
“Aku tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut mak Nyat Mani mas”
“Sama Hun…aku juga tidak percaya… sepertinya bukan Mak Nyat Mani yang pernah aku kenal Hun…”
“Trs apa yang harus kita lakukan mas….?”
“Kita konsultasi ke mbok Painah dulu saja Hun… aku kok gak percaya apabila Mak Nyat Mani bisa berkata sekasar itu”
“Sekarang apa yang harus kita lakukan Mas.. kita tetap disini atau gimana?
“Kita sekarang ke makam mbok Painah saja Hun… lagipula besok pagi kita kan harus ketemu dengan mbak Dany juga kan. Jadi sebaiknya kita balik ke rumah saja”
Keadaan desa sudah kembali normal… lampu penerangan jalan pun sudah menyala kembali… aku pun sempat bertemu dengan beberapa orang yang sedang ronda.
Semua kembali normal, tidak ada yang berbeda… semua kembali normal setelah Mak Nyat Mani pergi dari rumah Ginten
Aku seolah gak punya daya untuk mengayuh sepeda… tidak ada semangat untuk melanjutkan apa yang diamanati mbok Painah.
Tapi aku tidak bisa begitu saja menyerah, aku harus tau dulu duduk permasalahanya seperti apa, dan sebenarnya yang dicari oleh Mak Nyat Mani itu apa.
“Ayo mas..yang semangat ngayuh sepedanya mas… kita harus ke mbok Painah secepatnya.. Ada yang tidak beres dengan Mak Nyat Mani mas…”
“Iya Hun… ini sedang aku usahakan tiba di makam mbok Painah secepatnya… aku rasa yang tadi datang itu bukan Mak Nyat Mani yang sebenarnya Hun”
Sebenarnya apa yang dikatakan Mak Nyat Mani tentang apa yang sedang dilakukan oleh Marwoto itu aneh juga… kenapa sampai aku dan Ginten dilarang ikut campur yang dilakukan oleh Marwoto…
Akhirnya setelah mengayuh sepeda dengan jarak yang tidak dekat, kami pun sampai di makam desa, dimana disana terkubur jasad mbok Painah ibu dari Marwoto.
Setelah kusembunyikan sepeda ini di dalam makam… aku dan Ginten menuju ke bagian belakang makam yang lumayan luas, makam Ginten letaknya ada di bagian belakang dari makam desa ini.
Kakiku gemetar ketika berjalan di antara nisan nisan makam.. Aku masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Mak Nyat Mani tadi itu.
Aku bingung harus berkata apa kepada Mak Nyat Mani… awalnya aku merasa tidak mungkin apabila Mak Nyat Mani ada di belakang masalah ini.
*****
“Kalian berdua sudah bertemu dengan Mak Nyat Mani?” tanya mbok Painah
“Iya…”jawab Ginten sambil menunduk
“Dan kalian percaya dengan apa yang dikatakan olehnya?”
“Entahlah Mbok… saya tidak percayapun pada akhirnya juga akan percaya… karena Mak Nyat Mani hadir di depan kami berdua”
“Hehehe Rochman… kamu apa sudah lupa bagaimana rupa, tingkah laku, cara bicara dan tindak tanduk Mak Nyat Mani?” tanya mbok Painah lagi
__ADS_1
“Saya sudah lupa mbok… tapi kenapa mbok Painah berkata seperti itu?”
“Kalian berdua harusnya bisa menilai, apakah sosok Mak Nyat Mani itu seperti itu, apakah sosok dia itu cara bicara dan tindak tanduknya seperti itu?”
“Jadi itu bukan Mak Nyat Mani?” tanya istriku
“Ginten… kamu sudah lama jadi orang kepercayaan Mak Nyat Mani… apa kamu masih belum bisa tau bagaimana ciri dari beliau?” tanya mbok Painah
“Eh saya lupa mbok”
“Ginten… ginten… ya sudahlah..sudah menjelang pagi… kalian pikirkan sendiri apa yang saya katakan ini…” “Lalu sekarang apa yang harus kami lakukan mbok?”
“Gak ada yang bisa kalian lakukan, ikuti saja alurnya, dan tetaplah berdua jangan terpisah… saling jaga dan saling bantu satu sama lain sebagai suami istri….eh Rochman, tolong jaga istrimu, jangan sampai lepas dari pandanganmu”
Aku gak paham sama yang dikatakan mbok Painah dengan mengatakan bahwa aku harus menjaga istriku… apakah akan terjadi sesuatu dengan Ginten?
Apakah Ginten akan pergi meninggalkan aku, atau apakah akan ada yang terjadi dengan Ginten… aku belum bisa menerka apa yang dikatakan oleh mbok Painah
Aku Yakin dari diri Ginten juga merasa aneh dengan yang barusan dikatakan mbok Painah….
*****
“Mas… apa saya mau mati ya mas?”
“Ah kamu ini ada-ada saja Hun… kamu kenapa kok bilang gitu?”
“Itu artinya aku sebagai suamimu harus menjaga kamu sampai kapanpun… sampai maut memisahkan kita Hun”
“Eh apakah itu tandanya kita harus sudah mulai punya agama mas… udah mulai kita minta tolong kepada Tuhan?”
“Hehehe kamu mau masuk agama apa memangnya Hun… dan apa alasanmu ingin beragama ?”
“Gak tau mas.. Tiba-tiba muncul di pikiranku bahwa aku harus punya agama, paling tidak kita punya tempat untuk meminta pertolongan”
“Hihihih ada-ada aja kamu Hun… memangnya kamu kenal sama Tuhan? Dan apa Tuhan kenal sama kamu… kok enaknya asal minta pertolongan saja”
“Ah kau ini mas… sekali setan ya tetap setan.. Gak mau menyembah Tuhan”
“Bukanya gitu Hun… aku ini memang setan.. Dan setan itu katanya diciptakan oleh Tuhan juga, tapi kan aku gak berhak untuk menyembah Tuhan Hun… wong derajat kita diatas manusia kok….”
“Manusia itu justru lebih buruk dari pada setan Hun… tapi kalau kamu mau beragama ya sudah.. Sana kamu baca saja kalimat syahadat… aku sih hapal kalimat itu.. Bahkan aku bisa katakan kalimat itu berulang ulang hehehehe”
“Ya udah mas… tapi kalau saya udah beragama gimana mas?”
“Ya gak papa kan Hun.. memangnya ada yang melarang mahluk sejenis kita ini untuk beragama, udah ah… gak usah bahas tentang agama Hun… udah hampir subuh.. Kamu istirahat dulu aja Hun.. nanti soalnya mbak Dany kan mau ke sini”
__ADS_1
Aku suruh Hunnyku untuk tidur… aku butuh waktu untuk sekedar mencerna ucapan dari mbok Painah, juga ucapan dari Mak Nyat Mani… aku butuh waktu untuk memahami apakah ada maksud yang tersembunyi di dalamnya.
Kalau seandainya apa yang tadi dikatakan mbok Painah benar… berarti yang tadi kita temui di rumah Ginten itu bukan Mak Nyat Mani dong..
Bisa siapa saja yang menyamar sebagai Mak Nyat Mani, dan mengancam aku dan Ginten…
Kemudian tentang perkataan mbok Painah… mungkin saja sesuatu yang menyamar sebagai Mak Nyat Mani itu akan mengancam Ginten.. Makanya aku disuruh untuk menjaga Ginten bagaimanapun keadaan Ginten.
Tapi sekarang Ginten malah ketakutan.. Dia malah kepingin beragama…lalu apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus mengikuti Ginten…. Huh.. aku ini setan.. Kenapa harus tunduk pada agama!
*****
Pukul 06.30 aku dan Ginten sedang menikmati sarapan… kami menunggu mbak Dany yang akan datang.
Ginten hari ini tidak seperti biasa, dia nampak lebih sedikit murung dari pada hari-hari sebelumnya..Apakah ini karena ucapan Mak Nyat Mani dan Painah?
“Hun… kenapa kok kamu murung gitu sih?”
“Saya kepingin jadi penyanyi dangdut mas.. Eh salah.. Saya kepingin kita ini menjadi keluarga yang harmonis. Tanpa ada ancaman atau sesuatu yang akan terjadi”
“Iya Hun..aku juga kepingin seperti itu… aku sudah capek jadi sesuatu yang jahat”
“Tapi mas… kita ini kan sudah terlanjur masuk di dalam sebuah masalah.. Dan masalah itu tidak main main mas”
“Iya Hun… aku tau! Terus menurutmu kita harus bagaimana?”
“Mau stop sampai disini pun kita sudah separuh jalan.. Gak mungkin lagi kalau mau stop dan melakukan sesuatu yang tidak berhubungan dengan semua ini”
“Kita bisa stop kok mas.. Asalkan ada niat.. Tapi…”
“Tapi apa Hun.. tapi kamu gak bisa stop begitu saja kan heheheh”
“Iya mas…”
“Sudahlah Hun… kita jalani saja, dan aku berharap kita bisa secepatnya bertemu dengan anak-anak Sutopo”
“Kita serahkan masalah ini kepada mereka… bukankah masalah ini muncul sejak adanya anak-anak Sutopo Hun?”
“Iya mas… kalau kita bertemu dengan mereka, tetapi kalau kita tidak pernah bertemu dengan mereka bagaimana mas?”
PERMISIIII… ASSALAMUALAIKUM……
“Hun.. itu suara mbak Dany… sana kamu keluar Hun, dan jangan pasang tampang sedih… kita harus tetap gembira”
“iya …..”
__ADS_1
Aku tau Hunnyku dalam keadaan bingung. Aku pun juga sama, tapi aku masih bisa menyembunyikan bingungku ini.
Aku merasa bahwa ancaman Mak Nyat Mani ini artinya akan terjadi perang seperti dulu lagi, dan pesan dari mbok painah juga sama.. Artinya aku harus jaga Ginten karena situasi yang makin memanas.