
Suharto datang dengan wajah yang ketakutan, tidak biasanya dia seperti ini, biasanya memang dia ketakutan ketika bertemu dengan aku dan Ginten, tetapi itu kan itu sudah lama.
Tetapi malam ini wajah dia yang terkena lampu penerangan jalan itu nampak pucat.
“Kamu kenapa To?”
“A.. ada yang mengikuti saya…” kata Suharto lirih
“Mana yang mengikuti kamu… tidak ada orang yang bersama kamu…. Hhm kecuali setan kecil berkepala besar”
“Heh demit, ngapain kamu kesini ngikuti si Suharto?” tanyaku kepada demit beragama kristen yang pernah kutemui di rumah Painah
“Saya kesini karena mau ketemu sama kamu, katanya kamu mau memberi nama saya” jawab demit yang ada di pinggir jalan itu
“Oh iya hehehe, saya lupa kasih nama kamu… kamu minta dikasih nama yang berbau bau apa…Eh atau gini saja.. Kamu nanti akan saya beri nama, tetapi kamu harus lindungi Suharto… mau gak?”
“Ngapain saya harus lindungi dia… dia kan sudah dilindungi bapaknya yang suka mengumpulkan demit kuburan” kata demit yang berkepala besar seperti terkena penyakit hidrosefalus itu.
“Ah iya…. Gini saja.. Nanti saja kamu urusan nama dengan aku … aku masih ada urusan dengan anak Marwoto ini, kamu tunggu diluar dulu saja.. Nanti gantian ya”
“Tenang saja To.. yang ngikuti kamu ini demit yang ada di rumah bapakmu, demit ini tidak masuk ke rumahmu, dan dia tinggal dikuburan… nanti akan saya kenalkan kamu dengan demit itu”
“Ayo sekarang masuk saja, istri saya sedang menunggu di dalam”
Setahuku .. yang namanya demit itu selalu tidak punya nama, atau dia sudah tidak tau siapa namanya, tetapi apabila ada manusia yang memberu nama demit, maka demit itu akan berterima kasih, karena nama pemberian manusia itu mempunyai kekuatan….
Tapi itu kan dulu, waktu aku tinggal di lorong rumah putih, namalku Rochman.. Itu pemberian dari orang Tuaku, tetapi ketika aku jadi demit namaku menjadi syalala atau Rockman.
Tetapi ketika aku hidup menjadi manusia namaku kembali menjadi Rochman.
“Hun… ini ada Suharto… dia datang dan diikuti oleh demit yang pernah kita temui di rumah Painah….”
“Duduk To… maaf ya saya hanya pakai daster” kata GInten yang mulai kentir
“Eh gak papa bu Ginten,... maaf kalau mungkin mata saya tiba-tiba melihat belahan dadanya bu Ginten” jawab Suharto
“Eh Hun… kira-kira Suharto ini doyan sama perempuan apa nggak hayoooo?”
__ADS_1
“Lho kamu gak doyan sama perempuan ya Suharto?” tanya istriku sambil membuka kancing dasternya hihihi
“Hun.. udah jangan goda anak orang.. Nanti dia tiba-tiba ngatjeng lihat kamu gimana Hun?”
“Kalau ngatjeng ya suruh aja masturbhasi kayak bapaknya di boneka saya mas hihihih”
“Kamu itu istriku yang paling pol pol an pokoknya Hun hihihih”
“Ok… sekarang kembali ke pokok masalah… informasi apa yang kamu dapat dari bapakmu To?”
“Tetap sama saja dengan info, di rumah ini ada harta yang luar biasa, dan saya diharuskan bisa menguasai rumah ini, bapak saya marah kepada saya ketika saya tidak berhasil mendapatkan surat rumah ini”
“Hehehe harta apa yang ada disini, kenapa dia yakin bahwa harta itu ada disini, kenapa tidak di rumah yang lainya?”
“Karena… karena ada perempuan cantik yang kadang datang ke kamar bapak dan ibu saya…kalau ada perempuan aneh itu datang, bau di sekitar kamar bapak ibu saya wangi sekali”
“Hmmm pasti namanya Mak Nyat Mani kan To” potong Ginten
“I..iya… bapak saya memang saya dengar kadang memanggil perempuan itu dengan nama Mak Nyat Mani….”
“Kok bu Ginten tau yang namanya Mak Nyat Mani… ?”
“Hun…. aku merasa bahwa semua ini kok berhubungan dengan masa lalu ya..”
“Maksudnya apa mas?”
“Tentang penyatuan wilayah ini, apakah berhubungan dengan apa yang dicari oleh Mak Nyat Mani.. dan jangan-jangan Dimas itu hanya sebagai obyek penderita.. Ah nanti saja kita analisa, kepala saya tiba-tiba pusing Hun”
“Kita pikirkan pelan-pelan saja mas…yang penting anak-anak Sutopo dan pak Tembol harus tau semua ini”
“Ah kamu ini gimana sih Hun.. dimana kita cari mereka itu, kita kan tidak tau mereka ada di mana”
“Pada masa itu kan kamu yang tau dimana mereka dikirim Hun… aku kan sudah tidak ada sebelumnya bersama Juriah saudaramu itu”
Kenapa mengerucutnya kok ke masalah masa lalu gini… tapi pada waktu itu kan yang dikejar Dimas hanya Suparmi saja, Dimas tidak membahas masalah harta atau sesuatu yang ada di rumah itu.
Kalau masalahnya seperti ini berarti Dimas sama sekali tidak bersalah, Dimas hanya sebagai obyek penderita, atau bisa juga sebagai tumbal proyek atas apa yang sedang dicari oleh Mak Nyat Mani.
__ADS_1
Begitu pula anak-anak Sutopo, mereka pada saat itu hanya sebagai pelengkap saja, dimana tujuan utama dari Mak Nyat Mani adalah apa yang ada di rumah itu.
“Eh maaf pak Totok, sebenarnya ini ada masalah apa, kenapa pak Totok dan bu Ginten menyebut sesuatu yang berasal dari masa lalu?”
“Kamu tidak akan paham To… kamu tanya saja ke orang tuamu tentang siapa anak-anak Sutopo atau Dimas itu… “
“Untuk saat ini saya sudah paham apa dan siapa yang mencari harta itu mas…saya rasa semua ini hanya permainan dari Mak Nyat Mani saja mas”
“Iya Hun…..”
“Eh To, apa ada lagi yang mau kamu bicarakan dengan saya dan istri saya?”
“Ada….”
“Eh… yang saya dengar dari kamar orang tua saya… eh mereka akan menyuruh setan untuk menyerang desa ini, Bapak saya akan menyuruh setan setan untuk menyebarkan penyakit dan kesusahan di desa ini”
“Haaaaa!... kapan bapakmu bicara itu!... dan dia bicara sama siapa waktu itu?”
“Kemarin malam…di kamar bersama ibu dan ada suara perempuan lain yang baunya wangi itu”
“Sik sebentar Suharto… sebenarnya caramu itu bagaimana kok bisa tau apa yang bapak dan ibumu sedang omongkan, dan bahkan ada juga Mak Nyat Mani yang wangi itu?”
“Pokoknya kalau lampu ruang tamu dan lampu kamar bapak ibu dimatikan, berarti mereka sedang membahas atau memanggil demit”
“Karena kadang di sekitar dalam rumah itu baunya busuk, dan kadang juga baunya wangi sekali… saya sudah hafal, kalau bau busuk berarti bapak saya sedang bersama demit”
“Tetapi kalau baunya wangi sekali kadang selalu ada suara perempuan yang sedang ngobrol dengan bapak dan ibu saya”
“Ya sudah To.. gini saja, asal kamu tau, Mak Nyat Mani dan demit-demit itu berniat jahat, dengan memanfaatkan orang tuamu untuk tujuan mereka yang membahayakan orang banyak”
“Kamu tidak akan percaya dengan apa yang saya ceritakan…pokoknya aku, Ginten, bapakmu,ibumu pernah bermasalah pada jaman dulu”
“Desa ini dulu adalah desa yang mengerikan, tetapi berkat adanya bapakmu dan ibumu yang menghasilkan kamu… ada kekuatan ghaib yang membuat desa ini menjadi maju”
“Kamu tidak akan mengerti apabila saya jelaskan, yang penting sekarang kamu ada di pihak siapa, karena orang tuamu sekarang mulai bikin ulah… apa yang pernah terjadi pada masa lalu mereka berdua bawa lagi di masa ini”
“Aku rasa hanya ini dulu yang bisa kamu pahami To, kamu pulang saja ke rumahmu. Dan jangan takut, demit yang ada di luar itu akan aku perintahkan untuk melindungimu dari setan jahat anak buah bapakmu”
__ADS_1
“Tapi sebentar… aku lupa kasih nama setan nasrani itu…ayo kita keluar To, akan aku kenalkan kamu ke setan yang pernah ada di rumah mu itu”