Rochman Dan Ginten

Rochman Dan Ginten
25. Marwoto bukan tandingan kita


__ADS_3

“Yang tidak akan selamat bukan aku To Marwoto… tapi kamu.. Kamu  yang tidak akan selamat”


“Dan Ingat… tiap setan yang kamu kirim ke sini akan aku habisi secepatnya, hingga tidak ada setan lagi yang jadi barang dagangan kamu”


“Yang artinya… tidak ada lagi yang bisa menjilati kuntilamu itu hihihhi”


“Jangan lupa untuk menutup pintu rumahmu rapat-rapat Marwoto… karena aku akan kirim wharia ke rumahmu untuk hisap kuntilamu di depan istrimu yang gak bisa puasin kamu hahahahaha!”


“Nanti aku akan suruh wharia itu untuk tusuk lubang deborahmu (Dub*r) sampai kamu terberak berak!


Marwoto diam saja, tapi aku tau dia sedang dalam puncak kemarahan…. dia kemudian pergi begitu saja dari hadapan aku dan Ginten.


Aku tau dia pasti akan merencanakan sesuatu kepadaku dan Ginten… tapi aku sudah siap untuk menghadapai semua itu.


“Man… kamu itu cari perkara aja!”


“Gimana lagi Ten… orang itu harus diberi pelajaran!”


“Tadi kamu gak dengar omongan pengayuh becak?... Marwoto akan datang, dan tentu saja akan mengobrak abrik jualan kita Man…”


“Jualan baju bekasmu ini adalah satu-satunya lahan untuk mencari rejeki, kita akan susah apabila Marwoto melakukan sesuatu kepada lapak ini”


“Kan bisa kita lawan Ten!”


“Bisa… kamu bisa lawan dia apabila dia mengirim setan-setannya kepadamu, tapi kalau yang dia kirim ke sini semacam dari pihak yang berwajib dan akhirnya kita dilarang berjualan disini gimana Man?”


“Misalnya dia nanti bawa orang dari pemerintahan, dan kemudian tanya-tanya soal KTP lagi, kemudian mereka seumpama bilang.. Yang tidak berKTP dilarang berjualan disini…. Gimana Man?”


“Hahaha itu kan pikiranmu saja Ten…. kita lihat nanti saja Ten, yang penting pembeli yang ada di pasar ini akan menuju ke toko-toko yang tadinya sepi, pokoknya semua toko harus kebagian rejeki yang sama hehehe”


Aku tau kekhawatiran Ginten, memang saat ini Marwoto itu sebagai orang yang berkuasa, tetapi kalau sampai dia mematikan rejeki orang yang ada disini, jelas itu tindakan yang ngawur.


Aku paling benci dengan orang yang seperti itu, meskipun dulu aku ini orang yang jahat dan penghianat, tetapi untuk urusan rejeki… aku tidak pandang bulu.


Malam ini usaha jualanku bersama Ginten lancar, tidak ada masalah sama sekali.


Toko-toko yang tadinya ramainya tidak masuk akal, sekarang mulai ditinggalkan pembeli, nggak tau kenapa mereka sekarang tidak mau masuk ke toko yang sebelumnya sangat ramai itu.


Keadaan pasar berangsur angsur mulai normal, tidak ada yang menonjol, semua sama rata!.


Kini saatnya aku dan Ginten pulang, karena pakaian yang belum laku sisa beberapa potong saja, tapi yang penting untuk hari ini lumayan juga yang laku.


“Man..ingat apa kata Marwoto tadi… dia tadi mengancam kita kan?”


“Heheheh Iya Ten… aku malah senang kalau dia tadi mengancam, jadi aku ada alasan untuk melakukan sesuatu pada dia hehehe”


“Berarti untuk malam ini kamu sudah siap menerima resiko nanti waktu kita dalam perjalanan pulang ya Man?”


“Jelas… siap Ten!”


Aku tau ancaman Woto itu tidak main-main, maka dari itu aku dan Ginten harus hati-hati ketika pulang, karena kami berdua akan melewati jalan yang sangat sepi.


Tapi hal itu bukan masalah untuk aku yang bekas setan ini…aku sih berani mati dan jadi setan lagi hahaha.


Tapi kalau bisa aku jangan mati dulu, aku harus selamatkan desa tempatku tinggal dulu, aku harus selesaikan apa  yang diminta oleh Painah.


Meskipun aku ini  bekas setan.. Aku tidak akan mau membiarkan seorang ibu kandung yang tidak dianggap oleh anaknya.


Harus kubereskan Woto itu agar kembali ke desa tempat ibunya dan merawat makam ibunya.


Setelah semua beres… aku dan Ginten yang kubonceng menggunakan sepeda kebo milik pak Peno memulai perjalanan menuju ke desa tempat kami tinggal.


Dari pasar hingga perbatasan tempat yang sepi belum terjadi apa-apa dengan kami berdua…pun mulai memasuki kawasan gelap juga belum ada yang menghadang kami.


“Kayaknya Woto tidak akan datang kesini Ten”


“Hehehe belum tentu Man.. kita kan baru juga masuk ke wilayah gelap… eeh tapi gelap gelap gini enaknya cari hangat hangat man” kata Ginten mulai meraba bagian syelangkanganku.


“Hahaha usaha yang bagus Ginten..kamu gak akan berhasil lah, coba kalau kamu ini cowok.. Pasti tiap hari akan aku puasin Ten hahahah”


“Ih muasin kok ke laki-laki sih Man…memangnya kamu setorin Deborahmu (dub*r)mu ke cowok yang kamu puasin?”


“Iya lah Ten.. aku ini kan kalau di dunia perhumuan sebagai bot…”


“Bot itu yang bertindak sebagai penerima atau yang disodok …istilahnya sebagai istri heheheh”

__ADS_1


“Kalok cowok aku biasanya sebagai Top. Top itu sebagai laki-laki atau yang menyodok bot”


“Tapi hal itu tidak baku kok Ten.. kadang aku juga nyodok kok, tapi kebanyakan aku disodok hihihi”


“Jadi lubang deborahmu sekarang ini sudah melar dan lebar Man?”


“Apa gak sakit itu lubang deborah dimasuki benda tumpul Man hahaha”


“Kamu kalau kentut suaranya masih bunyi… tuuuuuut, atau tinggal suara Haaah aja Man hahahah”


“Ngawur ae kamu iki Ten…lubang deborah itu elastis, bisa melebar bisa sempit lagi, kayak punyamu yang kata orang nikmat itu Ten”


“Buktinya kalau kamu eek Ten.. meskipun taimu diameternya besar… tetep aja bisa keluar dari lubang deborahmu kan Ten”


“Beda lah Man… punyakku ini memang diciptakan Tuhan sesuai fungsinya, sebagai lubang kenikmatan untuk pasangannya. Lha kalok kamu kan beda Man…punyakmu itu sejatinya kan lubang tempat lewatnya Tai Man”


“Aku memang diciptakan Tuhan Ten.. tapi aku diasuh setan,  jadinya ya gini ini hahahaha”


“Wis gini aja Man… saya bantu kamu untuk jadi normal ya.. agar kamu punya anak dan bisa punya keturunan hehehe”


“Gaaaaaak!”


“Kalok gitu saya bilang ke Painah saja, kalau kamu gak mau hidup normal”


“Ten… hidupku ini sudah normal… kamu aja yang gak paham Ten”


“Sssstttt diam Ten.. di depan kita ..disana itu ada bayangan hitam”


“Hmmm iya Man.. kita biasa saja Man…kayuh sepeda ini seperti  biasa saja Man… seolah oleh kita tidak merasa apa-apa”


Ada yang tidak beres dengan yang ada di depan sana itu.


Yang aku  lihat hanya banyak bayangan hitam yang berjejer di tengah jalan.., aku tidak atau siapa mereka, karena hanya berupa bayangan yang gelapnya melebihi gelapnya malam.


Tapi aku gak takut… aku lebih senior daripada mereka, mereka hanya krucil-krucil yang sukanya main keroyokan, dan pasti yang suruh adalah si Woto asyu!.


“Man… yang di depan itu kayaknya ndak main main Man… energi mereka memang sangat kecil, tapi jumlah mereka itu yang heheheh banyak”


“Tenang ae Ten… kita bisa kok lawan mereka, asalkan kita tangkap yang lebih senior, kemudian kita bakar dia”


“Ya sudah kalau kamu sudah paham Man.. jalan aja terus… tapi siap siap saja kalau ada yang mendekat, tapi menurutku mereka tidak akan mendekati kita, mereka lemah dan tidak sehebat kita Man”


Aku kayuh sepeda ini dengan kecepatan biasa saja…


Aku sudah mulai bisa merasakan getaran-getaran dari arah depan… getaran yang seolah menyatakan ketidaksukaan mereka terhadap aku dan Ginten.


Semakin dekat aku dengan  bayangan-bayangan itu, semakin aku bisa merasakan energi setan setan yang belum lama mati.


Mungkin Marwoto mengambil mereka dari perkuburan di sekitar sini, sehingga yang didapat hanya hantu-hantu yang belum lama mati.


“Berhenti disini saja Man… karena saya rasa ini saat yang tepat untuk melakukan sesuatu pada mereka”


“Ok Ten.. biar aku saja yang bicara kepada mereka Ten”


*****


“Kalian mau apa…jangan bergerombol disini, bikin takut penduduk disini saja. Ayo sana!...balik ke kuburan kalian semua!”


“Aku tidak akan memaafkan kalian sampai ada penduduk yang ketakutan karena ulah kalian semua!”


“Mereka tidak menjawab omonganmu Man” bisik Ginten


“Tenang saja Ten.. ini kan baru permulaan, aku kan belum mengancam mereka… ya gini ini Ten, hantu-hantu yang baru mati…mereka pada sok jago semua!”


“Tapi nanti kalau aku anu .. mereka nanti nangeees!”


“Kamu anu itu maksudnya kamu masukan ****** kamu ke deborah mereka gitu Man?” tanya Ginten lagi


“Ya nggak lah Ten… aku anu itu ya aku bikin mereka mati untuk kedua kali heheheh, tapi mereka kan tidak bisa mati ya Ten.. bisanya cuma binasa ya?”


“Ya sudah terserah mau kamu apakan mereka Man..pokoknya nanti sampai rumah saya anuen ya Man!”


“Eh yancok kamu Ten… maksudmu kamu mau kalau deborah kamu aku anu gitu?”


“Ih jangan deborah Man.. yang depan aja, yang yang kata orang-orang baunya gurih gurih nikmat dan sedap itu hehehe”

__ADS_1


“Heh Ten… kita ini lagi mau perang…jangan mikir gituan dulu, aku gak bisa konsentrasi ini lho Ten”


“Halah Man… musuh bocil bocil gini ini gak usah konsentrasi.. mereka akan terpental dengan sendirinya  ketika akan menyerang kamu yang energinya jauh lebih besar”


“Ayo jalan kan lagi sepedanya Man… tadinya saya pikir yang menghadang kita ini hantu-hantu yang sepadan, ternyata hanya krucil dan bocil saja… ayo jalankan saja sepedanya Man”


Sepeda aku jalankan perlahan lahan, hingga aku dan Ginten akan menabrak mereka yang menghalangi jalan kami.


Beberapa demit kecil itu terpental satu persatu… mereka memang bukan musuh kami berdua, karena mereka hanya hantu-hantu yang mati belum lama ini.


Setahuku memang sulit untuk mendapatkan anak buah dari hantu-hantu yang sudah lama mati, karena biasanya hantu yang sudah lama mati itu tidak mau diperbudak oleh manusia… mereka lebih suka kerja sendiri.


Karena kata mereka kerja, sendiri itu hasilnya tidak dibagi dua dengan manusia.. Bukankah kita ini musuh manusia, kenapa harus kerja sama dengan manusia….


Kalau hantu yang masih muda itu kan masih mencari jati diri, mereka akan coba-coba untuk  bergabung bersama manusia, dan memakan apa yang manusia sediakan.


“Sekarang peringatan terakhir untuk kalian… kalian minggir atau saya tabrak dengan energi saya yang mengakibatkan kalian tidak akan bertemu dengan teman-teman kalian?”


“Udahlah Man… tabrak saja Man.. bocil bocil atau hancil hancil itu mana mau dengar apa yang kamu katakan, kau tabrak saja agar mereka tau bagaimana bertabrakan dengan energi yang kita miliki”


Akhirnya karena mereka tidak mau minggir juga, akhirnya aku tabrak juga.


Satu persatu mereka terpental ke kiri dan ke kanan, aku semakin bersemangat mengayuh sepeda hingga akhirnya


BOUUUGGHHH!.... ADUUUHHHH!


“Suara siapa itu Man.. Hantu mana bisa mengaduh?”


“Itu sih suaranya Marwoto Ten.. ayo kita datangi Te, aku mau bicara sama dia, aku harus selesaikan masalah ini dengan dia sekarang”


“Itu disana Man… dia sedang duduk sambil memegangi perutnya”


“Tunggu disini Ten.. aku akan bicara sama dia!”


Aku turun dari sepeda dan menghampiri Marwoto yang masih duduk di tengah jalan. Dia sedang memegangi perutnya.


Aku nggak tau dia tadi jatuh itu kenapa, gak mungkin lah dia jatuh hanya karena tertabrak sepeda yang aku kendarai berboncengan dengan Ginten dan sebuah karung yang aku ikat di tengah rangka sepeda.


Kuhampiri Marwoto…kemudian aku jongkok di depan dia


“Marwoto!... kamu gak usah ganggu aku  dan Ginten lagi!.. aku seperti ini karena ibumu dan desa sebelah”


“Kamu tidak adil To.. harusnya desa tempat asalmu dan mbok Painah itu harus kamu majukan juga, bukan hanya desa tempat Suparmi saja!”


“Asal kamu tau…kamu dan demit-demit suruhanmu itu bukan tandinganku, mungkin kamu disini sangat berkuasa karena kamu bisa menakut nakuti orang dengan sesuka hatimu”


“Tapi kamu tidak bisa menakuti aku dan Ginten yang dulu juga merupakan hantu…. umurku dan umur Ginten jauh lebih tua dari kamu dan demit-demit peliharaanmu”


“Dan ingat…mulai sekarang aku akan melawan kamu hingga kamu pindah ke desa sebelah dan meminta maaf  kepada ibumu di makam ibumu… paham kamu Marwoto!”


Kutinggal marwoto yang masih kesakitan dengan bagian perutnya…


Aku dan Ginten meneruskan perjalanan pulang, karena besok pagi aku akan bertemu dengan teman dari pak Peno yang katanya bisa mengurus KTP tanpa syarat-syarat yang pasti tidak mungkin aku sediakan.


“Man.. tadi itu gimana ceritanya kok bisa Marwoto kesakitan kayak gitu, padahal kan tadi hanya kena stang sepeda ini saja?”


“Nggak tau aku Ten.. dari tadi aku juga sedang berpikir kenapa dia bisa sampai terpental kesakitan dengan hanya kesenggol stang sepeda saja.


*****


“Selamat pagi pak Penooooo”


“Wah selamat pagi mas Totok…”


“Gimana pak Peno, apakah saya sudah bisa bikin KTP?”


“Oh sudah mas…siang nanti kita ketemu di pasar Gebang ya….saya tunggu di depot rawon.. Tau kan depot rawon yang terkenal itu mas Tok?”


“Tau pak… jadi siang nanti kira-kira jam berapa pak Peno?”


“Sehabis dhuhur saja.., eemmh mungkin jam 12.30 an mas.. saya tunggu di sana bersama teman saya mas”


“Baik pak… saya akan ada disana jam segitu pak”


“Kalau begitu saya permisi dulu pak, karena saya mau siapkan pakaian yang akan saya jual nanti malam”

__ADS_1


Wah… sebentar lagi aku akan punya KTP, aku akan jadi penduduk yang resmi hehehe.


Tapi ngak cuman aku saja, Ginten Pun pasti akan juga punya KTP, aku dan dia akan jadi penduduk resmi dan tidak ada yang bisa mengusir kami karena dengan alasan kami tidak punya tanda pengenal


__ADS_2