
janc*k… demit kiriman Marwoto makin kurang ajar, mereka ada di atas atap toko….
Aku sebenarnya bisa kirim demit itu ke rumah Marwoto, tapi rugi kalau cuma ngirim begitu saja, kalau bisa aku harus bikin jera Marwoto dan Suparmi
Saat ini mereka harus binasa atau pergi dari sini untuk selamanya, dan aku akan hidup bahagia bersama Hunnyku Ginten.
Mumpung aku masih punya tenaga dan energi untuk mengirim setan itu pulang ke rumah Marwoto dan melakukan sesuatu
Aku kembali ke tempat Hunnyku dan mbak Dany.. mereka berdua sedang diam tanpa melakukan sesuatu.
“Pak Totok habis apa di luar?” tanya mbak Dany
“Eh saya tadi lihat-lihat sekeliling saja mbak. Eh Hun bisa ikut aku sebentar?”
Ginten dan aku keluar dari dalam toko yang separuh pintu nya masih tertutup rapat, kemudian aku ajak dia agak jauh dari toko untuk melihat ke atap toko.
“Lihat itu disana Hun…”
“Wah bener juga mas… nggak cuma satu atau dua demit yang lagi meneteskan liurnya di atas atap toko, tapi kayaknya ada ratusan yang sedang berusaha untuk membuat toko ini sepi mas”
“Eh mas… apa yang akan kamu lakukan sekarang?”
“Aku mau kirim semua demit yang ada di atas itu ke rumah Marwoto dan kemudian masuk ke dalam tubuh Marwoto sehingga dia akan menjadi gila”
“Tapi apa tidak bahaya bagi Suharto mas?”
“Nggak… nggak papa, Suharto kan bersama Andrianus, saya yakin Andrianus akan membantu Suharto”
“Kamu sekarang balik ke mbak Danny aja Hun, kemudian tutup pintu toko….biarkan aku di depan toko ini dan menjinakan mereka semua yang ada di atas atap toko”
Hunnyku balik ke dalam toko, setelah itu dia menutup pintu toko.. Sedangkan aku tetap ada di luar sambil tetap menatap atap toko.
__ADS_1
Semua demit yang ada di atas toko melihat aku dengan beringas.. Merekka yakin bisa mengalahkan aku dengan mudah.. Tapi tentu saja tidak mungkin.
Aku tatap pusat mereka satu persatu. Demit seperti itu mempunyai pusat di bawah leher, pusat itu adalah semacam otak yang tidak ada gunanya, tetapi bagi dukun yang ingin menguasai demit itu, maka pusat yang ada di bawah leher itu sangat penting.
Karena tempat itu merupakan semacam papan nama, nama yang sangat dirahasiakan ghaib bagi manusia, karena sekali manusia mengetahui nama ghaib atau nama asli pemberian dari raja setan, maka ghaib itu akan menjadi budak kita selamanya.
Satu persatu aku batin nama yang sudah aku lihat di dalam pusat tiap demit yang ada… tiap aku lihat nama yang ada di pusat itu kemudian aku batin dan aku lafalkan perlahan-lahan.
Dan ternyata ketika aku batin dan aku sebut perlahan nama mereka, satu persatu dari mereka berubah… mereka tidak beringas lagi seperti semula.. Mereka hanya diam sambil berdiri di atas atap menunggu perintah dari aku.
Satu persatu dari mereka diam dan akhirnya sebelas demit itu sudah ada di dalam kekuasaanku…
Satu persatu dari mereka kemudian turun dan menghampiri aku…mereka menunggu perintah dari aku. Mereka itu demit yang hanya menjalankan perintah saja.
aku cukup membatin saja, aku suruh mereka kembali ke rumah Marwoto, dan kemudian aku suruh mereka untuk meludah, mutah, kencing, buang air besar di rumah Marwoto. Pokoknya semua hal jelek yang bisa dilakukan demit itu akan dilakukan di rumah Marwoto.
Aku juga katakan kepada mereka, setelah mereka melakukan apa yang aku suruh, mereka bebas, mereka bukan lagi suruhanku, atau bawahanku, atau budakku… mereka bebas kembali ke alamnya.
Sekedar informasi Satu demit apabila melakukan kegiatan fullset itu akan membuat pemilik rumah sakit, bayangkan saja ada sebelas demit yang akan melakukan perintah dari aku.
Satu persatu demit suruhanku pergi meninggalkan toko kami, satu persatu mereka pergi ke rumah Marwoto terus terang aku dendam juga dengan Marwoto.
Aku harus selesaikan semuanya hari ini, aku tidak peduli dengan ancaman Marwoto terhadap arwah Painah, aku nggak peduli lagi dengan ancaman orang yang mengaku sebagai Mak Nyat Mani… semua yang ada disini harus selesai saat ini juga.
Setelah selesai dengan apa yang aku lakukan, aku kembali masuk ke dalam toko. Mungkin untuk hari ini toko tidak akan aku buka dulu, karena bekas liur demit masih menempel di atap toko, mungkin besok aku akan buka kembali toko ini.
“Mbak Dani, sepertinya untuk hari ini kita tutup saja toko ini, saya dan istri saya akan selesaikan masalah ini dengan orang yang datang kesini dan melarang kita untuk berjualan disini”
Mbak Dany orangnya enak, dia tidak kecewa atau marah karena hari ini aku tidak perbolehkan membuka toko, kami akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Tetapi aku dan Ginten tidak pulang, kami berdua berboncengan menuju ke rumah Marwoto, sesampai di rumah Marwoto keadaan disana sesuai dengan dugaanku.
__ADS_1
Rumah dia sudah kotor dan berantakan.. Ludah, muntah, bau pesing dari air kencing hingga kotoran dari demit berserakan dan hampir menutupi seluruh rumah dan pekarangan rumah Marwoto.
“Hun… itu pembalasanku” tunjuku pada rumah Marwoto
“Mas… apa nggak teralalu kejam? Apa dia bisa tahan dengan semua itu mas?”
“Nggak lah, dia gak akan tahan, dan apa yang aku lakukan itu tidak kejam.. sesuai dengan yang dia lakukan kepada kita kan”
“Selama ini aku masih lunak, aku nggak mau melakukan hal yang kejam bagi dia, tetapi untuk saat ini aku sudah muak dan capek dengan kelakuan dia, aku harus ambil tindakan yang lebih serius lagi!”
“Mereka tidak akan kuat menahan semua yang ada di rumah itu, satu-satunya jalan adalah pergi dari rumah itu dan mencari tempat tinggal yang lain”
“Apa nggak bisa dibersihkan mas?”
“Hahaha kotoran-kotoran ghaib itu akan sulit untuk dibersihkan, mungkin bisa saja dibersihkan, tetapi semakin lama semua kotoran itu akan meresap ke dalam tembok, tanah, dan semua yang ada di dalam rumah itu, jadi percuma juga kalau mau dibersihkan hahaha”
“Satu-satunya jalan yaitu pergi dari sana, dan membersihkan hati dan diri mereka dahulu Hun…aku sudah muak dengan mereka Hun… mereka harud dihentikan sekarang juga!”
Kotoran ghaib itu benar-benar ngerik, bertumpuk tumpuk sesuai dengan yang aku perintahkan kepada demit-demit suruhanya yang sekarang menjadi suruhanku.
Tetapi setelah mereka melaksanakan tugas yang aku berikan, mereka bisa pergi dan bebas dari aku dan Marwoto, sekarang demit itu satu persatu perdi dari rumah Marwoto dan kembali ke alam dan rumahnya masing-masing
Besok pagi aku akan datangi lagi rumah Marwoto, aku kepingin tau apa yang akan dia lakukan, dan semoga kotoaran-kotoran demit itu juga mengotori tubuh Marwoto dan Suparmi, sehingga mereka juga terpaksa harus bertobat dan tidak melakukan hal yang mengerikan lagi.
“Kita pulang sekarang mas, rasanya kepala saya pusing mas”
“Iya… kita pulang sekarang saja, besok pagi aku mau kesini, aku mau lihat gimana keadaan marwoto, kalau dari sorot matanya dia masih kurang ajar, aku akan lakukan yang lebih mengerikan lagi untuk dia”
Ketika kami berdua akan melewati kuburan mbok Painah, tiba-tiba di tengah jalan ada Painah, dia ada di tengah jalan dan sedang bersama orang yang bernama Mak Nyat Mani..
Kuhentikan sepeda ini tepat beberapa meter di depan mereka… aku nggak tau jam berapa ini, dan apakah tidak ada orang desa yang lewat sini. Tapi yang pasti keadaan disini sangat sepi sekali.
__ADS_1