
Sepeda kebo kukayuh agak cepat… nggak tau kenapa malam ini rasanya aku harus ke rumah Ginten dengan cepat, nggak tau kenapa perasaanku harus segera ke rumah Ginten.
“Mas.. kok nganyuhnya bertenaga sih, jangan buang-buang tenaga mas, nanti saya saya mas gak punya tenaga sama sekali”
“Tenang aja Hun.. kalau buat kamu aku masih punya banyak tenaga cadangan kok… aku merasa ada yang salah Hun.. tapi aku nggak tau apanya yang salah itu Hun”
“Hihihih, yang salah itu karena gak ada yang salahm akibatnya suamiku merasa harus ada yang salah hihihi”
“Hush ngawur ae Hun.. gaklah..kita kan sedang memperbaiki yang salah, dan kalau sudah benar ya dijaga agar tidak ada yang salah hehehehe”
“Hun…. kita ke rumahmu aja ya untuk malam ini, besok pagi baru kita kembali lagi ke desa sebelah”
“Heem mas… gak papa… soalnya besok mbak Dany kan mau ke rumah, dia mau kirim pakaian lagi”
Seperti ada dorongan, seperti ada yang menyuruhku untuk segera mungkin ke rumah Ginten… sepertinya ada yang mengatakan.. Cepat ke sana, ke rumah Ginten.
Aku gak tau apa maksud dari kata hatiku ini, tetapi yang pasti kata hatiku ini berkata yang sebenarnya dan tidak ada acara tipu tipuan.
jangan -jangan di desa rumah Ginten Marwoto sudah melakukan sesuatu…aaaah sudahlah, jangan berpikir yang jelek jelek dulu, kita harus berpikir yang jernih agar semua ini bisa dilalui dengan benar.
“Mas… kok genjotanya makin kencang sih.. Memangnya ada apa mas?”
“Nggak tau Hun, pikiranku kalut, aku terus menerus merasa ada yang aneh dengan desa sebelah dan rumahmu.. Aku merasa sekarang ada sesuatu disana dan sedang memperhatikan rumahmu”
Aku tau Ginten agak terpental pental ketika aku bonceng, karena pegangan tangan dia yang semakin kencang di pinggangku, aku tau sebenarnya ginten agak kesakitan juga, tetapi dia lebih memilih untuk diam dari pada mengeluh kesakitan.
Desa sebelah sudah dekat, sepeda ini kukayuh dengan sekuat tenaga.. Gapura desa yang dari jauh telihat sepi itu sudah ada di depan mata..
“Hun… kenapa desa ini sepi sekali … coba kamu lihat.. Tidak ada penjaga malamnya Hun….”
“Iya mas… dan rasanya ketika kita melewati gapura itu gak enak mas… perut saya rasanya mual-mual mas”
“Ah … masak kamu hamil Hun?”
“… jangan bikin aku GR dong Hun…..”
“Ih mas ini..bukan karena hamil mas… tapi hawa ketika kita melewati gapuran itu rasanya gak enak sekali mas”
“Iya Hun.. gak hanya kamu aja yang merasakannya.. Aku juga… sekarang kita cari Fhuan atau langsung ke rumahmu saja?”
__ADS_1
“Langsung aja mas…saya rasa ada yang sedang menanti kedatangan kita mas”
Memang benar yang dirasakan oleh Hunnyku… aku pun merasa hawa yang gerah tapi bikin mual.. Panas nggak, dingin juga nggak, sehingga membuat perasaanku bingung dan khawatir.
Aku rasanya pernah merasakan keadaan seperti ini.. Hhm kalau gak salah waktu aku diselamatkan Mak Nyat Mani… ketika aku terluka parah dan harus menjadi manusia.
Apakah keadaan seperti ini artinya di sekitar aku dan Ginten ini ada mak Nyat Mani?
“Mas,... stop dulu mas…. Saya ingat keadaan seperti ini.. Hawa yang bikin mual dan bikin perasaan kita gak karuan.. Aku ingat keadaan ini adalah ketika Mak Nyat Mani ada di sekitar kita mas”
“Tapi kenapa tidak bau wangi bunga Hun?”
“Saya gak tau mas… pokoknya di sekitar sini pasti ada mak Nyat mani. Itu yang sekarang saya rasakan mas”
Kami sudah hampir ke perempatan jalan yang menuju ke rumah Ginten… ketika stang sepeda aku belokan ke kiri, ternyata lampu jalan gang itu mati.
Gang rumah Ginten dalam keadaan gelap gulita dan sepi.. Dan tidak ada seorangpun yang ada di gang rumah Giten.
“Mas… gimana ini..kenapa lampu penerangan jalan ini mati?”
“Entahlah Hun… kita tetap jalan lurus saja, kayaknya ada sesuatu di antara rumahmu dan rumah Juriah”
Ketika sepeda kuhentikan di depan rumah…
“Mas.. bau wangi… disini ada Mak Nyat Mani… “ bisik Ginten
“Tenang saja Ten.. kita tidak punya maksud apa-apa dengan beliau, jadi kita tidak perlu takut dengan beliau”
Bau wangi ini semakin lama semakin tajam.. Wangi khas yang pernah aku rasakan pada jaman ketika aku bersama dengan anak-anak Sutopo, ketika aku ditolong Mak Nyat Mani.
Aku tau.. Apabila ada Mak Nyat Mani datang berarti ada sesuatu yang sangat penting yang menarik perhatianya.
Dan sesuatu yang penting itu apalagi kalau bukan yang disimpan pak Tembol… entah di rumah ini atau di rumah Juriah.
Bau itu semakin lama semakin tajam, dan pada akhirnya apa yang aku takuti ternyata muncul juga’
Tiba-tiba ada cahaya yang berpendar, dan cahaya itu lama kelamaan berubah bentuk menjadi seorang perempuan cantik yang tidak pernah berubah kecantikanya..
Setelah beberapa detik akhirnya wujud Mak Nyat Mani pun sudah ada di depanku dan Ginten….
__ADS_1
“Ginten… Rochman….” sapanya
“Iya mak Nyat Mani…..” jawab Ginten sambil menunduk
Aku tau waktu jaman anak-anak Sutopo menyerang Dimas… Ginten adalah anak buah dan orang kepercayaan Mak Nyat Mani… jadi maklum saja apabila istriku saat ini agak sungkan dengan Beliau.
“Bagaimana kabar kalian berdua…?” tanyanya dengan nada yang sangat ramah
“Saya dengar kalian berdua sudah menikah ya?” tanyanya lagi dengan penuh senyuman
“Benar Mak.. kami sudah menikah… dan kami berdua sudah hidup normal dan berusaha membangun rumah tangga yang baik” jawab Istriku
“Hmmm kamu kok dium saja Rochman… kenapa yang jawab hanya istri kamu saja dari tadi?”
“Apa kamu tidak senang dengan kehadiranku disini?”
“Ehhmm tidak papa Mak.. kan Hunnyku sudah yang jawab…”
“Oh jadi panggilan sayang untuk Ginten ini adalah Hunny ya Rochman hihihihi…lucu juga ya”
“Sayangnya semua suami saya sudah saya bunuh.. Sehingga saya tidak bisa merasakan panggilan sayang seperti kamu dan Ginten Man”
Aku bisa merasakan adanya niat yang tidak baik dari kedatangan Mak Nyat Mani ini, tetapi aku akan ikuti saja dulu permainan yang akan dia lakukan.
Aku tau aku dan Ginten tidak akan bisa mengalahkan Mak Nyat Mani… dia adalah ratu Jin yang menguasai daerah sini, dan tidak ada yang bisa mengalahkanya.
“Kalian berdua tau apa tujuan saya menemui kalian disini?” tanyanya dengan wajah yang masih tersenyum cantik
Baik aku dan Ginten tidak menjawab apa yang dia tanyakan.. Kami tetap diam tanpa menjawab pertanyaan dia sama sekali.
“Hehehe kalian berdua ini lucu… diam kok barengan sih..ya sudah tidak apa-apa… “
“Saya kesini yang pertama hanya ingin memastikan bahwa tidak ada yang mengganggu apa yang dilakukan oleh Marwoto dan Suparmi”
“Kalian harus tau bahwa apa yang sedang dilakukan Marwoto adalah perintah dari saya, jadi kalian berdua pasangan yang sudah menikah dan bahagia lebih baik jangan ganggu Marwoto”
“Yang kedua.. Saya kesini hanya untuk memastikan bahwa kalian tidak menyimpan rahasia apa-apa, kalian tidak menyembunyikan apa-apa, kalian tidak menyimpan apa yang Marwoto cari”
“Dan yang terakhir… hiduplah tenang sebagai keluarga bahagia, memiliki anak, memiliki rumah dan lain sebagainya… dengan syarat jangan ikut campur urusan Marwoto”
__ADS_1