
Tidak seperti biasanya kami pulang jam delapan, untuk malam ini kami bisa tutup toko pada jam Sembilan, itupun setelah istriku mengusir beberapa pembeli yang belum menentukan pilihannya untuk membeli pakaian apa.
Penjualan hari ini lumayan.. Mungkin ada sekitar lima puluh persen dari pakaian yang dipajang sudah terjual. Dan tentu saja mbak Dany pun kelihatan senang.
Ginten apakah dia juga senang?
Iya… tentu saja istriku senang, tetapi di balik senangnya istriku, ada sesuatu yang kelihatannya sedang dia pikirkan.
Aku hapal raut wajah istriku, karena selama ini aku belum pernah melihat dia seperti ini, apapun yang terjadi dengan kami, istriku selalu terlihat bahagia, berbeda dengan malam ini.
“Kalian berdua memang sepasang suami istri pembawa keberuntungan. Dan untuk seminggu ini keuntungan kita bagi setelah penjualan selesai”
“Sedangkan berikutnya kita bagi rata setelah penjualan selama satu minggu ya” kata mbak Dany ketika kami akan pulang ke rumah dan setelah membagi rata keuntungan 50% antara kami dengan mbak Dany
“Ya tidak juga mbak dany… ini kan juga karena penduduk disini memang kepingin baju baru, jadi mereka berbondong bondong membeli pakaian yang ada di toko ini” kata Ginten
“Tidak bu Totok, saya rasa bukan karena alasan itu bu.. Ada faktor X di dalam diri kalian berdua yang membuat orang-orang yang lewat di depan toko Gemezzz ini punya keinginan untuk membeli pakaian yang ada disini”
“Besok sore saya tunggu di toko lagi ya pak dan bu Totok.. Kalian berdua pulang saja, biar kami yang bersih bersih dan menata pakaian yang besok sore akan dijual disini”
*****
“Hun… jujur sama aku dong… Hunnyku pasti kepikiran tentang Mak Nyat Mani kan?”
“Eeh… iya mas… sampai sekarang saya masih kepikiran tentang apa yang dia katakan”
“Sudahlah Hun, begini saja Hun… jangan kita pikirkan apa yang terjadi nanti, aku gak mau istriku sedih seperti ini, aku kepingin kita bahagia seperti sebelum sebelumnya”
“Kita kesampingkan masalah marwoto, Painah, dan Mak Nyat Mani….kita sekarang fokus ke toko Gemezzz saja Hun… cita-cita kita sudah mulai ada kemajuan dengan memiliki toko Gemezzz”
“Iya mas.. Akan saya coba untuk melupakan apa yang Mak Nyat Mani katakan….”
Malam hari ini kami sampai di rumah agak terlalu malam, maklum karena dari toko saja kami pulang jam sembilan, sehingga sampai rumah tinggal capeknya.
nanti .. suatu waktu aku akan minta kredit sepeda motor, agar aku dan Hunnyku bisa pulang pergi tanpa rasa capek.
Untuk saat ini aku usahakan melupakan apa yang dikatakan Mak Nyat Mani… perkataan dia memang begitu menusuk kami.
Hanya saja aku ragu juga… apakah benar dia itu Mak Nyat Mani…. Karena tidak mungkin seorang Mak Nyat Mani bisa berkata sekasar itu.
Dulu saja Mak Nyat Mani selalu menyuruh anak-anak Sutopo untuk melakukan sesuatu… dia tidak mau mengotori tangan dan tubuhnya dengan kekerasan, tetapi kenapa berbeda dengan yang sekarang ini.
Malah dia turun tangan untuk mengancam aku dan Ginten… tapi sudahlah, lebih baik aku fokus pada toko baruku saja daripada mikir yang belum tentu benar.
“Mas…. malam ini saya kok kepingin tidur sambil dipeluk mas ya?” tanya Ginten yang ada di boncengan sepeda
“Tenang saja sayangku… nggak akan aku lepas pelukanku nanti… pokoknya Hunnyku harus aman dalam dekapanku!”
__ADS_1
*****
Pagi hari…
Tidak seperti biasanya.. Biasanya aku dan istriku menyiapkan pakaian yang akan kami jual untuk sore harinya, tetapi untuk pagi ini ruang tamu bekas rumah kontrakan mahasiswa yang aku tempati dengan gratis ini sepi.
Tidak ada karung atau pakaian berserakan di ruang tamu… yang ada hanya nampan yang berisi dua gelas kopi bersama dengan pisang rebus hasil ambil di halaman belakang rumah.
Ruang tamu ini sepi..hanya ada aku dan ginten saja.
“Mas… rasanya ada yang kurang ya mas”
“Iya Hun.. gak ada pakaian yang berserakan dan gk ada karung bekas yang kadang kotor tanah di pasar”
“Bukan cuma itu mas…. Eh memang sih sebelumnya ruang tamu ini selalu penuh dengan pakaian bekas dan karung mas… tapi setelah kita punya toko semuanya menjadi sepi”
“Ya jelas Hun… kan memang dagangan kita sudah disiapkan mbak Dany disana”
“Iya mas, tapi ada satu hal lagi yang bikin rumah ini sepi….”
“Apa Hun…?”
“Anak mas… kita belum dikaruniai seorang anak… rumah ini bersih.. Apalagi rumah saya yang ada di desa sebelah mas… bersih dan sepi”
“Tetepai kalau kita punya seorang anak, pasti rumah yang sepi itu akan ramai dengan sendirinya mas”
“Tapi gimana ya mas.. Caranya agar cepat punya anak…kita kan udah sering berhubungan badan, tapi belum juga hamil mas”
“Kapan hari itu, saya kira saya akan hamil, eh ternyata gak jadi mas heheheh”
“Atau gini aja mas.. Coba mas Rochman tanya ke pak Peno agar mas bisa cepat hamilin aku”
“Wah ngawur ae Hun, aku kan ya malu Hun…”
“Dahlah Mas gak usah pakek malu segala.. Siapa tau pak Peno punya jamu atau cara agar saya bisa hamil mas heheheh..”
“Ayo dong maassss…”
“Iyaaaa… aku tanyakan sekarang ke pak Peno Hun”
“Iya sana mas…mumpung pak Peno lagi ada di depan rumahnya mas.. Cepet sana mas hehehe”
Wah gendeng istriku iki… mosok aku harus tanya ke pak Peno caranya agar istriku cepat hamil sih, aku kan ya malu rek.
Tapi gak papalah daripada Hunnyku sedih terus, minimal buat Hunnyku bahagia dulu lah mumpung pak Peno lagi ada di depan nyuci sepeda motornya seperti biasanya.
*****
__ADS_1
“Selamat pagi pak Peno… “
“Pagi mas Totok.. Saya dengar sekarang mas Totok punya toko pakaian ya, wah hebat sekali mas Totok ini.. Dari nol menjadi pengusaha”
“Lho kok pak Peno udah dengar, dengar dari siapa pak?”
“Ya dari istri mas, biasalah kalau istri saya ke pasar untuk belanja kan sekalian dengerin gosip gosip”
“Itu bukan toko saya pak.. Itu toko supplier saya, dia yang mengajak saya dan istri saya untuk kerja sama buka Toko pakaian”
“Hanya saja saya dan istri saya bebas mengelola toko itu, juga nama toko itu berasal dari saya dan istri saya pak, dan tentu saja pembagian keuntungan dibagi rata pak”
“Wah hebat mas Totok ini, semangatnya luar biasa…. Oh iya mas Totok menemui saya ini ada perlu apa?”
“Begini pak Peno, eh maaf mungkin pertanyaan saya ini agak bersifat pribadi… eh saya mau tanya sesuatu kepada pak Peno”
“Silahkan mas Totok, selama saya tau, pasti akan saya jawab mas”
“Jadi begini pak Peno… ehm saya ini kan sudah menikah, tetapi sampai sekarang saya kok belum dikaruniai anak juga ya pak”
“Hemm gitu ya mas.. Ehm memangnya mas Totok ini sudah berapa lama menikah?”
“Ehmm eh… berapa lama ya pak… bentar saya ingat-ingat dulu pak, ehm sekitar dua….eh salah, sekitar tiga tahun lebih pak”
“Iya saya ingat waktu itu di desa saya sedang ada kebakaran waktu kami nikah.. Iya.. itu tiga tahun lalu kalau gak salah pak”
“Wah sudah lama juga mas Tok, harusnya sudah bisa punya anak mas… ehm apa mas Totok kalau sedang berhubungan badan gitu gitu aja gayanya…?”
“Eh maksudnya gimana ya pak?”
“Ssttt.. Gini mas Tok… setahu saya dengan lebih bersemangat maka ****** yang masuk ke dalam rahim istri akan berenang lebih giat lagi mas” kata pak Peno setengah berbisik dengan wajah celingukan
“Jadi mas Totok harus punya variasi gaya dalam berhubungan badan mas, agar spermanya mas totok juga bersemangat heheheh”
“Ah masak gitu sih pak… setahu saya gak ada hubungannya pak”
“Lha ini pemikiran yang salah dari mas Totok… ehm begini saja mas.. Nanti akan saya pinjami majalah dan buku berbagai gaya berhubungan badan”
“Sebenarnya di handphone saya banyak film purnunya mas… tapi gak enak sama istri saya mas kapan-kapan saya akan perlihatkan film yang ada di handphon saya mas heheheh”
“Gini saja mas, sebagai awalnya, mas Totok akan saya pinjami buku dan majalah purnu.. Eh nanti temui saya di belokan gang sana ketika saya berangkat kerja”
*****
Aku sudah ada di belokan gang. Sedangkan pak Peno sedang pamitan kepada istrinya.
Pak Peno janji akan meminjami aku sebuah majalah heheheh majalah purnu yang ada berbagai macam gaya berhubungan badan.
__ADS_1
Nanti bisa aku praktekan kepada istriku agar dia cepat hamil….. Tapi teori yang diberikan pak Peno ini gak masuk akal blas.. Masak ****** akan berenang cepat dan bersemangat ketika kita dalam keadaan bersemangat.