
"Re, kita jalan yok", ajak Hans.
"Mau jalan kemana, Bang?", tanya Rere.
"Kemana aja, yang penting kamu bisa tertawa lepas, Re. Aku gak mau kamu murung terus gara-gara si Dodo", jawab Hans.
"Aku ngikut aja, Bang", jawab Rere.
"Oh gini aja, kayaknya di simpang sana, ada pasar malam ya. Kita kesana aja yokk", tambah Hans.
"Bo-lleeh", jawab Rere sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Aku mandi dulu ya, Bang. Gak lama kog. Hemm, paling lama lima belas menit lagi kita berangkat", ucap Rere.
"Oke, Re. Aku akan menunggumu", balas Hans sambil menebarkan senyum menghanyutkannya.
"Aduh, Pak Hans, senyumnya buat aku deg-degan", batin Rere.
"Bang, gimana kalau nanti kita jalan kaki aja, kan deket, cuma di simpang sini kan pasar malamnya", tawar Rere sebelum gadis cantik itu beranjak untuk mandi.
"Gak masalah, Re. Malah enak. Biar kita bisa makin akrab juga kan, hehehe", jawab Hans.
Lima belas menit kemudian...
"Bu, Rere dan Bang Hans mau ke pasar malam yang di simpang sana, boleh ya, Bu", ucap Rere.
"Oh iya, Nak. Gak apa-apa. Tadi juga Nak Hans sudah minta izin sama Ibu", jawab Bu Rani yang ternyata ketika tadi Rere sedang mandi, beliau menemani Hans mengobrol santai di ruang tamu.
"Ibu mau ikut?", tanya Hans.
"Gak lah, Nak. Ibu di rumah aja. Ibu besok aja sama Bapak kesana. Yang penting kalian jangan pulang terlalu malam ya", jawab Bu Rani.
"Kalau begitu, kami pamit ya, Bu", Rere mencium punggung tangan Bu Rani.
"Saya pinjam Rere ya, Bu", Hans juga ikut mencium punggung tangan Bu Rani.
"Kalian hati-hati ya. Karena kan di sana pasti sangat ramai. Tetap waspada dengan barang bawaan ya", nasihat Bu Rani.
__ADS_1
Ketika Hans dan Rere sampai di pintu masuk Pasar Malam, lagi-lagi Hans menerima telepon dari Dodo.
"Kenapa lagi sih si bar-bar ini", gerutu Hans.
"Apa lagi, Do?", tanya Hans malas.
"Lu lagi ngapain, Hans?", tanya Dodo penuh selidik.
"Gue mau ngapain kek, ya terserah gue donk", jawab Hans.
"Lu bisa ke rumah gue sekarang? Ada hal penting", ucap Dodo.
"Gak bisa. Urusan gue lebih penting", jawab Hans lalu memutus panggilan dari Dodo.
"Yok, Re", ajak Hans yang tanpa dia sadari saat ini dia menggandeng tangan Rere.
"Gak bisa dibiarkan si Hansen Maxwell ini", ucap Dodo sambil turun dari mobilnya.
Yaa, dari tadi Dodo memang menunggu Hans di persimpangan jalan, pas di seberang Pasar Malam tempat Hans dan Rere sekarang berada. Dodo bermaksud ingin mengetahui berapa lama Hans berada di rumah Rere. Namun, karena kesetiaannya menunggu sang sepupuh, bukan hanya Hans yang Dodo lihat, tetapi juga Rere.
"Maaf, Pak, sebelum masuk bayar tiketnya dulu", ucap seorang pria saat Dodo mau menerobos masuk ke pintu pasar malam.
"Lima belas ribu rupiah, Pak", jawab lelaki itu.
"Ini uangnya", ucap Dodo sambil memberikan selembar uang harga lima puluh ribu.
"Antrinya di sebelah sana ya, Pak. Nanti beli tiketnya di loket itu. Tapi Bapak harus ikut antri dulu", jawab sang petugas.
"Arrgh, sialan", batin Dodo sambil dia masuk ke dalam antrian untuk membeli tiket.
Sepuluh menit lamanya Dodo mengantri, dan kini dia sudah mendapatkan tiket masuk.
"Dimana mereka?", gumam Dodo.
Dodo terus mencari di semua wahana permainan, namun belum juga melihat Hans dan Rere.
"Awas lu ya, Hans. Kalau berani merebut Rere dari gue", batin Dodo.
__ADS_1
Karena merasa kering pada tenggorokannya, Dodo pun membeli minum.
"Es tebu itu kayaknya seger", ucap Dodo sambil berjalan ke arah penjual es tebu.
Ketika sedang menunggu es tebunya selesai, Dodo duduk di bangku panjang yang disediakan.
"Do, ngapain lu sendirian disini?", tanya seorang lelaki yang duduk berseberangan agak menyerong dengan Dodo.
Yaa, mereka dibatasi meja panjang.
Lelaki itu adalah Hans yang sedang duduk bersebelahan dengan Rere.
"Lu disini, Hans. Sama siapa lu?", tanya Dodo sambil menunjuk sang sepupuh. Padahal dia lihat sendiri kalau Hans duduk bersama Rere.
"Kayak yang lu lihat lah. Gue sama Rere", jawab Hans.
Rere yang sedang menikmati somay dan es tebu, bukannya tidak melihat Dodo, hanya saja dia sedang berusaha untuk tidak menggubris Dodo.
"Oh, sama si cleaning service", ucap Dodo yang diluar kontrol nya.
"Jaga bicara lu, Do. Gak seharusnya lu ngerendahin Rere kayak gitu", Hans menatap Dodo tajam.
"Lah, emang iya kan? Salag gue dimana?", tanya Dodo yang membuat Hans marah.
"Do!", Hans sedikit membentak Dodo.
"Udah, Bang. Gak apa-apa. Aku sudah biasa kog direndahin", Rere memegang tangan Hans.
"Selera lu kog rendah banget sih, Hans. Kayak gak ada cewek lain aja", lagi-lagi Dodo berbicara di luar kontrolnya.
"Jaga mulut kamu, Dodo!", bentak Hans yang membuat banyak mata melihat mereka.
"Bang, udah udah. Bang Hans kesini bukan untuk berantem. Biarkan Pak Dodo berbicara sesuka hatinya. Lebih baik kita pergi dari sini. Ayo, Bang", ajak Rere sambil menenangkan Hans yang sudah terpancing emosi.
Hans dan Rere pun meninggalkan Dodo.
"Pak, ini es nya", ucap penjual es tebu.
__ADS_1
"Oh iya, Pak. Terimakasih", jawab Dodo sambil memberikan selembar uang sepuluh ribu rupiah.
"Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku berbicara begitu?", batin Dodo.