Rochman Dan Ginten

Rochman Dan Ginten
43. Ngapain dia ke makam malam-malam gini


__ADS_3

“Kamu aku namai kamu Andrianus Abraham…setuju nggak?”


“Wah terimakasih banyak pak… nama yang indah dan saya sangat setuju dengan nama itu”


“Ok Nus… sekarang kamu lindungi anak ini, meskipun dia tidak bisa melihat kamu, tetapi dengan tetap membuat anak ini merinding berarti kamu ada bersamanya Nus…”


“Gimama Nus…. kamu kira-kira mau gak?”


“Kenapa saya harus lindungi anak ini pak, bukanya bapaknya punya banyak demit yang siap untuk dijadikan pelindungg anak ini?”


“Bukan begitu Nus Anus…. Bapaknya itu berniat jahat dengan dia….kasihan anak ini.. eh ngomong-ngomong kamu di makam desa kenal dengan yang namanya mbok Painah gak?”


“Saya  tau pak, tapi saya tidak kenal,, karena beliau hantu yang disegani dan dihormati seluruh demit disana”


“Nah asal kamu tau… Suharto ini kan cucu beliau… kalau kamu bisa melindungi cucu dari Painah, maka saya bisa kenalkan kamu ke mbok Painah, agar kamu bisa berguna bagi dia dan cucunya”


“Melindungi disini artinya bukan kamu selalu melakukan apapun untuk dia, tetapi cukup kamu hindarkan dia dari sesuatu yang akan dikirim oleh bapaknya kepada dia… paham kan Nus?”


“Nah kamu Suharto… dengar kan apa yang tadi aku katakan kepada Anus.. eh Andrianus..”


“Jadi kalau kamu merinding, berarti ada dia di sebelahmu dan sapalah dia, namanya Andrianus Abraham”


“Tapi saya tidak bisa melihat dan ajak dia ngobrol pak?” tanya Suharto


“Hehehe belum waktunya To, nanti pada suatu saat ketika si Anus ini sudah bisa menampakan diri, baru kamu bisa ajak dia ngobrol”


“Kasihan si Anus ini… dia butuh teman bicara.. Eh atau gini aja, coba kamu sapa dia, kalau kamu merinding berarti dia membalas sapaanmu”


 “Ayo coba sapa dia To!”


 “Andrianus Abraham.. Nama saya Suharto….” kata Suharto pada sesuatu yang dia tidak bisa melihat


Tidak ada jawaban dari Anus… tapi aku bisa lihat kalau si Andrianus Abraham sedang memegang telinga di Suharto.


Beberapa kali Suharto bergidik karena si Anus memegang telinganya


Suharto sudah pulang, dia pulang bersama dengan si Andrianus Abraham.. Sekarang tinggal aku dan istriku saja yang ada disini.


“Hun… gimana tentang yang dikatakan si Suharto itu?”


“Kenapa ada Mak Nyat Mani.. kenapa dia selalu ada di rumah Marwoto untuk menanyakan tentang harta yang sedang dia cari”


“Kenapa juga Marwoto akan melakukan sesuatu dengan desa ini….”


“Saya juga masih bingung mas… selama ini berarti Mak Nyat Mani mencari sesuatu. Tetapi dia menggunakan orang lain dan masalah seolah oleh terjadi di sini dan di desa sebelah”


“Dan sebenarnya tidak ada masalah sama sekali di kedua desa ini”


“Nah itu Hun… jadi selama ini baik Dimas… anak-anak Sutopo, dan yang lainya itu hanya permainan dari Mak Nyat Mani saja”


“Sepertinya begitu mas.. Termasuk saya juga mas… lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Minta pendapat mbok Painah dulu saja Hun… kita kunjungi makam Painah…”

__ADS_1


“Kapan kita ke makam mbok Painah mas?” Sekarang saja Hun… sekarang saja kita  kesananya…”


Kalau keadaanya seperti ini harusnya sudah gawat, karena  ternyata ada Mak Nyat Mani dibalik apa yang sedang dilakukan oleh Marwoto.


Aku juga takut apabila Ginten diam-diam akan menemui Mak Nyat Mani dan bersedia jadi anak buahnya Mak Nyat Mani seperti dulu itu.


Tapi paling tidak aku dan Ginten harus bicara dengan Paianah dulu, dia harus tau apa yang sedang dilakukan anaknya bersama Mak Nyat Mani…


Malam ini pokoknya aku dan Ginten harus dapat informasi tentang apa yang harus aku dan GInten lakukan dengan Marwoto.


*****


Sepeda kebo ini berjalan agak cepat, melewati beberapa orang yang sedang ada di pos ronda dekat denagn gapuran dan akhirnya kami berdua ada di jalan yang sepi


Jalan pintas yang menghubungkan desa kami dengan desa rumah Ginten… jalan pintas yang kalau malam seperti ini banyak sekali demitnya..


“Mas.. di depan itu ada beberapa hitam-hitam yang sedang menghalangi kita” bisik Ginten yang ada di boncengan


“Iya Hun… tapi aku gak ngurus, kita lewati saja kalau dia bikin masalah dengan kita, maka kita akan lakukan sesuatu dengan mereka”


“Apa mereka itu suruhan Marwoto mas?”


“Gak tau dan gak Ngurus Hun.. pokoknya kita lewati saja mereka, kalau mereka menyerang ya akan kita serang balik saja.. Aku sekarang sedang fokus ke tempat Painah saja”


Ternyata apa yang dikatakan Ginten benar juga, di tengah jalan yang menuju ke arah desa ada beberapa bayangan hitam yang sedang berdiri di tengah jalan.


Aku tau mereka ini pasti suruhan, gak mungkin kalau bukan suruhan… karena mereka niat sekali dengan mencegat kami yang akan lewat.


Jarak ku semakin dekat dengan bayangan hitam yang tetap saja berdiri di tengah jalan, tidak ada niatan mereka untuk minggir ketika kami akan lewat.


“Lewati saja mas… dari tadi juga banyak kunti dan gendruwi yang ada di kebun samping kita ini, tetapi mereka hanya diam saja kan mas”


“Iya Hun, memang dari tadi banyak sekali makhluk aneh di sebelah kanan kita… tetapi yang ini beda Hun… mereka kayak sedang menghadang kita”


“Sudah jalan saja mas… Saya yakin mereka akan minggir begitu melihat kita berdua mas”


Sepeda ini aku genjot agak kencang lagi , aku sudah tidak peduli dengan apa yang menghadang kami, pokoknya mereka menghadang ya jelas akan aku sikat!


Semakin dekat dan semakin dekat kami dengan gerombolan bayangan hitam yang berdiri menghalangi jalan… dan sepertinya mereka memang sengaja menghadang kami yang akan melintas


Tepat beberapa meter di depan mereka, sepeda milik pak Peno ini kuhentikan


“Siapa kalian, apa yang kalian lakukan dengan menghalangi jalan?”


“Lebih baik kalian minggat  saja, atau saya akan ceritakan cerita nabi-nabi”


“Mas.. salah .. kok malah bilang mau cerita nabi-nabi sih mas”


“Eh iya maaf Hun.. hehehe, lalu aku harus bilang apa ke mereka Hun”


“Bilang aja akan mas kencingin mereka kalau mereka tidak minggir dari kita berdua mas”


“Kalau mereka hantu humu gimana Hun.. mereka akan senang lihat kuntilaku Hun, apalagi kalau mereka itu hantu yang suka BDSM… mereka akan suka kalau aku tunjukan kuntilaku Hun…bisa bisa kuntila aku mereka hisap hihihi”

__ADS_1


“Lalu apa yang akan mas Rochman lakukan?”


“Tenang Hun.. salah satu dari mereka pasti akan buka suara.. Karena mereka tidak akan betah ada di sisi kita, energi kita lebih besar dari pada mereka Hun”


Aku tau mereka yang ada disini itu hanya sebatas hantu saja, mereka bukan seperti aku dan Ginten yang dulunya adalah hantu yang menjadi manusia.


Sehingga energi yang ada pada diriku pasti jauh lebih besar dari pada mereka.


“Stoop kalian tidak diperbolehkan lewat sini!” kata salah satu dari mereka


“Kenapa kami tidak boleh lewat sini… memangnya jalan ini jalan mbahmu!”


“Kami diperintahkan seperti itu, kalian berdua harus kembali ke desa sana.. Jangan ke desa tempat bos kami berada”


“Oh bos kamu itu pasti si pengecut Marwoto dan istrinya yang bernama Suparmi kan!.....lebih baik kalian mundur… atau kalian akan kami kirim ke syurga!”


“Tidak ada yang menjawab omonganmu mas, berarti mereka memang nantang mas… ayo kita jalankan sepeda ini lagi mas”


“Iya Hun.. tenang saja… mereka tidak bisa melakukan sesuatu kepada kita”


Kukayuh sepeda ini semakin dekat dengan mereka.. Aku gak tau apa yang terjadi, tetapi mereka perlahan lahan minggir dan memberikan jalan untuk aku dan Ginten..


Beberapa dari mereka malah mengaduh kesakitan ketika sepeda kami melewati mereka.


Aku tau kalau tenagaku dan tenaga Ginten sampai detik ini belum ada yang bisa mengalahkan… bahkan suruhan dari si Marwoto Pun tidak akan bisa membuat  aku dan Ginten kesakitan.


“Hihihi.. Geli ya Hun… ketika lewat mereka rasanya   badanku ini geli sekali”


“Iya mas… itu energi mereka yang mencoba masuk ke tubuh kita, tetapi sayangnya tidak berhasil sama sekali…. Ayo kita cepat ke makam Painah mas”


Aku tau.. Bukaya sombong, tetapi memang banyak makhluk ghaib yang tidak bisa melakukan sesuatu kepada aku dan Ginten, bisa saja karena akibat sesuatu yang diberi oleh Paninah kepada aku dan Ginten.


Sepeda ini kukayuh agak kencang di malam hari menjelang pagi.. Dan akhirnya sampai juga di depan makam umum desa.


“Mas.. sembunyikan dulu sepeda ini, agar tidak ada orang ronda yang melihat keberadaan sepeda ini”


“Iya hunnyku.. Itu disana ada rumah kosong kan… sepeda ini rencananya mau aku taruh di sana dulu Hun.. karena kita mesti hati-hati, jangan sampai ada orang yang akan melihat kita Hun”


Ketika aku dan Ginten sedang menaruh sepeda di sebuah rumah kosong… tiba-tiba mataku tertuju pada seseorang yang sedang berjalan sendirian.


Seseorang itu berjalan dari arah depan atau dari arah gang rumah Marwoto menuju ke arah makam desa.


“Ssstt diam dulu disini Hun.. itu ada yang datang ke makam malam-malam gini”


“Dia tidak sendirian mas.. Lihat yang sedang bersama Marwoto itu… “


“Suparmi…ngapain mereka datang ke sini malam-malam gini Hun…..”


Kedua orang itu masuk ke dalam makam Umum desa…


Mereka pasti akan menemui Painah, tetapi kenapa mereka haru menemui Painah di malam menjelang pagi ini.


“Hun.. perasaanku kita harus ke rumah Marwoto sekarang”

__ADS_1


“Iya mas… kita tadi saya juga kepingin bilang kalau kita harus ke rumah Marwoto..”


__ADS_2