Rochman Dan Ginten

Rochman Dan Ginten
36. Suharto


__ADS_3

“Sik Ten…itu bukan setan atau iblis, itu manusia!”


“Siapa yang mau datang kesini malam-malam gini Man?”


“YNTKTS”


“YNTKTS itu apa Man”


“Itu singkatan Ya Ndak  Tau Kok Tanya Saya….Ten!”


“Huh singkatan kok aneh-aneh sih Man.. memangnya siapa yang bikin kata-kata itu?”


“Kalok tidak salah kepala negara sebelah yang pernah bilang gitu Ten”


“Hush gak boleh ikut-ikut kamu Man…bahaya Man!”


“Sssst diam.. Kamu disini sajd dulu istriku, biarkan aku suamimu yang akan meringkus orang yang sedang mengendap endap di depan rumahmu itu istriku”


“Janc*k Man… malahj koyok pilem india aja Man!”


Ginten aku tinggalkan di dekat perempatan jalan yang menuju ke rumahnya…


Kenapa kok ada saja yang bikin masalah dengan rumah Ginten ini sih, apa rumah Ginten ini menyimpan sebuah rahasia?


Tapi masak yang datang itu si Marwoto lagi, apa dia gak kapok kapok dapat balasan dari aku dan Ginten.


Aku jalan pelan-palan sambil melipir di pinggir pagar rumah tetangga Ginten, pelan-pelan hingga aku sampai di depan rumah Ginten.


Orang yang tadi mengendap-endap di depan pagar rumah Ginten saat ini sudah ada di dalam halam rumah, orang itu berusaha masuk ke dalam rumah melewati pintu depan rumah Ginten.


“Heh… kamu siapa, dan apa yang sedang kamu lakukan di depan rumah kami!”


“M…maaf….s.saya hanya disuruh” kata orang itu berbalik ke arahku


“Lho … kamu anaknya Marwoto?”


“I..iya pak, saya Suharto”


“Hah.. ngapain kamu ke rumah kami!... sebentar , saya mau panggil istri saya dulu!”

__ADS_1


Ketika aku akan menuju ke arah Ginten, ternyata GInten sudah ada di depan rumahnya dengan menuntun sepeda kepo milik pak Peno.


“Kok kamu sudah ada disini istriku, apa kamu tidak paham apa yang suamimu tadi katakan?”


“Ah maafkan istrimu ini suamiku… istrimu hanya khawatir saja dengan keselamatan suamiku”


“Hmm baiklah istriku Ginten… ternyata yang datang ini adalah anak Marwoto, katanya dia datang ke sini atas suruhan dari Marwoto.”


“Heeh….apa yang sedang kamu lakukan disini janc*k!” tanya Ginten agak galak


“Saya disuruh bapak saya, saya hanya disuruh untuk masuk ke rumah ini dan mencari surat rumah ini”


“Hahahah… buapakmu itu gak kapok-kaponya ya, padahal bolak balik sudah kami kalahkan tiap buapakmu bikin masalah dengan kami berdua”


“Kamu disuruh bapakmu apa kali ini?” tanya Ginten


“Kata bapak saya di dalam rumah ini ada surat tanah dan benda yang sangat berharga” kata Suharto agak ketakutan


“Hehehe..iya, semenjak bapakmu pindah ke desa sebelah dia tidak bisa seenaknya masuk ke dalam rumah ini untuk  ngocok kan hahahah”


“Hush.. jangan gitu Suamiku Rochman…. Jangan buka rahasia ke anaknya dong!”


“Biarin Ginten istriku yang syantik.. Biar anaknya tau apa yang biasanya dilakukan Marwoto disini”


“Hussh ..gilak kamu ya suamiku… boneka itu jangan sampai tau Suparmi, bisa berantakan rumah tangga mereka kalau tau bahwa Marwoto suka ngocok sambil ciumin boneka laknat itu hihihihi”


“Hehehe tapi kan memang kenyataan wahai istriku Ginten… Bapaknya Suharto kan suka menciumi bonekamu ini kan.. Bonekamu ini kayak boneka sekz aja Ten hihihihi”


“Hussh, jangan gitu Man, gimana kalau Suharto juga ngatjeng lihat boneka saya? Bisa-bisa dia akan ngochok juga disini kan heheheh”


Hahahah meskipun dalam keadaan gelap, karena tidak ada cahaya sama sekali kecuali lampu jalan yang letaknya ada di beberapa rumah dari rumah Ginten, tapi aku bisa lihat wajah Suharto yang merah padam.


“Gini saja  Suharto…enak jamanku to…. Eh maap”


“Gini saja Suharto…. Jelaskan kepada saya dan dan suami saya, sebenarnya apa yang kamu akan lakukan di rumah saya ini. Ini benar-benar rumah saya, milik keluarga besar saya yang diwariskan ke saya” kata Ginten


“Kamu datang kesini dengan mengendap endap mirip maling, saya bisa laporkan kamu ke pengurus desa, dan kamu akan diadili sesuai dengan aturan desa ini, gimana… enak jamanku to”


“S..saya hanya disuruh oleh bapak saya.. Saya disuruh cari surat rumah ini…katanya ada di dalam rumah ini”

__ADS_1


“To.. Suharto, mbok ya kamu ini cerdas sedikitlah.. Kamu ini mau saja mencari sesuatu yang kamu tidak tau bentuknya dan dimana letaknya”


“Bapak saya bilang masuk lewat pintu depan , dan cari di ruangan yang di depan itu”


“Oh gitu To… gini saja istriku, gimana kalau kita buka saja pintu depan ini dan suruh Suharto cari barang yang dia inginkan,  nanti kalau gak ketemu akan aku bikin enak-enak Suharto ini sayangku…”


“Eh enak aja kamu suamiku….jangan cuman kamu aja yang enak-enak…saya juga mau enak-enak kayak kamu lah… gimana kalau suamiku ent*d syilitnya Suharto\, terus kuntila Suharto ent*d empalku Man hihihi”


“Wah istrikuuuu….aku setuju kalau kayak begitu.. Ayo bukakan pintu rumah ini, kita bisa puas puas dengan anak Marwoto ini hihihi”


“J..jangan pak….. “ kata Suharto


“Halah… tenang saja Suharto enak jamanku to, gak sakit kok…memang awalnya sakit sedikit kayak digigit semut kalau kuntila aku masuk ke syilitmu, tapi setelah beberapa kali goyangan kamu malah akan ketagihan kkok hihihihi


“Ndaaaak.. Jangan…saya laki-laki normal pak…!” iba Suharto.


“Lho, aku juga normal kok To..buktinya aku punya kuntila yang sebesar pasta gigi ukuran jumbo.. Aku gak punya empal brewok mirip miliknya Istriku itu hihihihi”


“Ampun paaak.. Ampuuun, saya tadi kesini karena disuruh bapak saya!”


“Heh To.. harus nya kamu kalau mau ke sini tanya dulu ke aku dan istriku, rumah kami kan ada di desa sana. Harusnya kamu tanya, aku dan istriku ke sini atau tidak. Kan gitu lebih baik kan…”


“Sudahlah… karena kami ini pasangan suami istri yang baik, maka dari itu kamu tidak jadi kami gilir, padahal aku sudah ngatjeng lihat belahan phantatmu!”


“Sekarang kamu pulang saja, dan jangan lupa berdoa dan minta ampun kepada Tuhanmu atas kesalahan kamu barusan ini…!”


“Ayo cepat pergi dari sini sekarang, dan jangan kembali ke sini lagi tanpa memberitahukan kepada kami terlebih dahulu hehehe”


“Aku dan istriku ini tau kalau kamu ini bukan orang jahat, kamu hanya diperalat bapakmu saja”


“Untuk saat ini kami tidak akan laporkan ke pengurus desa, tapi kamu harus baik kepada kami berdua Suharto, kamu harus baik kepada kami atau kamu akan aku bikin gak bisa buang air besar”


“Besok pagi, kamu harus datang ke rumah kami yang ada di desa sebelah, kami ingin menanyakan sesuatu kepadamu, dan  jangan mangkir”


“Jangan nodai kebaikan kami ini, jadi besok pagi kami tunggu di rumah ya!”


“B..baik pak…saya akan datang”


“Sekarang kamu boleh pulang, dan hati-hati di jalan…”

__ADS_1


“Oh iya… kamu ke sini naik apa to Suharto?”


“Saya naik motor, tapi motor saya titipkan ke teman saya yang tingglnya di rumah saya yang lama itu”


__ADS_2