Rochman Dan Ginten

Rochman Dan Ginten
40. Harta apa?


__ADS_3

“Bapakmu bilang harta apa yang ada di rumah istri saya ini?”


“Saya tidak tau pak, bapak saya hanya bilang ada harta yang tersimpan disana, tetapi kata bapak saya harta itu disembunyikan dan dilindungi oleh hantu yang ada disana”


“Hantu…. Hantu apa yang jaga harta itu?”


“Saya tidak tau pak, yang tau hanya bapak saya saja”


“Terus kenapa kamu semalam mencari surat tanah rumah itu… aku sebenarnya tau jawabanya, tetapi aku harus tau sendiri dari mulutmu Suharto”


“Saya disuruh cari surat tanah rumah itu, kata bapak saya surat tanah rumah itu disimpan di kamar depan”


“Nah ini yang menarik, bagaimana bapakmu tau apabila surat tanah itu ada di kamar depan, bukan kamar lainnya?”


“Saya tidak tau kalau soal itu pak, yang saya tau adalah saya disuruh ambil surat tanah rumah itu saja, dan bapak saya ancam saya kalau saya tidak bisa mendapatkan surat tanah itu”


“Hehehehe asal kamu tau, disana tidak ada harta apapun, kamu itu dibohongi bapak kamu To!”


“Kamu itu mau dijadikan tumbal bapakmu, agar bapakmu makin sakti hehehe, tapi sayangnya bapakmu gak bisa kalahkan kami berdua”


“Gak pak… bapak saya tidak bohong”


“Bapakmu memang tidak bohong, yang bohong itu demit yang kasih informasi ke bapakmu!”


“Kamu tau dari mana bapakmu itu gak bohong? Wong bapakmu itu lho hobinya ngumpulin demit di rumahnya, mana ada demit yang jujur, selamanya demit itu suka nipu”


“Gini saja… kamu pulang saja, saya nanti malam sekitar jam 24.00  kamu saya tunggu di rumah Ginten yang ada di desa sebelah,”


“Kamu pulang aja, kemudian kamu korek-korek informasi tentang rumah Ginten itu, nanti malam kamu aku tunggu disana, dan jangan lupa bawa informasi yang berguna, saya pingin tau sih heheheh”


“Dan satu lagi…. Jangan sampai bapakmu tau kalau kamu akan ada disana bersama saya. Bilang saja kalau kamu mau ke sana untuk melanjutkan tugasmu mencari surat tanah rumah Ginten”


*****


“Hun…. jangan-jangan harta yang dimaksud Marwoto itu adalah yang pernah dicari oleh Dimas, harta yang ada di dalam rumah putih?”

__ADS_1


“Waduh mas…. Aku kok gak bisa mikir ya mas… sebenarnya ada harta apalagi disana, apakah harta itu yang dicari Dimas selama ini?”


“Hun… waktu kejadian Dimas dimusnahkan, setelah itu apa yang terjadi disana?”


“Gak ada apa-apa mas, seperti biasa saja, perpisahan dan sejenisnya, hanya saja saya sempat dengar apa yang dikatakan Mak Nyat Mani dan Soebroto tentang yang ada disana”


“Tapi saya gak jelas sama sekali mas”


“Ya sudahlah Hun….”


“Eh begini Hun, kita harus bikin perjanjian diri kita antar diri kita sendiri, kita harus janji tidak akan mencari harta atau apapun yang berasal dari masa lalu kita”


“Kita sekarang sudah bahagia dengan kehidupan baru kita Hun, sebentar lagi kamu kamu pasti akan hamil dan kita akan punya keturunan”


“Jangan sampai apapun yang berasal dari masa lalu mengakibatkan pernikahan dan keluarga kita berantakan Hun”


“Iya mas… saya juga merasa hidup kita ini semakin hari semakin bahagia, jangan sampai menjadi seperti dulu lagi, kita sudah menjadi manusia dan harus tetap seperti ini hingga akhir hayat kita”


“Ya udah Hun.. jadi kita sepakat ya, apapun yang ada atau yang akan kita temukan di rumahmu, maka akan kita simpan dan kita serahkan kepada anak-anak Sutopo sebagai pemilik resmi rumah putih itu”


Aku gak mau hanya masalah masa lalu yang menjadi rebutan Dimas, akan terjadi lagi pada saat ini, aku sudah tenang, sudah bahagia dengan usahaku dan Ginten.


Tapi setahuku harta milik mereka itu ada di rumah mbok Ju, bukan di rumah Ginten. Karena mereka kan tinggalnya dirumah mbok Juriah.


Atau kapan nanti suatu saat aku dan Ginten akan coba ke rumah Juriah yang keadaanya lebih mengerikan dari pada rumah Ginten.


Tapi sayangnya aku gak tau dimana Juriah sekarang berada, waktu itu kalau gak salah dia bersama Widodo. Dan kalau gak salah dia juga sudah dimusnahkan, tapi gak tau lagi gimana ceritanya.


*****


Sore hari aku dan istri sedang mempersiapkan barang dagangan yang akan kami jual di pasar, untuk malam ini pakaian yang akan kami jual adalah pakaian yang hasil kulakan di mbak Dany.


Dan Katanya nanti mbak Dany akan ke pasar juga, untuk melihat bagaimana masyarakat disini dalam belanja di lapakku.


“Ayo mas, kita siap-siap… rasanya tegang juga jualan dari hasil kulakan kita hehehe”

__ADS_1


“Iya Hun..aku juga tegang, kalau gak laku kita yang pusing… kalau sebelumnya sih mau laku gak laku ya gak masalah, karena pakaian yang kita jual kan dapatnya gratis”


Sore hari ini keadaan pasar lebih ramai daripada biasanya, mobil mewah masih parkiran pasar dan seliweran di jalan Gebang.


Para wisatawan itu datang ke daerah pegunungan untuk rekreasi dan menikmati hawa pegunungan.


“Hari ini keadaan pasar kok lebih ramai dari pada biasanya ya Hun…”


“Ya jelas rame mas, hari ini kan hari sabtu, waktunya orang-orang kota pada rekreasi hehehe”


“Oh iya Hun, aku kok sampai lupa hari kayak gini sih hihihihi”


Terpal sudah ku gelar, istriku sudah mengatur barang dagangan kami di atas terpal, untuk hari ini aku dan Huniku membawa cukup banyak pakaian daripada biasanya.


Aku yakin sore ini akan ramai pembeli seperti biasanya….


Ternyata dugaanku tidak meleset, baru juga istriku mengatur pakaian yang akan kami jual, sudah ada ibu-ibu yang datang ke sini dan melihat-lihat barang dagangan kami.


Semakin sorea semakin banyak ibu-ibu dan mbak-mbak yang berdatangan, dan diantaranya juga ada mbak Dany.


Mbak Dany memberikan tanda jempol kepada aku dan istriku… dan mbak Dany tadi juga sempat bicara dengan ibu-ibu yang sudah membeli bebeapa potong pakaian.


Yang aku dengar itu keliatanya mbak Dany sedang tanya tanya tentang aku dan Ginten. Yang kudengar seperti ini:


“Maaf bu..suka belanja pakaian disini ya, kok gak di toko toko itu?” kata mbak Dany pada seorang ibu-ibu yang membawa beberapa potong pakaian


“Iya mbak.. Selain penjualnya ramah, barangnya bagus-bagus, juga saya merasa kalau mas dan mbak yang jualan itu orang yang jujur, beda dengan yang di toko itu.. Pokoknya berhadapan dengan mas dan mbak yang jualan ini rasanya adem gitu mbak” jawab ibu-ibu  itu


“Kalau soal harga gimana bu?” tanya mbak Dany


“Harga tentu saja sedikit lebih murah mbak, tetapi sebenarnya bukan masalah harganya juga mbak, tetapi lebih ke penjualnya yang baik dan berbeda dengan penjual disini”


Itu yang tadi aku dengar dari tanya jawab mbak Dany dengan pembeli barang dagangan kami.


“Mas.. baru jam segini pakaian kita tinggal sisa beberapa potong lagi, gimana apa kita tunggu sampai habis atau gimana mas?”

__ADS_1


“Tetap disini saja dulu Hun, lihat itu mbak Dany dari tadi memperhatikan kita terus kan”


“Kita tunggu hingga jam delapan seperti biasanya saja Hun, siapa tau ada yang beli pakaian ini lagi, nanti setelah itu kita langsung ke rumahmu yang ada di desa sebelah Hun”


__ADS_2