Rochman Dan Ginten

Rochman Dan Ginten
38. Pemasok pakaian bekas


__ADS_3

Seperti biasanya,malam hari aku dan hunnyku berjualan sisa pakaian bekas di pasar, tidak seperti biasanya, malam ini daganganku hari ini laris, malam ini tidak ada pakaian yang tersisa!


Apakah karena aku menikah dengan Ginten, sehingga dagangan pakaian ku bisa laris seperti ini.


Belum juga terlalu malam, tapi kami sudah siap-siap untuk pulang, karena tidak ada lagi yang bisa dijual, kecuali kalau ada om om yang mau nawar syilitku hihihihi.


“Hun… malam ini malam terakhir kita berjualan pakaian, besok kita sudah tidak ada pakaian bekas yang bisa dijual lagi”


“Nah kan mas, aku kan udah pernah bilang ke mas… cari suplier pakaian bekas lagi, agar kita bisa berjualan terus mas”


“Iya sih Ten. Tapi aku harus cari ke mana, aku kan gak pernah kemana-mana selain hanya disini”


“Ya udah  Hun.. yuk kita ringkes-ringkes aja, besok kita tanya ke pak Peno, apakah dia kenal dengan orang yang berjualan pakaian bekas yang bisa dikulak”


Aku melipat terpal yang kugunakan  untuk menaruh pakaian yang tadinya aku jual. Sementara itu Hunyku sedang melipat karung-karung besar dan mengikatnya dengan tali plastik.


Terpal yang kugunakan untuk menjajakan pakaian ini sudah kulipat dengan rapi, dan akan aku taruh di besi tengan sepeda.


Tapi tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendekati aku dan Ginten.


“Selamat malam bapak dan ibu…” sapa prempuan itu


“Iya bu.. Ada yang bisa saya bantu, maaf jualan kami sudah laku semua, tidak ada lagi yang bisa kami jual malam, ini”


“Ah tidak apa-apa pak, perkenalkan nama saya Dany… saya dari kota Mjsr….”


“Iya mbak Dany. nama saya Totok, dan istri saya ini Hunny, eh nganu nama istri saya ini Ginten. Eh ada perlu apa dengan kami ya mbak Dany?”


“Jadi begini pak Totok, saya adalah suplier pakaian…pakain bekas tapi import, dari china”


“Saya memang selalu mendatangi pasar-pasar di tiap daerah untuk melihat apakah ada peluang untuk berjualan pakaian bekas impor itu”


“Saya sudah ke beberapa pasar desa, untuk mencari peluang berjualan, tetapi beberapa pasar desa yang saya datangi itu prospek berjualan pakaiannya  biasa saja, bahkan ada yang sama sekali tidak laku”


“Tapi ketika pertaka kali saya ke pasar Gebang dan melihat bapak dan ibu yang tiap malam selalu diserbu pembeli saya sangat kagum”


“Kemudian dalam lima hari ini saya selalu datang kesini setiap sore hingga malam hari, dalam beberapa hari ini saya kagum dengan bapak dan ibu”


“Bapak dan Ibu jangan khawatir, saya tidak akan buka lapak pakaian bekas disini, saya adalah distributor merangkap supplier pakaian bekas dari china”


“Dalam kesempatan ini, saya mengajak bapak dan ibu untuk kulakan pakaian bekas dari saya, harga sangat murah dan terjamin up to date”


“Bagaimana pak Totok dan bu Ginten… oh iya satu lagi… apabila prospek disini menjanjikan, maka perusahaan kami akan  bekerja sama dengan bapak dan ibu untuk memperbesar usaha dengan menyewa toko disini”


“Tentu saja nanti akan kita bicarakan tentang pembagian hasilnya”

__ADS_1


“Sik sebentar mbak Dany… saya mau tanya sesuatu sebelum mbak Dany terlalu jauh bicara” kata Ginten  tiba-tiba memotong omongan


“Bagaimana cara mbak Dany atau perusahaan mbak Dani tau kalau disini prospek berdagang pakaian bekas itu menguntungkan, dan kenapa kalian tidak buka toko sendiri saja?”


“Ok baik bu Ginten…. Pertama, saya sudah melihat sendiri pakaian yang kalian jual, saya juga tau harga pakaian yang kalian jual…sedikit lebih mahal dari harga pasaran dengan kualitas seperti itu”


“Kedua, kami tidak mau mengambil alih apa yang sudah kalian lakukan disini hingga mempunya pelanggan yang begitu banyak”


“Ketiga… kalian bisa bersaing dengan toko yang ada disini, meskipun pakaian yang kalian jual ini bekas dan dengan harga yang hampir sama dengan pakaian baru yang dijual di toko itu” tunjuk perempuan yang bernama Dany pada sebuah toko yang sepi, memang sepi karena demitnya sudah aku usir hihihi.


“Nah dari yang saya sebutkan itu, saya berpendapat bahwa bapak dan ibu ini mempunyai keberuntungan tersendiri, sehingga bisa merebut hati para calon pembeli yang ada di pasar ini”


“Ok mbak Dany, kemudian apa yang akan mbak Dany tawarkan kepada kami?”


“Terserah bapak dan ibu, mau beli ke pada kami atau kerja sama dengan kami. Kerjasama dalam artian, barang kami yang sediakan, bapak dan ibu hanya menjual saja, nanti kita bagi hasil keuntungan 30% untuk bapak ibu dan 70% untuk perusahaan kami”


“Wah keuntunganya kok gitu sih mbak hehehe, udah gini saja mbak.. Lebih baik kami beli saja.. Gimana Hunny, untuk saat ini kita beli ke mbaknya aja dulu ya, sambil lihat laku atau tidaknya barangnya hehehe”


“Iya deh mas, aku setuju sama sama pendapatnya mas”


“Ya sudah kalau begitu bapak dan ibu, kalau begitu besok saya akan ke rumah kalian berdua dengan membawa pakaian yang bisa bapak dan ibu pilih. Tolong saya dikasih alamatnya, sekalian nomor telepon atau HP”


“Hehehe.. Kami hanya desa mbak, kami tidak punya telepon maupun Hp hehehe”


Akhirnya setelah saling memahami mbak Dany pun pergi.


“Wah.. ternyata dia naik mobil Hun.. orang kaya dia itu kayaknya ya?”


“Iya mas, mobilnya bagus, dan diparkir agak jauh dari pasar hihihi, yuk kita pulang mas, yang penting kita sudah punya supplier pakaian lagi, dan bisa terus berjualan pakaian mas”


“Iya Hun, suatu kebetulan yang benar-benar hebat, apakah ini semua karena kita menikah ya Hun?”


“Ya gak tau juga mas… masak karena kita menikah terus semua menjadi dipermudah hihihih”


“Berarti menikah itu mendatangkan rejeki ya Hun, kalau gitu aku mau nikah terus biar rejekiku banyak Hun”


“Lho kalau mau nikah lagi ya tidak papa Mas, tapi nanti mas Man malah bosen sama perempuan hehehe”


“Ya nikah sama laki-lakilah hun, mosok gak bisa nikah sama laki-laki?”


“Dilaknat sama Tuhan nanti kamu mas…. Eh tapi kamu kan gak percaya sama Tuhan ya mas eheheheh”


*****


Hari minggu pagi  ketika matahari sudah seperempat jalan…

__ADS_1


Aku sedang ngobrol bersama tetangga sebelah pak Peno yang orangnya baik, tidak ada hal penting yang aku obrolkan selain hanya saling tegur sama sesama tetangga dan menanyakan kabar masing-masing.


Tiba-tiba dari arah jalan desa ada sebuah mobil yang datang..mobil itu berjalan sangat pelan, dan kemudian berhenti beberapa rumah dari tempatku dan pak Peno sedang berdiri.


Aku ingat mobil itu milik mbak Dany yang semalam  menawariku pakaian untuk dijual lagi. Dia ternyata menepati janji dengan datang ke sini pagi ini.


“Wah lihat itu…ada orang yang sedang cari alamat mas Tok” kata pak Peno


“Iya pak, itu keliatananya orang dari kota yang semalam kenalan dengan saya dan istri saya pak”


“Lho kalau memang cari mas Totok ya didatangi mas. Lihat orang yang ada di mobil itu turun dan sedang tanya alamat pada pak Baskoro itu”


“Hehehe iya pak.. Saya ke sana dulu pak”


Memang kau sengaja diam saja, agar bu Dany tanya alamat rumah ini kepada tetangga yang ada disini, tetapi tadi aku terlanjur keceplosan kepada pak Peno hehehehe.


Ternyata yang turun untuk menanyakan alamat ke tetangga itu supirnya, tapi akhirnya mbak Dany melihat aku yang sedang berdiri di tengah jalan dan memanggil mereka dengan mengayunkan tanganku.


Akhirnya mobil pun berjalan menuju ke rumah kami…


“Assalamualaikum pak Totok … akhirnya ketemu rumah pak Totok” kata mbak Dany yang turun dari mobil yang bentuknya  memanjang dan berwarna hitam itu


“Waalaikum salam mbak Dany”


“Mas Tok..monggo  kalau ada tamu, saya pulang dulu saja” kata pak Peno kemudian masuk ke dalam rumahnya


“Mari mbak Dany … untuk sementara ini kami tinggal disini, mungkin tidak lama lagi kami pindah ke desa sebelah mbak heheh… mari masuk mbak”


Ginten yang dari tadi menunggu di ruang tamu kemudian keluar dari rumah..dan menyuruh mbak Dany untuk masuk ke rumah.


Tetapi sebelumnya mbak Dany menyuruh supirnya untuk  menurunkan karung-karung yang berisi pakaian dari dalam mobilnya.


Ada tiga karung yang diturunkan dari dalam mobil..


*****


“Jadi begini pak Totok dan bu Ginten.. Ini ada tiga karung dengan yang saya bawa, harga tiap karung berbeda beda, karena tergantung dari kwalitasnya”


“Yang kiri itu yang kwalitas murah dan harganya paling murah, tengah ini sedengan , dan yang kanan itu yang mahal”


“Sekarang bu Ginten boleh lihat dulu isinya, dan silahkan pilih mana yang mau di beli dan di cek dulu” kata mbak Danny


“Untuk saat ini boleh ambil satuan, tetapi untuk selanjutnya tidak bisa bu, karena ongkos kirim ke sini cukup mahal”


“Berapa harga untuk satu karungnya yang kwalitas bagus mbak Dany?”

__ADS_1


__ADS_2