
Aku gak gak tau apa yang akan dilakukan Painah kepadaku dan Ginten, tetapi kalau dia akan menikahkan aku dan Ginten tentu saja itu masalah yang tidak sepele.
Aku takut apabila aku tidak bisa menjadi seorang suami bagi istriku.
Aku takut apabila aku tidak bisa melakukan hubungan badan yang normal, karena yang ada di kepalaku hanya tubuh kekar dan atletis, bukan tubuh milik perempuan dengan buah dahdah yang menonjol.
Malam menuju pagi ini aku bergandengan tangan jalan menuju ke rumah bekas kontrakan mahasiswa yang letaknya tidak terlalu jauh dari makam Painah.
Harusnya malam ini aku dan Ginten mau ke rumah Marwoto lagi.. hanya sekedar melihat apa yang sedang dilakukan dia disana.
Tapi tadi Painah menyuruhku untuk pulang, karena besok akan ada ustad yang akan menikahkan aku dengan Ginten.
“Kok diem Man, apa ada yang kamu pikirkan lagi?”
“Iya Ten….
“Tentang pernikahan kita Man?”
“He’eh… huuffff”
“Tenang saja Man, saya akan bantu kamu sebisa mungkin hingga kamu waras Man”
“Lehhh aku iki waras… gak gendeng Ten!”
“Heheheh, iyaaa kamu ini waras Man, yang gak waras cuma orientasi seksuwalmu aja hehehe”
“Huuf mboh lah Ten.. aku nurut katamu ae Ten…”
“Nah sip iku Man.. pokoknya saya akan bikin kamu sembuh dan ketagihan dengan empal brewoku”
“Hiiiii ngeriii Ten… eh gimana kalau bulu-bulu yang menutupi empal brewokmu kamu cukur dulu saja!”
“Heheheh gampang… kita beli silet pencukur dulu besok Man hehehhe”
Janc*k… kenapa aku jadi kayak gini, apakah ini yang dinamakan jalan menuju normal.
Apakah aku harus menuruti omongan Ginten?
Tapi kalau hidupku gini-gini aja jadinya ya makin gak karuan, aku harus bisa berubah untuk merubah masa depanku…
Aku harus bisa menerima Ginten.. eh aku harus bisa menerima dan membiasakan diri dengan onderdil milik perempuan yang terus terang aku jijik untuk membayangkannya.
Tapi kalau tidak dipaksakan maka aku akan seperti ini terus menerus..
“Ten… sini aku rasanya kok kepingin ngerangkul kamu… hehehe besok kita sudah jadi suami istri ya Ten?”
“Iya Man… siap gak siap ya kamu harus siap Man, paling tidak kamu harus bisa merubah semua yang ada di dalam dirimu selama ini”
“Kamu sekarang kan sudah jadi manusia Man, harusnya ya kelakuanmu juga menjadi kelakuan manusia, jangan tetap berkelakuan demit yang suka sama lubang jalannya taik hihihihi”
“Ah kamu ini bisa aja Ten, asal kamu tau, lubang tai itu lebih menggigit daripada lubang empalmu heheheh”
__ADS_1
“Hihihih tapi kenapa tadi kamu menikmati ketika saya goyang Man.. kalau kamu gak suka sama empalku kan kamu gak menikmatinya Man heheheh”
“Yah.. karena sudah terlanjur ….. mosok harus berhenti setengah jalan Ten hehehe, kan jadinya ya nanggung kan”
Ngobrol bersama Ginten ini tidak ada habisnya, Ginten itu seseorang yang enak diajak bicara, dia punya topik-topik baru yang bisa kita diskusikan.
Ginten itu bukan tipe perempuan yang diam dan membosankan, dia tipe perempuan yang menyenangkan apabila diajak bicara.
Aku berjalan santai menuju ke rumah.. tetapi ketika sekitar sepuluh meter dari rumah, aku melihat sesuatu di rumah pak Peno.
“Ten…berhenti duluuuu.. lihat disana, di teras rumah pak Peno!” bisik ku kepada Ginten
“Iya Man, ada bayangan hitam.. tapi saya gak tau itu manusia atau bukan Man?”
“Eh gimana kalau kamu cari penjaga malam Ten, sementara itu aku mau bekuk yang ada di depan rumah pak Peno itu”
“Wah.. ojok gitu Man.. saya mana tau dimana letak dua orang yang sekarang sedang ronda malam… bisa saja mereka sekarang ada di batas desa Man”
“Yo wis lah Ten.. kita selesaikan berdua saja Ten…nanti kamu bangunkan pemilik rumahnya setelah aku berhasil menangkap orang yang sedang mengendap endap itu Ten”
“Kamu jangan ikuti aku Ten.. coba kamu melipir di sebelah kiri, aku melipir di sebelah kanan, dan usahakan jangan sampai yang ada di depan rumah pak Peno itu melihat kita berdua”
Jarakku dan orang atau demit yang ada di teras rumah pak Peno itu hanya sekitar sepuluh meter saja.
Tapi dalam jarak segitu itu bisa saja orang yang sekarang sedang berusaha masuk ke rumah pak Peno itu akan lari ke belakang rumah, ke semak belukar.
Jadi harus sangat hati-hati dan tidak menimbulkan suara agar aku bisa menangkap orang atau demit itu.
Bayangan hitam yang kemungkinan besar manusia itu masih saja berusaha masuk ke dalam rumah pak Peno
Aku gak bisa lihat apa yang sedang dilakukan bayangan hitam di depan rumah pak Peno, karena penglihatanku terhalang oleh pagar rumah.
Ternyata jalan dengan merunduk dan sesekali membungkuk itu capek juga, dibagian punggung dan pinggang rasanya pegel pegel.
Tapi memang harus begini caranya, agar aku bisa menangkap sesuatu yang masih ada di teras rumah pak Peno.
Semakin dekat…dan semakin dekat, hingga akhirnya aku ada di belakang orang yang sedang berusaha masuk ke dalam rumah pak Peno.
Sementara itu Ginten yang tidak jauh dari posisiku juga sedang mengendap endap bagaikan kucing yang memergoki kecoak.
Aku loncat ke dalam teras rumah pak Peno, kemudian aku pegang demit yang tadi aku sangka sebagai manusia.
Dari energi yang dimiliki, ternyata demit ini gak ada apa-apanya dengan aku. Tidak ada perlawanan ketika kutarik tanganya…
“Heh.. siapa kamu, dan sedang apa disini!”
“Oh ternyata kamu bukan manusia ya… hehehe kamu demit suruhan siapa?”
“Ayo ikut aku ke rumahku saja, kamu ini masih kecil kok sudah nakal..”
“Ten, ayo kita pulang saja.. Kita garap di rumah saja Ten” kupanggil Ginten yang masih ada di depan pagar rumah pak Peno
__ADS_1
Demit yang ternyata masih muda ini aku bawa ke rumah dan kududukan di ruang tamu rumah yang masih berantakan dengan baju bekas.
Terus terang, aku senang kalau mendapati demit yang iseng seperti ini, apalagi demit ini masih bua kencur masih lugu dan tentu saja lubang untuk jalan taiknya masih rapet!
“Kamu ngapain ada di rumah sebelah itu.. Kamu disuruh sapa!”
“Ayo jawab, jangan diam saja, kamu mau kalau aku siksa dengan aku taruh di corong masjid sehingga kamu bisa mendengar suara adzan dan pengajian terus menerus?”
“J..jangan pak.. jangan tarus saya disana.. saya tidak mau beragama!”
“Ah tolol… enakan beragama, bisa dekat dengan Tuhan dan kamu bisa masuk syurga kan Tong!”
“Tidak…. Jangan pak”
“Heh Tong… siapa namamu dan siapa yang menyuruhmu ke sini?”
“Saya gak punya nama.. saya berasal dari kuburan desa.. saya kesini disuruh bos saya untuk bikin masalah dengan pemilik rumah itu yang bernama Rochman!”
“Hahaha geblek!... itu bukan Rumah Rochman, rumah Rochman itu disini… saya ini Rochman, sedangkan yang disana itu namanya pak Peno hehehhe”
“Ayo sini sungkem sama aku dulu Tong… setelah itu kamu keluar lagi dan lakukan apa yang disuruh Bosmu yang namanya Marwoto kan heheheh”
Demit itu mau saja sungkem cium tanganku, dia benar-benar masih lugu, masih polos!. Seandainya gak ada Ginten, sudah aku bikin berdarah darah lubang tempat tainya heheheh.
“Kok kamu tau nama bosku Marwoto?”
“Sudahlah jangan banyak bicara.. ayo lekas apa lakukan apa yang disuruh bosmu, kepada rumah Rochman sekarang juga heheheh”
“Eh tapi apa gak masalah saya lakukan yang disuruh bos Marwoto kepada pak Rochman?”
“Iya gak papaaa…cepat, keburu pagi, aku kan sudah ngantuk ini… sekarang kamu di depan saya bersama istriku Ginten, kamu kemudian lakukan apa yang disuruh Marwoto ya”
“Eh itu istrimu pak… saya kadang lihat istrimu itu di kuburan mbok Painah” kada demit itu dengan lugunya
“Sudah jangan banyak bicara.. ayo cepat lakukan tugasmu, setelah itu kamu pulang dan laporkan kepada bosmu kalau kamu berhasil melaksanakan tugasmu dengan baik”
“Siaaap pak Rochman” kata demit itu kemudian keluar dari dalam rumahku.
“Man.. kamu iki gendeng.. Kasihan demit itu Man!”
“Lebih kasihan mana kalau dia nanti dihukum Marwoto karena tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik”
“Demit suruhan itu tidak boleh gagal melakukan tugasnya Ten.. dan dia akan disiksa bosnya kalau gagal melakukan tugasnya, dia masih lugu, masih perawan, masih enak kalau di tusuk dari belakang hihihi”
“Pak.. siap siap ya pak.. saya akan lakukan tugas saya” teriak demit yang sekarang ada di teras rumah
“Iya ..ayo cepat, aku sudah ngantuk ini Mit Demit!”
“Ia pak… sebentar, saya mau buka kain pembungkusnya, sulit sekali buka pembungkus ini pak… bisa minta bantuan pak?”
“Aku kan gak boleh keluar Tong… istriku saja yang bantu kamu ya!”
__ADS_1
“Ten.. tolongin demit itu membuka kain pembungkusnya..kasihan dia Ten heheheh”