
Rumah Marwoto yang sepi…
Hanya ada demit-demit jelek yang bercengkrama di teras, pohon, pagar…pokoknya rumah Marwoto penuh dengan demit jelek.
Aku dan Ginten sembunyi di agak jauh dari rumah Marwoto… tapi dari tempat kai sembunyi ini, aku bisa lihat pergerakan yang ada di rumah itu.
“Rumah itu penuh dengan demit mas….”
“Demit kacangan yang sukanya ada dikuburan itu kan mas”
“IYa Hun… bukan setan yang berenergi besar… hanya demit yang sukanya minta makan kepada manusia saja yang ada disana”
“Gimana Hun… apa kita bikin berantakan demitnya? Mumpung Marwoto tidak ada di rumah?”
“Jangan dulu mas…. Tapi itu ide bagus juga mas heheheh, saya setuju aja mas hihihhi”
“Ayo kita ke sana Hun… kita buat demi-demit jelek itu berantakan..
Aku gak mau kecolongan dengan yang sebelumnya dikatakan Suharto tentang Marwoto yang mau kirim penyakit di desa sana melalui demit-demit suruhanya.
Bisa saja dia kirim demit demit suruhanya ketika aku tidak ada disana, atau ketika aku dan istriku berdagang di pasar.
Demit-demit kurus dan tidak berenergi seperti itu memang pantasnya digunakan untuk kirim kirim sesuatu, atau membawa sesuatu untuk disebarkan di suatu tempat.
Berbeda dengan demit yang mempunyai energi besar.. Pasti akan digunakan untuk melawan seseorang atau sesuatu.
“Mas… di desa sebelah kan ada Fhuwan mas?”
“IYa sih Hun… tapi kasihan juga Fhuwan kalau harus hadapi banyak demit bocil kayak gitu.. Jelas Fhuwan kalah orang lah… makanya saya ingin bikin kerusuhan dulu di rumah Marwoto sekarang.. Agar dia kesulitan untuk mengumpulkan demit lagi”
“Fhuwan gak akan mampu kalau harus menghadapi ratusan bahkan ribuan demi kroco… jadi dari sini kita harus mulai bikin masalah dengan mengusir dan mengancam demit yang ada disini Hun”
Rumah itu memang sepi.. Tapi ada Suharto dan ada Andrianus didalam sana, jadi seharusnya aku bisa meminta mereka untuk mengusir demit jelek yang nongkrong di rumah Marwoto.
Tapi setelah aku pikir pikir lagi.. Lebih baik jangan meminta bantuan mereka,biarkan Suharto dan Andrianus tidak terlibat apa-apa.
Aku dan Ginten sudah ada di depan rumah Marwoto…
Rumah yang gelap dan menurutku agak singup.
“Heh… demit… pergilah dari rumah itu.. Atau kamu akan saya bikin kesakitan!”
Beberapa demit yang sok jagoan melotot melihat aku dan Ginten yang ada di depan pagar rumah… beberapa mereka mendatangi aku dan berusaha masuk ke tubuhku untuk membuat aku dan Ginten kesurupan.
“Kalian tidak akan bisa melawan kami berdua… untuk masuk ke tubuh kami berdua saja kalian tidak mampu!”
“Hehehehe.. Kalian salah mengabdi pada tuanmu… tuanmu tidak sehebat kami berdua.. Tuanmu hanya bisa memberi kalian makanan, tetapi tidak mempunyai kekuatan seperti kami”
__ADS_1
Semakin lama semakin banyak demit yang berusaha masuk ke dalam diriku dan diri Ginten….
Namanya juga demit yang belum lama mati, dan sedang dalam keadaan sok jagoan, mereka semua berusaha masuk ke dalam tubuhku dan tubuh Ginten.
Bahkan ada yang saking semangatnya dia mencoba berkali kali masuk, tetapi tidak berhasil sampai energi yang dia miliki semakin menipis.
Padahal energi bagi seorang demit itu sangat berguna untuk proses dia menjadi seorang demit yang lebih sakti.
Beberapa demit sudah mulai memudar, karena mereka menggunakan energinya dengan ngawur… dipikirnya aku dan Ginten ini mudah untuk dikalahkan.
“Mas… saya udah gak kuat.. Geli sekali mas.. Mereka berusaha terus masuk ke dalam tubuh saya”
“Sabar Hun… sebentar lagi mereka kan kapok kok… nanti akan kita gunakan kekuatan kita untuk menghilangkan mereka yang masih saja ngotot untuk masuk ke dalam tubuh kita”
Terus terang aku juga tidak kuat dengan serangan yang bertubi tubi… rasanya gemes aja kepingin aku gunakan kekuatanku, tapi sayang juga kalau menggunakan kekuatan pada mereka yang jelek ini.
Coba bayangkan tubuh kita ditempelin ratusan nyamuk yang gak bisa menggigit, rasanya geli campur gimana gitu kan…nah ini yang sekarang aku dan Ginten rasakan.
“Hun.. ayo sekarang aja kita gunakan sedikit energi buat menghilangkan mereka yang sampai sekarang masih berusaha masuk ke tubuh kita”
“Ayo mas….”
Ginten memegang tanganku… kemudian aku konsentrasi…..
Energi cakra yang ada di dalam tubuh aku salurkan ke seluruh tubuhku, sehingga permukaan tubuhku penuh dengan energi, begitu juga Ginten, dia melakukan yang sama dengan ku…
Tetapi sayangnya demit -demit yang ada disini adalah tipe tolol yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman, jadi mereka terus menerus menyerang aku dan Ginten.
Padahal teman-teman mereka sudah pada ambyar.. Tapi yang tersisa masih saja mengadu nasib dengan terus menerus berusaha menyerang aku dan Ginten…
“Hehehe Hun… lihat sekarang tinggal beberapa saja yang belum terbakar.. Sebentar lagi mereka akan habis, kamu masih kuat kan Hun?”
“Iya mas.. Saya masih kuat kok, tapi malas juga kalau harus meladeni demit-demit kayak gini mas… ayo kita selesaikan saja dan cepat pergi dari sini mas”
“Ayo mbak”
Aku menambah sedikit tenaga yang masih ada di dalam diriku, dan ternyata hanya dengan menambah sedikit energi akibatya demit yang tinggal beberapa itu terbakar habis.
Sekarang rumah Marwoto sudah sepi…
“Selesai mas… tapi kenapa harus dihilangkan semua mas, kok gak disisakan sedikit saja untuk Marwoto hihihi”
“Biarin Hun.. biar rumahnya terang… yuk sekarang kita pergi dari sini, keburu Marwoto datang ke sini”
“Kita tunggu di pojokan saja mas, sekalian kita nanti mampir ke makam Painah.. Saya kok penasaran ada apa mereka berdua ke makam sana itu”
Aku dan Ginten secepatnya pergi dari depan rumah Marwoto yang sekarang keadaanya sudah sepi…. Tidak ada demit sama sekali.
__ADS_1
Dan yang lebih penting tidak ada tetangga yang memperhatikan ketika aku dan Hunnyku sedang melakukan pembersihan tadi.
“Sttt itu mereka datang mas… hihihih pas ketika kita sudah pergi dari sana.. Coba kita lihat mas…. Gimana reaksi mereka ketika melihat peliharaanya sudah tidak ada disana”
“Hehehe yang pasti Marwoto akan panik karena rumahnya sudah bersih dari demit-demit tolol”
Marwoto dan Suparmi sangat kaget ketika mereka mendapati rumah mereka sudah dalam keadaan sepi, tidak ada memedi sama sekali di depan rumahnya…
Marwoto sebagai pemilik demit bingung. Dia mencari ke sana kemari dimana demit yang sudah dia dapatkan selama ini. Dia hanya bingung dan kemudian masuk ke dalam rumahnya..
“Urusan dengan demit Marwoto sudah selesai Hun, sekarang kita temui Painah, kita laporkan apa yang kita dengar”
“Iya mas, sekalian kita tanya kenapa Marwoto malam-malam ke makam Painah”
Rumah Marwoto dengan makam tidaklah begitu jauh, hanya saja akui bingung apabila ada petugas jaga malam yang akan memergoki kita di makam Painah malam-malam gini.
Takutnya mereka nanti akan mengira kita sedang mencari pesugihan dengan malam malam datang ke makam desa.
Tapi sejauh ini aku belum melihat satu orangpun penjaga malam yang berkeliling….sepeda pak Peno masih kita simpan di rumah kosong dekat dengan rumah Marwoto.
Setelah dengan hati-hati kami jalan…akhirnya sampai juga di depan makam Painah…
Malam menjelang pagi ini makam umum desa keadaanya sepi, tidak banyak memedi yang sedang nongkrong di atas batu nisan atau sedang bergelantungan di dahan pohon.
Keadaanya sepi… seperti keadaan desa ini apabila malam hari tiba.
“Kita langsung ke sana saja mas….”
“Nanti kamu saja yang tanya ke Painah tentang apa yang dilakukan Marwoto disini ya Hun”
“Iya mas… nanti biar saya saja yang bicara, tetapi untuk rencana penyerangan ke desa sebelah, sampean saja yang cerita mas”
Kebetulan saat ini Painah ibu dari Marwoto sedang ada di sekitar batu nisannya, dia kelihatannya sedang sedih…
Berbeda dengan Painah yang pernah kita temui sebelumnya yang selalu berwajah ceria ketika aku dan Ginten datang ke makamnya.
“Heemm… saya sudah mengira, kalian pasti akan datang ke sini malam ini” kata mbok Painah di atas batu nisannya
“Iya mbok…. Mbok Painah kenapa kok menunggu kami berdua?” tanya Ginten
“Heheheh…saya sudah lama menanti kalian datang kesini setelah kalian menikah… saya menunggu kamu hamil Ten hehehe” meskipun mbok Painah bisa sedikit tertawa, tetapi wajah dia kelihatannya agak gimana gitu.
“Mbok….gak usah memaksakan diri untuk tertawa. Tadi katanya mbok Painah mengira kami akan kesini, ada apa sebenarnya mbok?”
“Iya Rochman….saya memang menanti kalian, karena barusan anak saya dan istrinya datang kesini”
“Mereka berdua mengancam saya, mereka akan menumbalkan Suharto cucuku, dan desa sebelah apabila saya tidak mau memberitahu dimana harta yang diinginkan Mak Nyat Mani berada”
__ADS_1