Rochman Dan Ginten

Rochman Dan Ginten
41. Kenapa Ginten mulai tertarik dengan harta itu


__ADS_3

Mbak Dany bicara dengan beberapa orang yang tadi sudah membeli pakaian dari aku dan Ginten,  hampir semua menjawab bukan karena murahnya tetapi karena kami sebagai penjualnya.


Mbak Dany malam ini keliatanya puas dengan apa yang kami jual, begitu pula dengan aku dan Ginten, karena pembeli yang berbeda dengan malam sebelumnya.


Berjualan pakaian itu berbeda dengan berjualan sembako yang tiap hari dibutuhkan orang, berjualan pakaian perputaranya agak lama, tetapi untungnya malam ini kami mendapat pembeli pembeli baru, selain ada juga pembeli lama yang datang ke sini lagi.


“Hmm malam ini saya merasa aneh… bukan karena pakaian kalian terjual hampir keseluruhan yang kalian berdua bawa, tetapi rata-rata pembeli itu membeli karena yang jual itu kalian berdua” kata mbak Dany


“Ya saya tidak tau mbak.. Wong saya dan suami saya ini berjualan apa adanya, tidak main dukun atau apapun, boleh mbak Dany cek dengan memanggil orang pintar mbak hehehe” kata Ginten


“Hun… sebenarnya yang bikin laris itu wajahmu yang gemuk ginak ginuk hehehe”


“HUh mas iki lho… aku kan sudah berusaha tidak begitu banyak makan, aku kan sudah mengurangi jatah makan mas”


Mbak Dany pamit pulang,  dia akan ada disini besok hari lagi, untuk melihat perkembangan penjualan kami berdua.


Aku dan Ginten sudah berkemas untuk pulang, tapi tidak pulang ke rumah kontrakan, tetapi ke rumah Ginten, karena disana kami berdua akan bertemu dengan Suharto.


Aku sebenarnya sudah melupakan tentang  peta, harta dan apapun yang merupakan milik dari anak-anak Sutopo dan pak Tembol.


Tetapi akibat dari Suharto yang mengatakan bahwa harta itu ada di rumah Ginten, jadinya aku penasaran juga, hanya saja harusnya kan ada di rumah Juriah, sedangkan sekarangpun dimana dan bagaimana keadaan Juriah pun aku tidak tau.


“Mas… apa saudaraku Juriah tau tentang harta yang dimaksud sama Suharto ini?”


“Aku gak tau Hun, dan aku tidak mau tau tentang itu, sedangkan tentang harta itu kan katamu waktu itu kan dicari oleh Mak Nyat Mani dan Soebroto”


“Iya mas.. Waktu itu memang aku gak peduli dengan apa yang dikatakan Mak Nyat Mani, dan aku juga sudah lupa karena aku setelah itu gentayangan ke mana mana dan mencari kamu mas”


“Eh sebenarnya bukan mencari kamu aja mas, tetapi saya mencari anak-anak Sutopo dan pak Tembol juga, ini atas permintaan dari mbok Painah untuk menyelamatkan anaknya yang sekarang berubah itu”


“Tapi eeeh yang muncul malah kamu mas hehehe, jadilah kita suami istri heheheh”


“Iya Hun… apapun yang terjadi kita jangan sampai terpengaruh dengan harta itu, ingat waktu itu  Dimas berusaha merebut Suparmi dan juga Peta yang dibawa pak Tembol”


“Dan sekarang jangan sampai terulang kembali…biarkan peta dan harta itu ada di mana saja, jangan kita berusaha memikirkan dan berusaha untuk mengambilnya”


“Tapi mas….”


“Gak usah pakek tapi-tapian Hun… kita tetap harus seperti ini hingga kita bisa mati nanti”

__ADS_1


“Iya mas, saya tau, tetapi  harta itu kan harus kita kembalikan ke pemiliknya, ke anak-anak Sutopo, mereka yang berhak atas rumah putih dan tentu saja dengan harta yang ada disana kan mas”


“Iya benar Hun, tapi biarkan saja mereka yang menemukannya, bukan kita yang menemukan dan menyerahkan kepada mereka Hun”


“Tapi mas….”


“Malah pakek tapi tapian lagi… pokoknya jangan sampai kita merasa ingin tau atau penasaran Hun, jangan sampai kita merasa eeh harta itu ada di rumah sana,, yuk kita cari… jangan gitu Hun”


“Ingat itu milik anak-anak Sutopo, bukan hak kita atau bukan hak orang lain Hun”


Kenapa lagi dengan istriku, kenapa dia ingin sekali tau tentang apa yang ada di rumahnya, kenapa dia merasa ingin mencari benda itu.


Aku harus bisa mencegah, jangan sampai Hunny ku punya rasa penasaran yang tinggi dan punya rasa keinginan untuk memiliki benda itu.


Ini sudah bukan jamannya aku untuk berbuat yang tidak-tidak, sekarang aku sudah jadi manusia biasa meskipun memiliki kekuatan yang lumayan.


Saat ini kami sudah dekat dengan desa sebelah, kami sudah melewati gapura desa, dan pada saat ini di gapura desa ada beberapa orang yang sedang ronda.


“Selamat malam pak Totok, sudah lama tidak kesini pak” sapa orang yang sedang ronda


“Iya mas.. Saya kan tinggal di desa sebelah, sedangkan yang ada disini kan rumah istri saya, dan mungkin akan kami bersihkan dulu sebelum kami tinggali”


“Oh ya mas… nanti mungkin ada anak dari Marwoto yang mau ke rumah kami, nanti biarkan saja dia menuju ke rumah kami, kalian hanya awasi saja ya”


“Siap pak Tok…. akan kami awasi anak Marwoto”


Sepeda kebo dengan Ginten ada di boncengan berjalan mulus menuju ke rumah Ginten, lampu penerangan jalan desa ini sangat membantu daerah ini apabila malam hari.


Tapi sayangnya rumah Ginten belum tersambung listrik, karena dari dulu rumah itu kan sudah kosong, tidak ada yang menempatinya.


“Hun….. besok-besok kita cari tau cara menyambungkan listrik di rumah kamu ya”


“Iya mas… biar kita bisa tinggal dengan enak di rumah itu mas”


“Tapi gitu itu mahal apa nggak ya mas?”


“Mahal nggak nya kan ku gak tau Ten, karena aku kan bukan ada di jaman ini heheheh”


“Kita tanya ke pak Peno saja dulu Ten”

__ADS_1


Rumah Giten yang gelap, untungnya sinar lampu penerangan jalan bisa menerangi sedikit halaman rumah Ginten, sehingga tidak terlalu gelap.


Kubuka pagar rumah, kemudian Ginten masuk ke bagian depan rumah, dia mengambil kunci dari tempat tersembunyi yang selama ini tempat dia menyimpan kunci rumah.


Setelah menyalakan lampu minyak dan sedikit membersihkan bagian depan rumah.. Kami duduk duduk di ruang tamu, tetapi berbeda dengan ruang tamu yang ada boneka Gintenya.


Ruang tamu ini yang cara masuknya lewat depan yang ada tempat tidur gatalnya hehehe.


“Masak ya sih mas… dirumah ini ada hartanya? Sebenarnya harta apa sih mas, bukanya itu hanya peta dan denah rumah saja?”


“Lha yang kamu dengar dari pembicaraan Mak Nyat Mani dan Soebroto itu apa Hun?”


“Ya hanya air kehidupan saja mas, air yang bisa menjadikan yang meminumnya itu berkuasa dan abadi… tapi kan aneh juga mas, Mak Nyat Mani dan Soebroto itu kan sudah hidup abadi… terus kenapa mereka pada waktu itu ingin mencari air itu ya mas?”


“Nah itu kan yang tau hanya kamu Ten.. aku mana tau soal itu”


“Ya itu aja yang saya tau mas… tentang air yang ada di bawah tanah rumah putih, apa mungkin air itu berguna untuk merubah mahluk ghaib menjadi manusia yang sakti?”


“Kayaknya gak hanya ada peta saja deh Hun, kayaknya ada uang juga, aku tau kalau gak salah selain ada peta, denah rumah, ada uang belandanya juga”


“Ya bisa jadi ada uang juga mas… tetapi kan nilai uang itu tidak seberapa dibanding dengan yang mungkin sedang diincar oleh Mak Nyat Mani dan Soebroto”


“Hun… aku kok takut kalau di balik Marwoto yang sedang mencari harta atau sesuatu disini itu ada Mak Nyat Mani atau Soebroto”


“Jangan-jangan mereka ada dibalik ini semua Hun?”


“Aduuh jangan sampai mas… jangan sampai kita berseberangan dengan mereka…”


Aku dan istriku sedang berusa mengingat-ingat apa yang pernah dibicarakan oleh pak Tembol dan yang lainya ketika aku dan mereka masih akrab…


Aku tau ada uang juga selain peta dan denah, dan uang itu kalau tidak salah adalah uang pak tembol yang dia ambil dari Dimas.


Hanya uang gulden itu saja dan peta rumah putih yang ada di kotak itu, dan semua itu pak Tembol simpan di rumah Juriah.


Atau kapan-kapan aku dan GInten akan ke rumah Juriah, aku penasaran dimana sebenarnya Juriah sekarang berada.


“Permisi…pak Totok…!” suara Suharto yang memanggil dari luar


“IYaaa sebentar…. Saya akan keluar To..Suhartoooo”

__ADS_1


__ADS_2