasti aku jagain", jawab Ogi yang membuat Rere menunduk malu.
Baru saja Ogi dan Rere akan berangkat, Pak Tito sedikit berteriak dari dalam rumah.
"Ada apa, Pak?", tanya Bu Rani panik.
"Bapak barusan mendapat telepon dari Mas Karyo, katanya Pak Dodo jatuh dari tangga dan kepalanya mengeluarkan banyak darah", jawab Pak Tito.
"Astaga, Pak Dodo. Tapi kenapa Bapak yang ditelepon, bukan keluarganya atau pihak kantor?", tanya Bu Rani bingung.
"Mas Karyo udah kebingungan, Bu. Dia panik, gak tahu siapa yang mau dia hubungi. Dia juga gak tahu nomor telepon kantor, Bu", jawab Pak Tito.
"Jadi sekarang Pak Dodo gimana, Pak?", Bu Rani kembali bertanya.
"Katanya mereka lagi di perjalanan ke rumah sakit terdekat, Bu", jawab Pak Tito sambil sibuk dengan handphonenya.
__ADS_1
"Bapak telepon ke kantor dulu ya, Bu", tambah Pak Tito yang dibalas anggukan cepat oleh Bu Rani.
"Ya Tuhan, semoga Pak Dodo selamat. Pak Dodo orang baik, Tuhan", doa Bu Rani sambil wanita paruh baya itu meremas ujung bajunya.
"Bu...", Rere yang ternyata berdiri di belakang Bu Rani menangis mendengar kabar yang disampaikan Pak Tito.
"Loh, Nak, kalian belum berangkat?", tanya Bu Rani.
"Rere gak tenang, Bu. Perasaan Rere gak enak. Semoga gak terjadi apa-apa dengan Pak Dodo", jawab Rere yang sudah berlinang air mata.
"Mas Ogi, maafin aku ya. Kayaknya hari ini aku gak jadi ikut interview di kantor Mas Ogi", ucap Rere.
"Iya, Re. Gak apa-apa. Mudah-mudahan secepatnya aku dapat info lowongan kerja yang lain ya. Pasti aku kasih ke kamu", jawab Ogi sambil tersenyum.
"Aku permisi berangkat kerja dulu ya, Re, Om, Tante", ucap Ogi.
"Maaf ya, Nak. Kondisinya jadi gini. Pak Dodo itu bos nya Om Tito. Pernah jadi bosnya Rere juga. Dia juga langganan pisang goreng dan donatnya tante", jawab Bu Rani.
"Iya, Tante. Gak apa-apa. Semoga Pak Dodo segera pulih ya", doa Ogi.
"Amin. Hati-hati di jalan ya, Nak Ogi", ucap Bu Rani.
"Hati-hati ya, Mas", ucap Rere juga.
"Baik, Pak Hans. Terimakasih", ucap Pak Tito mengakhiri panggilan teleponnya dengan pihak kantor, yang ternyata pihak resepsionis menyambungkan kepada Hans, sang Manajer HRD.
__ADS_1